RADARSOLO.COM - "Jangan bilang siapa-siapa ya, sebenarnya aku suka lagu ini."
Kalimat seperti itu mungkin pernah terlontar ketika seseorang memutar lagu yang dianggap "tidak sesuai selera", entah itu lagu pop melayu, dangdut koplo, lagu anak-anak, hingga lagu-lagu lawas yang sering dicap terlalu pasaran. Meski diam-diam dinikmati, tidak sedikit orang yang memilih menyembunyikan kesukaannya karena khawatir mendapat komentar negatif dari orang lain.
Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai guilty pleasure. Istilah tersebut merujuk pada sesuatu yang memberikan kesenangan secara pribadi, tetapi membuat seseorang merasa sedikit bersalah atau malu untuk mengakuinya karena takut dinilai oleh lingkungan sekitar.
Menariknya, rasa malu itu ternyata bukan muncul karena lagunya benar-benar buruk. Penelitian berjudul "Guilty Pleasures": The Relation Between Song Liking, Aesthetic Judgement, and Shaming in Music Consumption yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology (2019) menunjukkan bahwa otak manusia mampu memisahkan penilaian terhadap kualitas musik dengan respons emosional yang dirasakan saat mendengarkannya.
Baca Juga: Musik Indie Itu Genre atau Bukan? Ternyata Banyak Orang Masih Keliru
Sederhananya, seseorang bisa saja menganggap sebuah lagu memiliki lirik yang sederhana atau bahkan terdengar klise. Di saat yang sama, lagu tersebut tetap mampu membangkitkan rasa senang, nyaman, atau nostalgia. Menurut penelitian tersebut, rasa "bersalah" justru lebih banyak dipengaruhi oleh faktor sosial, yakni kekhawatiran akan diejek atau dihakimi karena selera musik yang dimiliki.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Baca Juga: Hard Rock dan Metal Sering Dianggap Sama, Padahal Punya Banyak Perbedaan
Jawabannya dapat dijelaskan melalui teori sosiologi dari Pierre Bourdieu dalam Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Bourdieu menjelaskan bahwa selera, termasuk selera musik, sering kali menjadi bagian dari cultural capital atau modal budaya. Tanpa disadari, musik yang didengarkan dapat membentuk citra seseorang di mata orang lain.
Tidak heran jika masih ada orang yang merasa lebih percaya diri mengaku menyukai musik jazz, indie, atau klasik dibandingkan mengakui bahwa mereka menikmati lagu dangdut koplo, pop melayu, atau lagu-lagu yang dianggap "terlalu pasaran". Bukan karena salah satu genre lebih baik daripada yang lain, melainkan karena adanya anggapan sosial yang melekat pada genre-genre tersebut.
Baca Juga: Dari Radio ke FYP, Begini Wajah Baru Tren Musik dalam Satu Dekade
Kini, pandangan itu mulai berubah seiring berkembangnya media sosial.
Jika beberapa tahun lalu orang cenderung menyembunyikan guilty pleasurenya, kini banyak pengguna TikTok, Instagram, hingga X justru dengan bangga membagikan playlist bertajuk my guilty pleasure songs atau mengunggah lagu-lagu yang dulu dianggap "malu-maluin". Tak sedikit pula konten yang memperlihatkan seseorang bernyanyi dengan penuh percaya diri menggunakan lagu yang sebelumnya sering dijadikan bahan candaan.
Perubahan ini juga dijelaskan dalam studi budaya digital The Irony of Pop: How Social Media Turns Camp and Cringe into Cool (2024). Penelitian tersebut menemukan bahwa media sosial mampu mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap cringe atau "norak" menjadi sesuatu yang justru diterima bahkan dirayakan bersama. Algoritma video pendek membuat jutaan orang menggunakan lagu yang sama untuk membuat konten, sehingga rasa malu perlahan berganti menjadi rasa kebersamaan.
Selain media sosial, layanan streaming juga ikut mengubah cara orang menikmati musik. Beragam playlist yang dibuat berdasarkan suasana hati, seperti happy, healing, workout, atau throwback, membuat pendengar semakin jarang membatasi diri pada satu genre tertentu. Fokusnya bukan lagi pada citra yang ingin ditampilkan, melainkan pada lagu yang mampu menemani aktivitas atau mewakili perasaan mereka.
Editor : Kabun Triyatno