Krisis Ruh Perkerisan Nusantara: Saat Tata Laku Empu di Besalen Mulai Ditinggalkan

Tri wahyu Cahyono • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:05 WIB
Empu masuk ke lubang besalen saat proses penempaan untuk membuat keris. (ISTIMEWA)
Empu masuk ke lubang besalen saat proses penempaan untuk membuat keris. (ISTIMEWA)

Oleh: Ady Sulistyono D, SSos*)

RADARSOLO.COM - Menjadi sebuah keprihatinan apabila pada masa kini masih ada empu (mpu) pande yang tidak lagi menjalankan tata laku simbolis.

Yaitu di saat menempa masuk ke lobang dilantai besalen.

Tentu setiap orang memiliki cara dan pandangan masing-masing dalam berkarya.

Namun, hilangnya unsur-unsur filosofis yang diwariskan leluhur berpotensi mengurangi kedalaman makna tradisi perkerisan itu sendiri.

Baca Juga: Fungsi Lubang Lantai Besalen: Ragam Simbol Kosmologis dalam Tradisi Tempa Keris Nusantara

Jika yang diwariskan hanya bentuk fisik keris, sementara nilai, simbol, dan ruh penciptaannya perlahan ditinggalkan, maka generasi mendatang akan mengenal keris hanya sebagai benda budaya.

Bukan sebagai pusaka yang mengandung ajaran kebijaksanaan.

Karena itu, pelestarian perkerisan seyogianya mencakup tidak hanya bentuknya.

Tetapi juga makna simbolis-filosofis yang menyertainya sejak awal proses penciptaan.

Dalam tradisi perkerisan Nusantara, keris dipahami bukan sekadar sebagai hasil keterampilan menempa logam.

Melainkan sebagai "simbol doa dan pengharapan manusia kepada Tuhan Yang Maha Pencipta" .

Sebab itu, setiap tahapan penciptaannya mengandung tata laku yang sarat makna simbolis-filosofis.

Tata laku tersebut bukan sekadar adat atau kebiasaan, tetapi merupakan media pembentukan kesadaran batin agar proses penciptaan berlangsung dengan niat yang lurus, penuh penghormatan, dan dilandasi nilai-nilai kebajikan.

Dalam perspektif ini, tata cara penciptaan keris dapat dipahami sebanding dengan tata cara beribadah dalam agama.

Setiap agama memiliki aturan, etika, dan ritual yang dijalankan sebagai jalan untuk memanjatkan doa kepada Tuhan.

Baca Juga: Keris sebagai Sarana Meditasi di Era Modern, seperti apa?

Demikian pula dalam tradisi perkerisan, setiap simbol dan laku di besalen merupakan bagian dari "bahasa doa" yang mengiringi lahirnya sebilah keris.

Bukan semata-mata karena gerak lahiriah itu sendiri, melainkan karena melalui tata laku tersebut, niat, kesungguhan, dan kesadaran spiritual diwujudkan secara nyata.

Atas dasar itulah, pelestarian keris tidak seharusnya berhenti pada pelestarian bentuk, teknik tempa, atau keindahan bilah semata.

Yang tidak kalah penting adalah menjaga tata laku dan makna simbolis-filosofis yang menyertainya sejak awal proses penciptaan.

Apabila unsur-unsur tersebut perlahan ditinggalkan, maka yang tersisa hanyalah warisan bendawi.

Sementara ruh, doa, dan ajaran luhur yang menjadi inti tradisi perkerisan akan semakin memudar.

Dengan demikian, pelestarian keris yang utuh adalah pelestarian bentuk sekaligus pelestarian makna.

Sebab keris tidak hanya mewariskan karya seni, tetapi juga mewariskan cara manusia Nusantara memaknai hubungan antara manusia, alam semesta, dan Tuhan Yang Maha Pencipta. (wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
besalen mpu tata laku keris empu