Apa Itu Sound Colors? Mengenal White Noise, Pink Noise, hingga Brown Noise dalam Dunia Audio

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 13:57 WIB
Sound colors adalah pengelompokan jenis noise berdasarkan distribusi energi frekuensinya.
Sound colors adalah pengelompokan jenis noise berdasarkan distribusi energi frekuensinya.

RADARSOLO.COM - Belakangan ini, istilah white noise, pink noise, dan brown noise semakin sering muncul di media sosial maupun platform streaming musik. Banyak orang memutarnya untuk menemani belajar, bekerja, hingga membantu tidur. Tahukah kamu bahwa ketiganya bukan termasuk genre musik? White noise, pink noise, dan brown noise merupakan bagian dari konsep audio yang dikenal sebagai sound colors atau noise colors.

Istilah sound colors digunakan untuk mengelompokkan jenis-jenis noise berdasarkan bagaimana energi suara tersebar di berbagai frekuensi. Penamaan seperti white, pink, atau brown bukan mengacu pada warna suara yang benar-benar terdengar, melainkan merupakan analogi dari konsep "warna" pada cahaya. Sama seperti cahaya putih yang mengandung seluruh spektrum warna, white noise juga mengandung seluruh rentang frekuensi yang dapat didengar manusia dengan distribusi energi tertentu.

Dalam dunia audio, sound colors memiliki banyak fungsi. Teknisi suara menggunakannya untuk menguji respons speaker, mengkalibrasi sistem audio, hingga membantu proses pencampuran (mixing) dan mastering. Di luar industri musik, berbagai jenis noise ini juga dimanfaatkan sebagai suara latar untuk meningkatkan fokus, relaksasi, atau membantu menutupi suara-suara yang mengganggu.

Baca Juga: Bukan Cuma Soal Lagu Hits, Ini Alasan Grammy Awards jadi Penghargaan Musik Paling Bergengsi di Dunia

Jenis yang paling dikenal adalah white noise. Suara ini berisi seluruh frekuensi yang dapat didengar manusia dengan energi yang sama pada setiap frekuensi. Oleh sebab itu, telinga menangkapnya sebagai suara desis yang konstan, mirip suara televisi tanpa sinyal, kipas angin, atau pendingin ruangan. Kemampuannya dalam menutupi suara lain membuat white noise banyak digunakan sebagai latar saat bekerja atau belajar.

Berbeda dengan white noise, pink noise memiliki distribusi energi yang lebih besar pada frekuensi rendah sehingga terdengar lebih lembut dan alami. Karakter suaranya sering disamakan dengan hujan deras, angin yang berembus, atau gemerisik dedaunan. Dalam dunia audio profesional, pink noise menjadi salah satu standar untuk mengukur respons sistem pengeras suara karena distribusi energinya lebih mendekati cara telinga manusia menangkap suara.

Sementara itu, brown noise atau Brownian noise lebih menonjolkan frekuensi rendah sehingga menghasilkan suara yang dalam dan bergemuruh, seperti ombak besar atau gemuruh petir dari kejauhan. Dibandingkan white noise, brown noise terdengar lebih "hangat" karena hampir tidak memiliki desis bernada tinggi. Tak heran jika banyak orang memilihnya sebagai teman untuk beristirahat atau mencari suasana yang lebih tenang.

Baca Juga: Dari Radio ke FYP, Begini Wajah Baru Tren Musik dalam Satu Dekade

Selain ketiga jenis tersebut, sebenarnya masih ada beberapa sound colors lain, seperti blue noise, violet noise, grey noise, dan black noise. Masing-masing memiliki distribusi frekuensi yang berbeda sehingga menghasilkan karakter suara yang juga berbeda. Meski tidak sepopuler white, pink, dan brown noise, jenis-jenis tersebut tetap digunakan dalam bidang akustik, rekayasa audio, maupun penelitian.

Lalu, apakah sound colors termasuk musik? Jawabannya tidak. Sound colors tidak memiliki unsur-unsur utama dalam musik, seperti melodi, harmoni, ritme, maupun lirik. Walaupun demikian, keberadaannya tidak bisa dipisahkan dari dunia musik karena menjadi bagian penting dalam teknologi audio. Bahkan, berbagai platform streaming seperti Spotify, YouTube, hingga Apple Music menyediakan koleksi white noise dan jenis noise lainnya berdampingan dengan jutaan lagu.

 

Editor : Kabun Triyatno
sound colors white noise musik frekuensi audio