Dulu Ramai Dipakai, Sekarang Nyaris Hilang. Ke Mana Perginya Kata-Kata Yang Sempat Gaul?

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 18:18 WIB
Mengapa bahasa gaul cepat berubah dan menghilang? Simak penjelasan sosiolinguistik di balik redupnya istilah seperti baper dan lahirnya tren kata baru di media sosial seperti delulu hingga brain rot!
Mengapa bahasa gaul cepat berubah dan menghilang? Simak penjelasan sosiolinguistik di balik redupnya istilah seperti baper dan lahirnya tren kata baru di media sosial seperti delulu hingga brain rot!

RADARSOLO.COM – Masih ingat ketika hampir semua orang menggunakan kata baper, PHP, kepo, atau mager? Beberapa tahun lalu, istilah-istilah tersebut begitu sering muncul dalam percakapan sehari-hari maupun media sosial.

Namun kini, penggunaannya mulai berkurang dan digantikan oleh kata-kata baru seperti delulu, brain rot, NPC, crash out, hingga aura farming.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa bahasa gaul begitu cepat berubah? Mengapa sebuah kata bisa sangat populer dalam waktu singkat, tetapi kemudian perlahan menghilang?

Baca Juga: Kok Emoji Bisa Bikin Kita Terlihat Lebih Ramah daripada Aslinya?

Dalam kajian sosiolinguistik, perubahan tersebut merupakan hal yang wajar. Bahasa terus berkembang mengikuti masyarakat yang menggunakannya. Ketika gaya hidup, budaya populer, atau tren media sosial berubah, kosakata yang digunakan pun ikut berganti.

Anak muda menjadi kelompok yang paling sering menciptakan sekaligus menyebarkan istilah baru. Kehadiran media sosial membuat proses itu berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Jika dahulu sebuah kata membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikenal luas, kini istilah baru bisa viral hanya dalam hitungan hari melalui video pendek, meme, atau unggahan dari kreator konten.

Baca Juga: Mau Nonton Spider-Man: Brand New Day? Tonton Film Ini Dulu Biar Alurnya Lebih Nyambung

Sebagai contoh, beberapa tahun lalu kata healing menjadi sangat populer untuk menggambarkan aktivitas berlibur atau mencari ketenangan. Setelah itu muncul istilah FOMO (fear of missing out), flexing, dan toxic yang banyak digunakan dalam berbagai konteks.

Kini, media sosial kembali dipenuhi istilah baru seperti delulu, yang berarti memiliki harapan atau khayalan yang terlalu jauh, hingga brain rot, yang menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi konten digital yang dianggap kurang bermanfaat.

Menariknya, semakin sering sebuah kata digunakan, semakin besar pula kemungkinan kata tersebut kehilangan kesan uniknya.

Ketika istilah yang awalnya hanya dipakai oleh komunitas tertentu mulai digunakan oleh banyak orang, termasuk media massa dan berbagai kalangan usia, anak muda biasanya mulai mencari ungkapan baru yang terasa lebih segar.

Bahasa gaul juga menjadi salah satu cara untuk menunjukkan identitas kelompok. Menggunakan istilah yang sedang tren dapat menciptakan rasa kebersamaan dengan orang-orang yang memiliki referensi budaya yang sama. Karena itu, ketika tren berganti, kosakata yang digunakan pun ikut berubah.

Meski demikian, tidak semua kata gaul benar-benar hilang. Sebagian justru bertahan dan akhirnya menjadi bagian dari kosakata yang lebih umum. Kata seperti kepo, baper, dan gabut, misalnya, kini sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia.

Bahkan beberapa di antaranya telah tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menandakan bahwa bahasa gaul juga dapat menjadi bagian dari perkembangan bahasa Indonesia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sesuatu yang kaku. Bahasa selalu bergerak mengikuti zaman, teknologi, serta kebiasaan masyarakat.

Apa yang terdengar asing hari ini bisa jadi menjadi kata yang lazim digunakan beberapa tahun mendatang. Sebaliknya, istilah yang kini memenuhi lini masa media sosial mungkin perlahan akan ditinggalkan ketika muncul tren berikutnya.

Karena itu, jika suatu hari Anda merasa mulai kesulitan memahami istilah-istilah yang digunakan generasi muda di media sosial, bukan berarti kemampuan berbahasa Anda berkurang. Bisa jadi, bahasa memang sedang bergerak sangat cepat. Pergantian kata-kata gaul merupakan salah satu bukti bahwa bahasa selalu hidup, terus beradaptasi, dan berkembang bersama para penuturnya.

Editor : Kabun Triyatno
sosiolinguistik gaul istilah Brain Rot fomo