RADARSOLO.COM – Bayangkan seseorang mengirim tiga emoji ini kepada Anda: 👧🍎🍽️. Mungkin sebagian orang akan menafsirkannya sebagai "anak perempuan sedang makan apel". Namun, bagaimana jika urutannya diubah menjadi 🍽️🍎👧 atau 🍎👧🍽️? Apakah maknanya masih sama?
Kemungkinan besar jawabannya berbeda-beda. Ada yang menganggap urutan emoji tersebut tetap memiliki arti yang sama, ada pula yang justru bingung harus memaknainya seperti apa.
Fenomena ini menunjukkan satu hal menarik: meski sering disebut sebagai "bahasa emoji", emoji sebenarnya tidak memiliki tata bahasa seperti bahasa yang kita gunakan sehari-hari.
Baca Juga: Dulu Bermakna Biasa, Kini Jadi Bahasa Gaul, Begini Perjalanan Makna Sebuah Kata
Dalam bahasa Indonesia, urutan kata sangat menentukan makna. Kalimat "Adik makan apel" tentu berbeda dengan "Apel makan adik".
Perubahan posisi kata membuat arti kalimat berubah, bahkan bisa menjadi tidak masuk akal. Hal itu terjadi karena bahasa memiliki aturan tata bahasa atau sintaksis yang mengatur hubungan antarkata dalam sebuah kalimat.
Aturan semacam itu tidak dimiliki oleh emoji.
Emoji memang dapat menyampaikan ide, benda, atau emosi secara cepat. Namun, hingga saat ini tidak ada aturan internasional yang mengatur bagaimana emoji harus disusun agar menghasilkan makna tertentu. Seseorang bebas menempatkan emoji di awal, tengah, atau akhir pesan sesuai keinginannya.
Akibatnya, makna rangkaian emoji sangat bergantung pada konteks dan penafsiran pembaca. Sebagai contoh, urutan ❤️😊 dapat dipahami sebagai ungkapan kasih sayang yang disampaikan dengan gembira.
Baca Juga: AI Bisa Menjawab Apa Saja, Tapi Kenapa Kita Jadi Jarang Berpikir?
Namun, jika diubah menjadi 😊❤️, sebagian orang mungkin merasa maknanya tetap sama, sementara yang lain menganggap nuansanya sedikit berbeda. Tidak ada aturan baku yang menentukan mana yang benar.
Hal ini berbeda dengan bahasa lisan maupun tulisan yang memiliki kaidah yang disepakati bersama. Dalam bahasa, penutur dapat menyusun kalimat yang panjang karena ada aturan mengenai subjek, predikat, objek, maupun keterangan. Tanpa aturan tersebut, komunikasi akan lebih sulit dipahami.
Menurut ahli semiotika Marcel Danesi dalam bukunya The Semiotics of Emoji, emoji lebih tepat dipahami sebagai sistem komunikasi visual daripada bahasa yang berdiri sendiri. Emoji mampu memperkuat atau melengkapi pesan, tetapi belum memiliki struktur gramatikal yang memungkinkan orang menyampaikan gagasan kompleks hanya melalui rangkaian simbol.
Pandangan serupa juga disampaikan linguis Gretchen McCulloch dalam Because Internet. Ia menjelaskan bahwa emoji berfungsi seperti ekspresi wajah atau gerakan tubuh dalam percakapan langsung. Kehadirannya membantu menjelaskan nada bicara, menunjukkan emosi, atau memberi penekanan pada pesan. Namun, emoji tidak menggantikan fungsi kata-kata yang menyusun sebuah kalimat.
Karena itulah, sebagian besar orang tetap menggunakan emoji berdampingan dengan teks. Misalnya, kalimat "Selamat ya! 🎉" terasa lebih hidup dibandingkan hanya mengirim 🎉 saja.
Tanpa kata-kata, penerima pesan mungkin masih bisa menebak maksudnya, tetapi tidak selalu memahami konteks secara utuh.
Menariknya, beberapa orang memang pernah mencoba berkomunikasi hanya menggunakan emoji. Bahkan, ada teka-teki, kuis, hingga cerita pendek yang seluruhnya disusun dari simbol-simbol tersebut.
Meski terlihat kreatif, keberhasilannya tetap bergantung pada kesamaan pengalaman dan pengetahuan antara pengirim dan penerima. Semakin rumit pesan yang ingin disampaikan, semakin besar pula kemungkinan terjadi perbedaan penafsiran.
Itulah sebabnya para ahli bahasa umumnya belum menganggap emoji sebagai bahasa yang utuh. Emoji memang memiliki makna dan mampu membantu komunikasi, tetapi belum mempunyai sistem tata bahasa yang mengatur bagaimana simbol-simbol itu disusun menjadi kalimat yang dapat dipahami secara konsisten oleh semua orang.
Jadi, meski sehari-hari kita sering "berbicara" menggunakan emoji, simbol-simbol kecil itu sebenarnya lebih berperan sebagai pelengkap bahasa. Tanpa aturan seperti SPOK yang dimiliki bahasa alami, emoji tetap menjadi pendamping komunikasi, bukan pengganti kata-kata.
Editor : Kabun Triyatno