RADARSOLO.COM β Pernah bertemu seseorang yang terlihat pendiam saat berbincang langsung, tetapi sangat ramah ketika mengobrol lewat chat? Hampir setiap pesannya diakhiri dengan emoji π, π, atau π. Kalimat sederhana seperti "Siap" berubah menjadi "Siap ya π", sementara ucapan "Terima kasih" menjadi "Makasih banyak π".
Sebaliknya, ada juga orang yang sebenarnya mudah bergaul, tetapi balasan chat-nya selalu singkat tanpa emoji sehingga terkesan dingin.
Fenomena ini menunjukkan bahwa cara seseorang berkomunikasi di dunia digital tidak selalu sama dengan kepribadiannya di dunia nyata. Salah satu faktor yang berperan adalah penggunaan emoji.
Baca Juga: Istilah "Jam Karet" Punya Cerita dan Makna yang Menarik
Emoji memang sering dianggap sebagai pelengkap pesan. Namun, dalam praktiknya, simbol-simbol kecil ini juga menjadi alat untuk membangun kesan tertentu kepada lawan bicara. Dengan memilih emoji yang tepat, seseorang dapat membuat pesannya terdengar lebih hangat, lebih sopan, bahkan lebih mudah didekati.
Dalam ilmu komunikasi, hal tersebut dikenal sebagai impression management atau pengelolaan kesan. Istilah ini mengacu pada upaya seseorang menampilkan citra tertentu agar dipersepsikan sesuai dengan yang diinginkan. Di dunia digital, salah satu cara yang sering dilakukan adalah melalui pilihan kata, tanda baca, dan tentu saja emoji.
Misalnya, dua pesan berikut sebenarnya memiliki tujuan yang sama.
Baca Juga: Saat Semua Hal Harus Jadi Konten, Apa Kita Masih Bisa Menikmati Momen?
"Baik."
dan
"Baik π."
Secara makna, keduanya sama-sama menunjukkan persetujuan. Namun, banyak orang akan menangkap kesan yang berbeda. Pesan kedua cenderung dianggap lebih ramah dan lebih bersahabat karena adanya emoji yang memberi isyarat positif.
Hal serupa juga terlihat dalam percakapan sehari-hari. Sebagian orang sengaja menambahkan emoji π, π, atau π ketika berbicara dengan rekan kerja, dosen, pelanggan, atau orang yang baru dikenal.
Tujuannya bukan sekadar mempercantik pesan, melainkan menunjukkan sikap sopan, menghargai lawan bicara, atau menciptakan suasana percakapan yang lebih nyaman.
Linguis Gretchen McCulloch dalam bukunya Because Internet menjelaskan bahwa emoji telah berkembang menjadi pengganti sebagian ekspresi wajah dan intonasi yang hilang dalam komunikasi berbasis teks.
Karena penerima tidak dapat melihat senyum atau mendengar nada suara pengirim, emoji membantu menghadirkan isyarat emosional yang membuat pesan terasa lebih manusiawi.
Menariknya, citra yang terbentuk melalui chat belum tentu sama dengan kepribadian seseorang di dunia nyata. Orang yang dikenal pendiam bisa tampak sangat hangat ketika berkomunikasi melalui pesan karena lebih leluasa memilih kata dan emoji sebelum mengirimnya.
Sebaliknya, orang yang ceria saat bertemu langsung mungkin justru menulis pesan dengan sangat singkat tanpa tambahan emoji karena menganggap isi pesannya sudah cukup jelas.
Dengan kata lain, emoji ikut membentuk identitas digital, yaitu bagaimana seseorang dikenali dan dipersepsikan melalui aktivitasnya di ruang digital. Sama seperti memilih foto profil atau gaya bahasa di media sosial, penggunaan emoji juga menjadi bagian dari cara seseorang menampilkan dirinya kepada orang lain.
Meski demikian, bukan berarti penggunaan emoji selalu mencerminkan kepribadian asli seseorang. Ada orang yang memang gemar memakai emoji karena sudah menjadi kebiasaan, tetapi ada pula yang sengaja menggunakannya untuk menyesuaikan diri dengan situasi atau lawan bicara. Dalam komunikasi profesional, misalnya, seseorang mungkin memilih emoji yang lebih sederhana agar tetap terlihat sopan tanpa mengurangi kesan formal.
Penelitian yang dimuat dalam Computers in Human Behavior juga menunjukkan bahwa emoji dapat memengaruhi cara penerima menilai pengirim pesan. Kehadiran emoji sering dikaitkan dengan kesan lebih hangat, lebih terbuka, dan lebih mudah diajak berkomunikasi. Namun, kesan tersebut merupakan hasil interpretasi penerima, bukan bukti bahwa kepribadian pengirim benar-benar seperti itu.
Karena itulah, kesan yang muncul dari percakapan digital tidak selalu sama dengan kenyataan.
Emoji memang mampu membuat seseorang tampak lebih ramah di layar ponsel, tetapi kepribadian seseorang tetap jauh lebih kompleks daripada sekadar simbol kecil yang muncul di akhir pesan.
Editor : Kabun Triyatno