Dari Radio ke FYP, Begini Wajah Baru Tren Musik dalam Satu Dekade

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 13:02 WIB
Ilustrasi Perubahan Tren Musik dalam Satu Dekade. (AI Generated)
Ilustrasi Perubahan Tren Musik dalam Satu Dekade. (AI Generated)

RADARSOLO.COM - Media sosial telah mengubah banyak hal, termasuk cara orang menikmati musik. Jika sekitar tahun 2016 lagu-lagu populer masih banyak lahir dari radio, televisi, dan promosi label rekaman, kini FYP di TikTok, Instagram Reels, hingga playlist Spotify justru menjadi pintu utama yang mengantarkan sebuah lagu kepada jutaan pendengar.

Perubahan itu tidak hanya menggeser cara orang menemukan lagu baru tetapi turut memengaruhi selera pendengar, strategi musisi dalam berkarya, hingga arah perkembangan industri musik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa teknologi digital membuat tren musik bergerak jauh lebih cepat dibandingkan satu dekade lalu.

Sekitar 10 tahun lalu, keberhasilan sebuah lagu sangat bergantung pada promosi melalui media konvensional. Radio dan televisi menjadi tempat utama masyarakat mengenal lagu baru, sementara label rekaman memiliki peran besar dalam menentukan karya mana yang layak dipasarkan.

Baca Juga: Bukan Cuma Hindia, Baskara Putra Ternyata Punya Tiga Proyek Musik, Apa Bedanya?

Kini, kondisinya berubah. Penelitian Music, Algorithms, and Popularity: How TikTok Trends Act as a Catalyst (2025) menjelaskan bahwa algoritma media sosial memiliki pengaruh besar terhadap popularitas sebuah lagu. Potongan audio berdurasi belasan detik yang digunakan dalam video pendek, tantangan menari, atau meme mampu membuat lagu yang sebelumnya kurang dikenal mendadak menjadi hit.

Cara masyarakat memilih musik juga mengalami perubahan. Jika dulu banyak orang mengidentifikasi diri sebagai penikmat satu genre tertentu, seperti pop, rock, indie, atau EDM, sekarang pendengar lebih sering memilih lagu berdasarkan suasana hati maupun aktivitas yang sedang dilakukan.

Penelitian Genrefluid: Spotify Playlists and Mediations of Genre and Identity in Music Streaming (2023) menunjukkan bahwa playlist bertema "belajar", "healing", "olahraga", atau "galau" semakin diminati dibandingkan playlist yang hanya berisi satu genre. Pergeseran tersebut membuat batas antar-genre semakin kabur.

Dampaknya terlihat dari karya-karya musisi masa kini. Tidak sedikit lagu yang memadukan unsur pop, hip-hop, R&B, elektronik, hingga instrumen tradisional dalam satu aransemen. Perpaduan berbagai elemen tersebut membuat musik modern terdengar lebih beragam dibandingkan satu dekade lalu.

Baca Juga: Musik Indie Itu Genre atau Bukan? Ternyata Banyak Orang Masih Keliru

Karakter lagu yang digemari masyarakat pun ikut berubah. Pada 2016, musik EDM (Electronic Dance Music) sedang berada di puncak popularitas. Lagu-lagu dengan tempo cepat dan dentuman elektronik mendominasi festival musik maupun tangga lagu internasional.

Saat ini, pendengar justru lebih banyak mencari lagu yang terdengar lebih tenang, personal, dan emosional. Genre seperti bedroom pop, indie folk, hingga lo-fi semakin diminati karena dianggap mampu menemani aktivitas sehari-hari sekaligus menghadirkan kedekatan secara emosional. Penelitian mengenai evolusi musik populer juga menunjukkan bahwa lagu-lagu yang populer saat ini cenderung memiliki lirik yang lebih personal dibandingkan era sebelumnya.

