RADARSOLO.COM - Lagi asyik mengobrol, belajar di kelas, atau bahkan scroll media sosial, lalu melihat seseorang menguap dan tanpa sadar kamu ikut menguap? Menariknya, fenomena ini bahkan bisa terjadi hanya karena melihat foto, video, atau membaca kata "menguap". Meski terdengar sepele, ternyata ada penjelasan ilmiah mengapa menguap bisa menular dari satu orang ke orang lain.
Para peneliti menjelaskan bahwa penyebab utama menguap menular berkaitan dengan cara kerja mirror neuron atau sistem saraf cermin di dalam otak. Sistem ini berfungsi membantu manusia memahami sekaligus meniru tindakan yang dilakukan orang lain. Saat melihat seseorang menguap, sel-sel saraf tersebut ikut aktif dan mengirimkan sinyal ke bagian otak yang mengatur gerakan. Akibatnya, tubuh secara otomatis memberikan respons yang sama, yakni ikut menguap, meski sebenarnya tidak sedang merasa mengantuk.
Hal ini juga berkaitan dengan rasa empati. Sejumlah penelitian menemukan bahwa seseorang cenderung lebih mudah tertular menguap dari orang yang memiliki hubungan emosional dekat, seperti keluarga, sahabat, atau pasangan. Hal itu terjadi karena otak tidak hanya memproses gerakan yang dilihat tetapi juga membaca ekspresi wajah dan kondisi emosional orang lain. Semakin kuat ikatan emosional yang dimiliki, semakin besar pula kemungkinan seseorang ikut menguap.
Baca Juga: Merasa Tidak Pantas Meski Berprestasi? Ini Penyebab Impostor Syndrome yang Jarang Disadari
Di dalam otak, ada beberapa bagian yang bekerja bersamaan saat seseorang tertular menguap. Korteks motorik primer bertugas mengatur gerakan tubuh sehingga refleks menguap dapat terjadi. Korteks prefrontal membantu memproses informasi sosial dan mengenali tindakan orang lain, sedangkan amigdala berperan dalam mengolah emosi dan ekspresi wajah. Ketiga bagian tersebut saling bekerja sama sehingga respons menguap muncul begitu cepat tanpa perlu disadari.
Menariknya, tidak semua orang memiliki tingkat kepekaan yang sama terhadap fenomena ini. Anak-anak umumnya baru mulai mengalami menguap menular ketika berusia sekitar empat hingga lima tahun, seiring berkembangnya kemampuan empati mereka. Selain itu, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa orang dengan gangguan spektrum autisme atau skizofrenia cenderung lebih jarang mengalami menguap menular karena adanya perbedaan pada sistem saraf yang berkaitan dengan empati dan interaksi sosial.
Baca Juga: Spider-Man: Brand New Day Tayang Hari Ini di Indonesia, Peter Parker Memulai Babak Baru
Banyak orang juga mengira bahwa menguap menular pasti membuat seseorang ikut mengantuk. Padahal, menguap dan rasa kantuk tidak selalu memiliki hubungan langsung. Menguap memang bisa muncul sebagai respons otomatis setelah melihat orang lain melakukannya tetapi rasa kantuk biasanya dipengaruhi oleh kondisi tubuh, seperti kurang tidur, kelelahan, atau berada di ruangan yang pengap. Karena itu, ketika refleks menguap muncul saat tubuh memang sedang lelah, rasa kantuk bisa terasa semakin kuat.
Baca Juga: Apa Itu Doomscrolling? Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Menguras Kesehatan Mental
Meski termasuk refleks alami, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi keinginan menguap. Salah satunya adalah menarik napas dalam melalui hidung lalu mengembuskannya perlahan melalui mulut. Cara ini membantu memberikan udara yang lebih sejuk ke tubuh sehingga dapat mengurangi refleks menguap. Mengalihkan pandangan dari orang yang sedang menguap juga bisa membantu memutus rangsangan visual yang memicu kerja mirror neuron. Selain itu, minum air putih dingin, melakukan peregangan ringan, berjalan sejenak, atau mencari ruangan dengan sirkulasi udara yang lebih baik dapat membantu meningkatkan fokus sekaligus mengurangi rasa kantuk.
Editor : Kabun Triyatno