Mengenal Lucky Girl Syndrome, Tren yang Disebut Bisa Mengubah Cara Pandang Hidup

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 17:03 WIB
Tak sekadar kebetulan, fenomena lucky girl syndrome ternyata berkaitan dengan self-fulfilling prophecy. Gambar: Pinterest.
Tak sekadar kebetulan, fenomena lucky girl syndrome ternyata berkaitan dengan self-fulfilling prophecy. Gambar: Pinterest.

RADARSOLO.COM – Belakangan ini, media sosial ramai dengan istilah lucky girl syndrome. Melalui berbagai unggahan di TikTok, banyak kreator membagikan pengalaman mereka yang merasa lebih mudah memperoleh kesempatan, mulai dari lolos pekerjaan, mendapatkan nilai baik, hingga bertemu orang-orang yang dianggap membawa keberuntungan.

Kuncinya, menurut mereka, adalah meyakini bahwa hal-hal baik akan datang.

Tren ini pun mengundang rasa penasaran. Benarkah hanya dengan berpikir positif seseorang bisa menjadi lebih beruntung?

Baca Juga: Emoji Juga Punya Tren, Lho! Kok Ada yang Mendadak Dipakai Semua Orang?

Istilah lucky girl syndrome mulai populer di TikTok sekitar akhir 2022. Konsepnya sederhana, yaitu membangun keyakinan melalui afirmasi positif, seperti "Aku selalu mendapatkan kesempatan terbaik" atau "Hal-hal baik selalu datang kepadaku."

Banyak pengguna media sosial percaya bahwa dengan terus mengulang afirmasi tersebut, mereka akan lebih mudah menarik pengalaman positif dalam hidup.

Meski terdengar seperti konsep baru, gagasan di balik lucky girl syndrome sebenarnya memiliki kaitan dengan sejumlah teori dalam psikologi. Salah satunya adalah self-fulfilling prophecy, yaitu kondisi ketika keyakinan seseorang terhadap suatu hal secara tidak langsung memengaruhi perilakunya hingga keyakinan tersebut menjadi kenyataan.

Baca Juga: Kalau Emoji Jadi Bahasa, Harus Punya SPOK Dong? Ternyata Ini yang Membuatnya Berbeda

Sebagai contoh, seseorang yang yakin dirinya mampu menghadapi wawancara kerja cenderung mempersiapkan diri lebih baik, berbicara lebih percaya diri, dan berani mencoba berbagai peluang.

Sikap tersebut dapat meningkatkan peluang keberhasilannya. Dengan kata lain, yang berpengaruh bukan semata-mata afirmasi yang diucapkan, melainkan perubahan perilaku yang muncul setelahnya.

Konsep lain yang juga sering dikaitkan dengan tren ini adalah growth mindset, yaitu pola pikir yang meyakini bahwa kemampuan dapat terus berkembang melalui proses belajar, latihan, dan usaha.

Baca Juga: Dulu Bermakna Biasa, Kini Jadi Bahasa Gaul, Begini Perjalanan Makna Sebuah Kata

Orang dengan pola pikir ini biasanya lebih berani menghadapi tantangan karena menganggap kegagalan sebagai bagian dari proses, bukan akhir dari segalanya. Sikap seperti inilah yang sering kali membuka lebih banyak kesempatan dibandingkan jika seseorang langsung menyerah sebelum mencoba.

Namun, para psikolog juga mengingatkan bahwa berpikir positif memiliki batas. Terlalu yakin bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai harapan tanpa diimbangi tindakan nyata justru dapat menimbulkan optimistic bias, yaitu kecenderungan merasa bahwa hasil baik pasti akan datang kepada diri sendiri, sementara risiko atau kemungkinan gagal dianggap kecil. Akibatnya, seseorang bisa saja menjadi kurang siap menghadapi kenyataan ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan.

Karena itu, lucky girl syndrome sebaiknya tidak dipahami sebagai cara instan untuk memperoleh keberuntungan. Afirmasi positif memang dapat membantu membangun rasa percaya diri, mengurangi keraguan, dan membuat seseorang lebih berani mengambil peluang. Akan tetapi, keberhasilan tetap membutuhkan langkah nyata, seperti belajar, mempersiapkan diri, bekerja dengan konsisten, dan terus mengevaluasi diri.

Di sisi lain, tren ini juga menunjukkan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan mental dan pentingnya memiliki pola pikir yang lebih optimistis.

Di tengah rutinitas yang padat dan berbagai tekanan sehari-hari, banyak orang merasa afirmasi positif membantu mereka memulai hari dengan perasaan yang lebih tenang dan penuh harapan. Selama dilakukan secara realistis, kebiasaan tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga motivasi.

Pada akhirnya, keberuntungan tidak selalu datang begitu saja. Berpikir positif memang dapat membantu seseorang melihat peluang, mengambil keputusan dengan lebih percaya diri, dan bertahan ketika menghadapi tantangan.

Namun, peluang tersebut baru akan memberikan hasil apabila diiringi dengan usaha, keterampilan, dan tindakan yang nyata. Jadi, jika ingin menjadi "lucky", mungkin yang paling penting bukan sekadar meyakinkan diri bahwa keberuntungan akan datang, melainkan memastikan diri siap ketika kesempatan itu benar-benar muncul.

Editor : Kabun Triyatno
lucky girl syndrome growth mindset optimistic bias afirmasi tiktok