Merasa Tidak Pantas Meski Berprestasi? Ini Penyebab Impostor Syndrome yang Jarang Disadari

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 13:01 WIB
Impostor Syndrome, Merasa Dirinya Tidak Pantas Atas Pencapaian yang Telah Diraih. (Gambar: Pinterest)
Impostor Syndrome, Merasa Dirinya Tidak Pantas Atas Pencapaian yang Telah Diraih. (Gambar: Pinterest)

RADARSOLO.COM - Berhasil mendapat nilai tinggi, diterima di kampus impian, atau bahkan mendapat promosi di tempat kerja tetapi justru merasa semua itu hanya karena keberuntungan? Kamu takut suatu hari orang lain akan sadar bahwa sebenarnya kamu "nggak sepintar itu". Jika pernah mengalaminya, bisa jadi kamu sedang merasakan impostor syndrome.

Impostor syndrome adalah kondisi psikologis ketika seseorang merasa dirinya tidak pantas atas pencapaian yang telah diraih. Meski memiliki kemampuan dan bukti keberhasilan yang nyata, mereka tetap menganggap kesuksesan tersebut terjadi karena faktor lain, seperti keberuntungan, bantuan orang lain, atau kebetulan. Akibatnya, muncul rasa takut akan "terbongkar" sebagai seseorang yang sebenarnya tidak kompeten. Perasaan ini bukan termasuk gangguan mental, tetapi dapat memengaruhi kepercayaan diri, performa, bahkan kesehatan mental jika terus berlanjut.

Lalu, apa yang sebenarnya menyebabkan impostor syndrome?

Baca Juga: Apa Itu Doomscrolling? Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Menguras Kesehatan Mental

Salah satu penyebab paling umum adalah perfeksionisme. Orang yang menetapkan standar terlalu tinggi pada dirinya sendiri sering kali merasa hasil yang dicapai belum cukup baik. Mereka lebih fokus pada kekurangan daripada keberhasilan. Bahkan ketika berhasil, mereka tetap berpikir bahwa hasilnya masih belum sempurna.

Selain itu, lingkungan yang kompetitif juga dapat memicu impostor syndrome. Ketika berada di kampus, tempat kerja, atau komunitas yang dipenuhi orang-orang berprestasi, seseorang lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka akhirnya merasa menjadi orang yang "paling tidak layak" berada di lingkungan tersebut. Padahal, setiap orang memiliki proses belajar dan kemampuan yang berbeda.

Faktor lain yang tak kalah berpengaruh adalah pola asuh sejak kecil. Anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan tuntutan tinggi atau sering mendapatkan kritik berlebihan dapat terbiasa merasa dirinya tidak pernah cukup baik. Sebaliknya, anak yang selalu dipuji sebagai "pintar" atau "jenius" juga bisa mengalami tekanan ketika suatu saat menghadapi kegagalan. Mereka mulai meragukan identitas yang selama ini melekat pada dirinya.

Baca Juga: Sama-Sama Terasa Melelahkan, Ini Perbedaan Overwhelmed dan Overstimulated yang Sering Tertukar

Impostor syndrome juga sering muncul ketika seseorang sedang menghadapi fase baru dalam hidup, misalnya baru masuk kuliah, memulai pekerjaan pertama, mendapat promosi, atau mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Perubahan tersebut membuat seseorang keluar dari zona nyaman sehingga rasa tidak yakin terhadap kemampuan diri menjadi lebih mudah muncul.

Di era media sosial, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain juga menjadi pemicu yang semakin sering terjadi. Kita cenderung hanya melihat pencapaian terbaik orang lain tanpa mengetahui perjuangan, kegagalan, atau proses yang mereka lalui. Akibatnya, muncul anggapan bahwa diri sendiri selalu tertinggal dan tidak cukup hebat.

Menariknya, impostor syndrome justru banyak dialami oleh orang-orang yang berprestasi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi pada mahasiswa atau pekerja baru, tetapi juga pada profesional berpengalaman. Mereka bukan tidak mampu, melainkan kesulitan mengakui bahwa keberhasilan yang diraih memang merupakan hasil dari kemampuan dan usaha mereka sendiri.

 

Editor : Kabun Triyatno
imposter syndrome perfeksionisme membandingkan psikologis keberuntungan