RADARSOLO.COM β Coba ingat kembali isi percakapan di aplikasi chat Anda. Mungkin ada teman yang hampir selalu mengakhiri pesannya dengan π, π, atau π. Namun, ada juga orang yang membalas dengan singkat, tanpa satu pun emoji. Misalnya, hanya menulis "Oke", "Siap", atau "Terima kasih".
Bagi sebagian orang, balasan tanpa emoji terkadang terasa lebih dingin atau bahkan terkesan jutek. Tak sedikit pula yang langsung beranggapan bahwa pengirim pesan sedang kesal atau tidak ingin melanjutkan percakapan. Namun, benarkah orang yang jarang memakai emoji memang memiliki sifat seperti itu?
Ternyata belum tentu.
Baca Juga: Bukan Lagi Google, Kenapa Banyak Orang Kini Mencari Informasi Lewat TikTok?
Para ahli komunikasi menilai penggunaan emoji lebih berkaitan dengan gaya berkomunikasi daripada kepribadian seseorang.
Dengan kata lain, seseorang yang jarang memakai emoji belum tentu tidak ramah. Bisa jadi, ia memang terbiasa menyampaikan pesan secara lugas tanpa tambahan simbol.
Dalam komunikasi digital, setiap orang memiliki preferensi yang berbeda. Ada yang merasa emoji membantu memperjelas maksud pesan, sementara yang lain menganggap kata-kata saja sudah cukup untuk menyampaikan apa yang ingin dikatakan.
Baca Juga: "Sebentar" Itu Berapa Menit? Ternyata Jawabannya Bergantung pada Situasi
Sebagai contoh, dua orang bisa mengirim pesan yang sama dengan cara berbeda. Seseorang mungkin menulis, "Terima kasih ya π", sedangkan orang lain cukup mengetik, "Terima kasih." Keduanya sama-sama bermaksud mengucapkan terima kasih, hanya saja gaya penyampaiannya berbeda.
Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah kebiasaan menggunakan media digital.
Orang yang sejak lama terbiasa berkomunikasi melalui aplikasi perpesanan atau media sosial cenderung lebih akrab dengan penggunaan emoji. Sebaliknya, ada pula yang lebih nyaman menggunakan kalimat tanpa tambahan simbol.
Usia juga dapat memengaruhi pola penggunaan emoji, meski bukan menjadi satu-satunya faktor. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengguna yang lebih muda umumnya lebih sering memanfaatkan emoji dalam percakapan sehari-hari.
Namun, bukan berarti semua anak muda gemar memakai emoji atau semua orang yang lebih tua menghindarinya. Pengalaman menggunakan teknologi, lingkungan pergaulan, hingga kebiasaan pribadi tetap memiliki peran yang besar.
Selain itu, konteks percakapan juga sangat menentukan. Seseorang yang sering memakai emoji saat berbincang dengan teman dekat bisa saja sengaja tidak menggunakannya ketika berkomunikasi dengan atasan, dosen, klien, atau rekan kerja. Dalam situasi formal, sebagian orang memilih gaya bahasa yang lebih sederhana karena dianggap lebih profesional.
Linguis Gretchen McCulloch dalam bukunya Because Internet menjelaskan bahwa komunikasi digital terus membentuk kebiasaan baru. Salah satunya adalah penggunaan emoji sebagai pelengkap pesan. Namun, tidak semua orang merasa perlu memanfaatkan simbol tersebut. Ada yang menganggap emoji membantu menyampaikan ekspresi, sementara yang lain lebih mengandalkan pilihan kata.
Penelitian yang diterbitkan dalam Computers in Human Behavior juga menunjukkan bahwa emoji memang dapat membuat pesan terasa lebih hangat dan ekspresif. Meski demikian, penelitian tersebut tidak menyimpulkan bahwa orang yang tidak memakai emoji otomatis kurang ramah atau kurang bersahabat.
Karena itulah, menilai kepribadian seseorang hanya dari cara ia menggunakan emoji bisa menimbulkan kesalahpahaman. Balasan "Oke." tanpa emoji belum tentu menunjukkan kemarahan atau ketidaksenangan. Bisa jadi, itulah gaya komunikasi yang memang biasa digunakan sehari-hari.
Di sisi lain, orang yang sering memakai emoji juga belum tentu selalu lebih akrab atau lebih terbuka. Sebagian menggunakan emoji untuk memperhalus pesan, menjaga kesopanan, atau menyesuaikan diri dengan lawan bicara. Artinya, penggunaan emoji lebih mencerminkan pilihan cara berkomunikasi daripada sifat seseorang.
Pada akhirnya, emoji hanyalah salah satu alat dalam komunikasi digital. Ada orang yang merasa pesan belum lengkap tanpa π atau π, tetapi ada pula yang cukup mengandalkan kata-kata. Selama maksud pesan dapat dipahami dengan baik, keduanya sama-sama merupakan cara berkomunikasi yang wajar. Jadi, lain kali menerima chat tanpa emoji, jangan buru-buru menganggap pengirimnya sedang jutek. Bisa jadi, memang begitulah gaya komunikasinya.
Editor : Kabun Triyatno