Makna Simbolis-Filosofis Empu atau Mpu Pande Masuk ke Dalam Lubang Lantai Besalen saat Proses Pembuatan Keris

Tri wahyu Cahyono • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:28 WIB
Empu atau mpu masuk lubang besalen dalam proses menempa pembuatan bilah keris. (TANGKAPAN LAYAR TIKTOK SANGGAR KERIS MATARAM)
Empu atau mpu masuk lubang lantai besalen dalam proses menempa pembuatan bilah keris. (TANGKAPAN LAYAR TIKTOK SANGGAR KERIS MATARAM)

Oleh:  Oleh: Ady Sulistyono D, SSos*)

RADARSOLO.COM - Salah satu tata laku yang sarat makna dalam tradisi perkerisan Nusantara adalah ketika empu atau mpu pande dan/atau panjak memasuki lubang di lantai besalen saat proses penempaan bilah keris.

Tata laku ini bukan sekadar pengaturan posisi kerja, melainkan simbol yang mengandung ajaran kosmologis dan spiritual yang sangat mendalam.

Secara simbolis, mpu pande dan/atau panjak yang berada di dalam lubang melambangkan Lingga, sedangkan bumi tempat mereka berpijak melambangkan Yoni.

Dalam pemahaman tradisi perkerisan, Lingga–Yoni bukan dimaknai sebagai simbol biologis.

Baca Juga: Krisis Ruh Perkerisan Nusantara: Saat Tata Laku Empu di Besalen Mulai Ditinggalkan

Melainkan sebagai lambang sakral kesatuan tiga Daya Kuasa Tuhan Yang Maha Pencipta, yaitu mencipta, memelihara, dan melebur.

Tiga daya inilah yang menjadi prinsip dasar berlangsungnya kehidupan di alam semesta.

Ketika mpu pande mulai menempa bilah keris, pada hakikatnya ia sedang melakukan pekerjaan yang dalam lingkup manusia, mencerminkan ketiga daya tersebut.

Ia mencipta dengan membentuk logam menjadi sebilah keris; ia memelihara dengan mengatur, menyempurnakan, dan menjaga kualitas setiap tahapan penempaan.

Dan ia melebur dengan memanaskan, menyatukan, serta mengubah logam agar lahir dalam wujud yang baru.

Baca Juga: Bukan Sekadar Proses Pengerasan Logam, Ini Filosofi Mendalam Penyepuhan Keris

Apa yang dilakukan mpu pande bukanlah menyamai pekerjaan Tuhan.

Melainkan menjadi simbol bahwa manusia, sebagai ciptaan-Nya, meneladani hukum-hukum penciptaan yang telah ditetapkan oleh-Nya dalam ruang lingkup yang terbatas.

Oleh karena itu, memasuki lubang di lantai besalen merupakan pengingat bahwa seorang mpu tidak sekadar bekerja sebagai pandai besi, tetapi menjalankan sebuah laku spiritual dengan penuh kerendahan hati.

Ia menyadari bahwa kemampuan mencipta, memelihara, dan melebur yang diwujudkan melalui proses penempaan hanyalah pantulan kecil dari Daya Kuasa Tuhan Yang Maha Pencipta.

Baca Juga: Kegelisahan Empu Keris Asal Palur Karanganyar: Belum Ada Sosok Pengganti

Dengan pemahaman tersebut, penempaan keris tidak lagi dipandang hanya sebagai proses teknis metalurgi.

Tapi sebagai proses yang menyatukan keterampilan, doa, kesadaran, dan penghormatan kepada Tuhan.

Inilah sebabnya tata laku simbolis seperti memasuki lubang di lantai besalen memiliki nilai yang sangat penting untuk dilestarikan.

Sebab yang diwariskan oleh para leluhur bukan hanya teknik menempa bilah keris, melainkan juga cara memaknai setiap proses penciptaannya sebagai laku yang sarat nilai-nilai ketuhanan. (wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
besalen mpu lubang besalen keris empu