Bahasa Jawa Punya Kata-Kata yang "Pas Banget" untuk Kehidupan Sehari-hari

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 14:10 WIB
Bahasa Jawa kaya akan kosakata unik seperti kemrungsung dan ngglangut yang sulit diterjemahkan.
Bahasa Jawa kaya akan kosakata unik seperti kemrungsung dan ngglangut yang sulit diterjemahkan.

RADARSOLO.COM - Setiap bahasa memiliki kata-kata yang lahir dari pengalaman hidup masyarakat penuturnya. Karena itu, ada kosakata yang terasa sangat tepat untuk menggambarkan suatu keadaan, tetapi justru sulit diterjemahkan ke bahasa lain.

Hal ini juga dapat ditemukan dalam bahasa Jawa, yang memiliki banyak kata dengan makna sangat spesifik sehingga sering kali membutuhkan satu kalimat untuk menjelaskannya.

Sebelumnya, mungkin Anda pernah mendengar kata seperti timak-timik atau cekitang-cekiting yang menggambarkan situasi tertentu secara sangat rinci. Namun, masih banyak kosakata lain dalam bahasa Jawa yang tak kalah menarik dan memperlihatkan betapa kayanya cara masyarakat memaknai pengalaman sehari-hari.

Baca Juga: Kenapa Video Pendek Membuat Kita Sulit Fokus?

Salah satunya adalah kemrungsung. Kata ini biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terburu-buru, tetapi bukan sekadar cepat. Orang yang kemrungsung cenderung tampak gelisah, tergesa-gesa, bahkan kehilangan ketenangan sehingga justru lebih mudah melakukan kesalahan. Dalam bahasa Indonesia, makna tersebut biasanya harus dijelaskan dengan frasa seperti "terburu-buru karena panik" atau "tergesa-gesa dengan perasaan tidak tenang".

Ada pula kata ngglangut. Sekilas, kata ini sering diterjemahkan sebagai melamun atau bengong. Padahal, ngglangut memiliki nuansa yang lebih khusus. Kata ini menggambarkan seseorang yang termenung karena sedang sedih, kecewa, atau memikirkan sesuatu. Ekspresi wajahnya kosong, tetapi di balik itu ada beban pikiran yang sedang dirasakan.

Contoh lain adalah jimblung. Dalam percakapan sehari-hari, jimblung digunakan untuk menyebut orang yang tampak linglung, kurang peka terhadap situasi, atau bertingkah sedikit konyol karena tidak memahami keadaan di sekitarnya. Kata ini umumnya dipakai dalam suasana bercanda, bukan sebagai hinaan yang serius.

Baca Juga: Kamu Pemalu? Ekspresikan Saja Melalui Emoji

Bahasa Jawa juga mengenal kata kemlinthi. Istilah ini ditujukan kepada seseorang yang gemar pamer, sok pintar, atau merasa dirinya lebih hebat daripada orang lain. Meski demikian, kemlinthi tidak selalu bermakna kasar. Dalam percakapan sehari-hari, kata ini sering diucapkan dengan nada bercanda kepada teman atau anggota keluarga yang sedang bertingkah percaya diri secara berlebihan.

Berbeda lagi dengan semribit atau sembribit. Kata ini menggambarkan embusan angin kecil yang terasa sejuk dan lembut. Dalam bahasa Indonesia, kita mungkin hanya mengatakan "angin sepoi-sepoi" atau "angin semilir". Namun, semribit memberikan kesan yang lebih khas, seolah-olah menggambarkan hembusan angin yang pelan tetapi cukup terasa menyentuh kulit.

Kosakata lain yang tidak kalah menarik adalah kebroh. Kata ini digunakan untuk menggambarkan kondisi seseorang yang basah kuyup karena terkena air, misalnya setelah kehujanan atau tercebur. Sekilas, maknanya memang mirip dengan "basah", tetapi kebroh memberikan gambaran yang lebih kuat bahwa pakaian dan tubuh benar-benar dipenuhi air.

Kosakata-kosakata tersebut menunjukkan bahwa bahasa Jawa memiliki banyak kata yang sangat spesifik. Satu kata dapat langsung menghadirkan gambaran, suasana, bahkan emosi tertentu tanpa perlu penjelasan yang panjang. Inilah yang membuat sebagian kosakata daerah sulit diterjemahkan secara tepat ke bahasa lain.

Dalam kajian linguistik, fenomena seperti ini terjadi karena bahasa berkembang mengikuti pengalaman hidup masyarakatnya.

Lingkungan, budaya, kebiasaan, hingga cara masyarakat berinteraksi memengaruhi lahirnya kosakata baru. Semakin sering suatu pengalaman dialami, semakin besar pula kemungkinan muncul kata khusus untuk menggambarkannya.

Itulah sebabnya, ketika sebuah kata diterjemahkan ke bahasa lain, maknanya tidak selalu dapat dipindahkan secara utuh. Terjemahan mungkin dapat menjelaskan arti dasarnya, tetapi nuansa budaya dan pengalaman yang melekat pada kata tersebut sering kali tetap sulit digantikan.

Kekayaan kosakata seperti ini menjadi pengingat bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga menyimpan cara pandang masyarakat terhadap kehidupan.

Di balik kata-kata seperti kemrungsung, ngglangut, jimblung, kemlinthi, semribit, dan kebroh, tersimpan pengalaman yang mungkin hanya benar-benar dipahami oleh mereka yang akrab dengan budaya tempat kata-kata itu lahir.

Editor : Kabun Triyatno
linguistik jawa istilah bahasa kosakata