Jika kebiasaan ini terdengar akrab, Anda mungkin pernah mengalami fenomena yang dikenal sebagai revenge scrolling.
Revenge scrolling adalah kebiasaan terus menggulir media sosial atau menikmati konten digital dalam waktu lama sebagai bentuk "balas dendam" atas waktu luang yang terasa hilang sepanjang hari.
Baca Juga: Bahasa Jawa Punya Kata-Kata yang "Pas Banget" untuk Kehidupan Sehari-hari
Setelah disibukkan oleh pekerjaan, kuliah, sekolah, atau berbagai tanggung jawab lainnya, seseorang merasa ingin mengambil kembali waktu untuk dirinya sendiri, meskipun harus mengorbankan waktu istirahat.
Fenomena ini memiliki kemiripan dengan revenge bedtime procrastination, yaitu kebiasaan menunda tidur demi menikmati waktu luang.
Bedanya, revenge scrolling lebih menyoroti aktivitas menggulir media sosial atau mengonsumsi konten digital secara terus-menerus.
Kebiasaan ini biasanya diawali dengan niat sederhana, misalnya hanya ingin membuka media sosial selama lima menit. Namun, algoritma platform digital yang terus menyajikan konten sesuai minat pengguna membuat waktu berlalu tanpa terasa. Satu video berganti ke video berikutnya, disusul unggahan lain yang sama-sama menarik perhatian.
Baca Juga: Sulit Diterjemahkan, Istilah Bahasa Indonesia Ini Punya Makna yang Sangat Khas
Akibatnya, seseorang tetap terus menggulir layar meski tubuh sebenarnya sudah memberi sinyal lelah.
Fenomena ini banyak dialami oleh pelajar, mahasiswa, maupun pekerja yang memiliki jadwal padat. Setelah seharian mengikuti rutinitas yang penuh tuntutan, malam hari menjadi satu-satunya waktu yang dirasa benar-benar dimiliki sendiri.
Perasaan tersebut mendorong seseorang untuk terus menikmati hiburan digital agar merasa memiliki waktu pribadi, meskipun akhirnya harus tidur lebih larut.
Dari sisi psikologi, revenge scrolling berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk memperoleh kendali atas waktunya sendiri. Ketika sepanjang hari dipenuhi kewajiban, aktivitas menggulir media sosial dapat memberikan rasa bebas karena tidak ada tuntutan atau target yang harus dicapai.
Sayangnya, kebiasaan ini sering kali menimbulkan lingkaran yang berulang. Semakin larut seseorang tidur karena terus menggulir media sosial, semakin sedikit waktu istirahat yang diperoleh. Keesokan harinya tubuh terasa lebih lelah, sehingga muncul keinginan untuk kembali mencari hiburan digital pada malam berikutnya.
Selain mengurangi durasi tidur, revenge scrolling juga dapat memengaruhi kualitas istirahat. Paparan cahaya dari layar gawai menjelang tidur diketahui dapat mengganggu produksi hormon melatonin yang berperan dalam mengatur siklus tidur. Akibatnya, tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar terlelap.
Bukan berarti membuka media sosial pada malam hari selalu berdampak buruk. Aktivitas tersebut tetap dapat menjadi sarana hiburan dan relaksasi setelah menjalani hari yang padat. Yang perlu diperhatikan adalah durasi penggunaannya. Jika dilakukan tanpa batas hingga mengurangi waktu tidur atau mengganggu aktivitas keesokan harinya, kebiasaan tersebut patut diwaspadai.
Salah satu cara untuk mengurangi revenge scrolling adalah dengan menetapkan batas waktu penggunaan media sosial, mengaktifkan fitur pengingat waktu layar, atau memilih aktivitas relaksasi lain sebelum tidur, seperti membaca buku, mendengarkan musik, atau melakukan peregangan ringan.
Di era digital, menggulir media sosial memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, jika dilakukan terus-menerus sebagai pelarian dari rasa lelah, kebiasaan tersebut justru dapat membuat tubuh dan pikiran semakin kehabisan energi. Alih-alih mendapatkan waktu untuk memulihkan diri, seseorang malah memasuki hari berikutnya dengan kondisi yang kurang bugar akibat waktu tidur yang terus berkurang.
Editor : Kabun Triyatno