Perubahan selera tersebut berjalan beriringan dengan bergesernya kebiasaan mendengarkan musik. Survei Edison Research mencatat sebanyak 86 persen Generasi Z menggunakan layanan streaming sebagai cara untuk menjaga suasana hati. Musik kini tidak lagi sekadar menjadi hiburan, tetapi juga dimanfaatkan untuk menemani belajar, bekerja, beristirahat, hingga membantu mengurangi stres.

Perubahan perilaku pendengar ikut memengaruhi cara musisi menyusun lagu. Jika sekitar tahun 2016 rata-rata lagu populer berdurasi sekitar 4 menit 10 detik, kini rata-ratanya hanya sekitar 2 menit 35 detik. Dalam kurun waktu satu dekade, durasi lagu populer menyusut hampir satu setengah menit.

Ada beberapa faktor yang mendorong perubahan tersebut. Platform streaming menghitung satu kali pemutaran setelah lagu diputar selama sekitar 30 detik sehingga lagu berdurasi lebih pendek dinilai lebih efisien. Di saat yang sama, kebiasaan mengonsumsi video pendek membuat rentang perhatian pendengar semakin singkat. Akibatnya, banyak produser menempatkan bagian paling menarik atau hook pada beberapa detik pertama agar lagu tidak langsung dilewati.

Lagu dengan durasi yang lebih pendek juga lebih mudah diputar berulang kali. Strategi ini membantu meningkatkan jumlah streaming sekaligus memperbesar peluang sebuah lagu masuk ke playlist populer maupun tangga lagu digital.

Baca Juga: Selain "Story of My Life", Ini Lagu-Lagu One Direction yang Sering Terlewat tetapi Punya Makna Mendalam

Perubahan besar lainnya terlihat dari posisi pendengar. Jika dahulu masyarakat hanya menikmati lagu yang dipilihkan radio atau televisi, kini mereka ikut menentukan lagu mana yang akan menjadi populer. Potongan lagu dapat diubah menjadi video TikTok, versi sped up, remix, atau berbagai tren lain yang menyebar secara organik di media sosial.

Di Indonesia, perubahan tersebut juga tercermin dari meningkatnya apresiasi terhadap musik lokal. Data Spotify menunjukkan bahwa sekitar 78 hingga 80 persen musik yang didengarkan masyarakat Indonesia berasal dari musisi lokal. Angka ini memperlihatkan bahwa karya dalam negeri semakin mampu bersaing di tengah derasnya arus musik global.

Genre seperti pop Jawa, dangdut koplo, hingga dangdut ambyar juga semakin diterima oleh berbagai kalangan. Musik yang dahulu lebih identik dengan kelompok pendengar tertentu kini berhasil menembus festival musik, konser besar, hingga tangga lagu digital nasional.

Perkembangan teknologi tidak hanya mengubah cara lagu dipasarkan tetapi juga proses pembuatannya. Kecerdasan buatan (AI) mulai dimanfaatkan untuk membantu menyusun aransemen, mencari inspirasi melodi, hingga mempercepat proses produksi. Meski begitu, kreativitas musisi tetap menjadi unsur utama yang menentukan karakter dan identitas sebuah lagu.

Perjalanan industri musik selama satu dekade terakhir menunjukkan bahwa teknologi telah mengubah hampir seluruh rantai ekosistem musik, mulai dari proses produksi, promosi, hingga cara pendengar menikmati sebuah lagu. Jika dahulu radio menjadi gerbang utama menuju popularitas, kini satu potongan audio yang muncul di FYP sudah cukup untuk membawa sebuah lagu didengar jutaan orang di berbagai belahan dunia.

Perubahan itu juga menegaskan bahwa pendengar tidak lagi sekadar menjadi penikmat musik. Di era digital, mereka ikut membentuk tren, menentukan lagu yang viral, bahkan memengaruhi arah perkembangan industri musik itu sendiri.

 

Editor : Kabun Triyatno
streaming musik tren perubahan spotify