Kenapa Video Pendek Membuat Kita Sulit Fokus?

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 08:05 WIB
Sering sulit fokus setelah keasyikan scrolling TikTok atau Reels? Video pendek melatih otak terbiasa dengan rangsangan cepat, sehingga aktivitas yang butuh konsentrasi terasa lebih lambat.
Sering sulit fokus setelah keasyikan scrolling TikTok atau Reels? Video pendek melatih otak terbiasa dengan rangsangan cepat, sehingga aktivitas yang butuh konsentrasi terasa lebih lambat.

RADARSOLO.COM – Membuka TikTok atau Instagram Reels sering kali hanya diniatkan "sebentar". Namun, tanpa disadari, satu video berganti ke video berikutnya hingga 30 menit bahkan satu jam berlalu. Setelah itu, saat mencoba membaca buku, mengerjakan tugas, atau menonton film berdurasi panjang , sebagian orang justru merasa cepat bosan dan sulit berkonsentrasi.

Fenomena ini ternyata banyak dibahas dalam penelitian mengenai kebiasaan mengonsumsi konten digital.

Meski video pendek bukan satu-satunya penyebab menurunnya konsentrasi, pola konsumsi informasi yang serba cepat dinilai dapat memengaruhi cara seseorang mempertahankan perhatian.

Baca Juga: Kamu Pemalu? Ekspresikan Saja Melalui Emoji

Salah satu daya tarik video pendek adalah kemampuannya menyajikan informasi dalam waktu singkat. Dalam hitungan detik, pengguna sudah mendapatkan hiburan, pengetahuan, atau cerita baru.

Jika sebuah video terasa kurang menarik, cukup menggeser layar untuk menemukan konten berikutnya. Proses ini berlangsung sangat cepat dan terus berulang.

Akibatnya, otak menjadi terbiasa menerima rangsangan baru secara terus-menerus. Ketika kemudian dihadapkan pada aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama, seperti membaca artikel, mengikuti perkuliahan, atau menyelesaikan laporan, sebagian orang merasa aktivitas tersebut berjalan lebih lambat sehingga muncul dorongan untuk mencari distraksi lain.

Baca Juga: Kok Ada Orang yang Hampir Tidak Pernah Pakai Emoji? Ternyata Bukan Berarti Galak

Para peneliti menyebut kondisi ini berkaitan dengan attention span, yaitu kemampuan seseorang mempertahankan perhatian pada suatu tugas atau informasi dalam periode tertentu.

Perhatian bukanlah kemampuan yang tetap, melainkan dapat dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, dan jenis aktivitas yang dilakukan setiap hari.

Sebuah laporan dari Microsoft pada 2015 menunjukkan bahwa meningkatnya paparan media digital berkaitan dengan perubahan cara masyarakat memproses informasi. Banyak pengguna menjadi lebih terbiasa memindai informasi secara cepat dibandingkan membaca secara mendalam. Sementara itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa perpindahan perhatian yang terlalu sering dapat membuat seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali fokus pada pekerjaan utama.

Namun, bukan berarti video pendek harus dihindari sepenuhnya. Konten berdurasi singkat juga memiliki banyak manfaat, seperti mempermudah penyebaran informasi, membantu proses belajar melalui penjelasan yang ringkas, hingga menjadi sarana hiburan setelah beraktivitas.

Yang menjadi tantangan adalah ketika kebiasaan tersebut membuat seseorang terus-menerus berpindah perhatian tanpa memberikan kesempatan bagi otak untuk berkonsentrasi lebih lama.

Karena itu, sejumlah ahli menyarankan agar penggunaan media sosial dilakukan secara lebih sadar. Misalnya, menetapkan batas waktu saat membuka aplikasi, mematikan notifikasi yang tidak penting, atau menyisihkan waktu khusus untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan fokus penuh, seperti membaca buku atau mengerjakan tugas tanpa membuka media sosial.

Melatih kembali kemampuan berkonsentrasi juga dapat dilakukan secara bertahap. Membaca selama 10 hingga 15 menit tanpa gangguan, menonton video edukasi yang lebih panjang, atau menerapkan teknik seperti Pomodoro dapat membantu meningkatkan kemampuan mempertahankan perhatian.

Semakin sering otak berlatih fokus pada satu aktivitas, semakin mudah pula seseorang mengurangi kebiasaan terus-menerus mencari rangsangan baru.

Pada akhirnya, video pendek bukanlah musuh yang harus dihindari. Platform tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan digital masyarakat dan menawarkan banyak manfaat.

Namun, seperti halnya teknologi lainnya, penggunaannya perlu diimbangi dengan kebiasaan yang sehat. Menikmati video singkat sesekali tentu tidak menjadi masalah, tetapi meluangkan waktu untuk membaca, berpikir mendalam, dan berkonsentrasi tanpa gangguan tetap penting agar kemampuan fokus tetap terjaga.

Editor : Kabun Triyatno
attention span tiktok media sosial video pendek digital