Apa Itu Doomscrolling? Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Menguras Kesehatan Mental

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 20:39 WIB
Ilustrasi Seseorang Mengalami Doomscroling karena Mengonsumsi Berita Buruk di Media Sosial. (AI Generated)
Ilustrasi Seseorang Mengalami Doomscroling karena Mengonsumsi Berita Negatif di Media Sosial. (AI Generated)

RADARSOLO.COM - 

Pernah berniat membuka media sosial hanya lima menit tetapi tanpa sadar malah menghabiskan waktu berjam-jam membaca berita buruk, menonton video yang membuat cemas, atau terus menggulir lini masa tanpa henti? Jika pernah mengalaminya, bisa jadi kamu sedang melakukan doomscrolling.

Istilah doomscrolling berasal dari gabungan kata doom yang berarti malapetaka atau kehancuran dan scrolling yang berarti menggulir layar. Secara sederhana, doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi negatif di media sosial, situs berita, atau platform digital, meskipun informasi tersebut justru membuat seseorang merasa cemas, sedih, atau stres.

Algoritma media sosial terus menyajikan konten yang dianggap menarik perhatian pengguna, termasuk berita kriminal, konflik, bencana, hingga isu-isu yang memicu emosi. Akibatnya, seseorang bisa terjebak dalam lingkaran membaca kabar buruk tanpa benar-benar berniat melakukannya.

Baca Juga: Sama-Sama Terasa Melelahkan, Ini Perbedaan Overwhelmed dan Overstimulated yang Sering Tertukar

Lalu, mengapa kita tetap melakukannya meski tahu itu membuat perasaan tidak nyaman?

Salah satu alasannya adalah otak manusia secara alami lebih peka terhadap informasi negatif. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai negativity bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan dan mengingat pengalaman atau informasi yang bernada buruk dibandingkan yang positif. Dari sudut pandang evolusi, kemampuan ini membantu manusia lebih waspada terhadap ancaman. Namun, di era media sosial, kecenderungan tersebut justru membuat kita sulit berhenti membaca kabar yang memicu kecemasan.

Selain itu, banyak orang merasa harus selalu mengetahui perkembangan terbaru agar tidak ketinggalan informasi atau fear of missing out (FOMO). Keinginan untuk terus mengikuti berita membuat seseorang terus menggulir layar dengan harapan menemukan kabar yang lebih baik. Sayangnya, yang muncul justru semakin banyak informasi negatif.

Jika dilakukan sesekali, tentu bukan masalah. Namun, doomscrolling yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan mental. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan berkepanjangan terhadap berita negatif dapat meningkatkan stres, kecemasan, suasana hati yang buruk, bahkan membuat seseorang merasa dunia jauh lebih berbahaya daripada kenyataannya. Tidak sedikit pula yang akhirnya mengalami kesulitan berkonsentrasi, sulit tidur, hingga merasa kelelahan secara emosional setelah terlalu lama menatap layar.

Baca Juga: Pernah Tiba-Tiba Yakin Sesuatu? Ternyata Itu Disebut Intuitive Thought

Ada beberapa tanda yang bisa menunjukkan bahwa seseorang mulai terjebak dalam doomscrolling. Misalnya, sulit berhenti membuka media sosial meski sudah merasa lelah, terus mencari berita terbaru tentang suatu peristiwa yang membuat cemas, atau menyadari suasana hati menjadi lebih buruk setelah berselancar di internet.

Kebiasaan ini bisa dikurangi dengan beberapa langkah sederhana. Salah satunya adalah membatasi waktu penggunaan media sosial menggunakan fitur screen time atau pengingat waktu di ponsel. Kamu juga bisa menentukan jam tertentu untuk membaca berita, misalnya hanya pada pagi atau sore hari, sehingga tidak terus-menerus terpapar informasi negatif sepanjang hari.

Selain itu, cobalah menyeimbangkan konsumsi konten dengan mengikuti akun yang memberikan informasi edukatif, inspiratif, atau hiburan yang sehat. Saat mulai merasa cemas setelah melihat media sosial, tidak ada salahnya menutup aplikasi sejenak dan melakukan aktivitas lain, seperti berjalan kaki, membaca buku, mendengarkan musik, atau mengobrol dengan orang terdekat.

Media sosial memang menjadi sumber informasi yang cepat dan mudah diakses. Namun, menjaga kesehatan mental juga sama pentingnya dengan tetap mengikuti perkembangan berita. Jadi, jika belakangan ini kamu merasa lelah setelah terlalu lama menggulir media sosial, mungkin bukan karena kurang istirahat, melainkan karena tanpa sadar sedang terjebak dalam kebiasaan doomscrolling.

 

Editor : Kabun Triyatno
doomscrolling negatif media sosial berita stres