Punya Standar Tinggi Itu Salah? Ini Bedanya Standar dan Ekspektasi Berlebihan

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 08:15 WIB
Standar dan Ekspektasi Berlebihan itu Dua Hal yang Berbeda.
Standar dan Ekspektasi Berlebihan itu Dua Hal yang Berbeda.

RADARSOLO.COM - "Standarmu ketinggian, sih."

Kalimat itu mungkin pernah didengar oleh banyak orang, terutama saat membahas pasangan, pekerjaan, atau impian hidup. Akibatnya, tidak sedikit yang mulai mempertanyakan diri sendiri, "Apa aku terlalu pilih-pilih?"

Padahal, memiliki standar tinggi bukanlah sesuatu yang salah. Justru, standar bisa menjadi cara seseorang menentukan batasan, nilai, dan hal-hal yang dianggap penting dalam hidup. Yang perlu dibedakan adalah apakah standar tersebut masih realistis atau sudah berubah menjadi ekspektasi yang sulit diwujudkan.

Sederhananya, standar adalah kualitas atau prinsip yang kamu anggap penting dan tidak mudah dikompromikan. Misalnya, menginginkan pasangan yang jujur, saling menghargai, bertanggung jawab, atau mencari pekerjaan dengan lingkungan yang sehat. Standar seperti ini biasanya berhubungan dengan nilai hidup dan kebutuhan jangka panjang.

Baca Juga: Mengenal Halo Effect, Alasan Kita Mudah Terpikat pada Pandangan Pertama

Sementara itu, ekspektasi berlebihan muncul ketika kita berharap semuanya berjalan sesuai keinginan tanpa mempertimbangkan kenyataan. Contohnya berharap pasangan selalu mengerti isi pikiran tanpa perlu berkomunikasi, atau menginginkan pekerjaan bergaji tinggi, jam kerja fleksibel, rekan kerja sempurna, dan minim tekanan sejak hari pertama. Ekspektasi yang terlalu ideal seperti ini lebih mudah memicu rasa kecewa ketika kenyataan tidak sesuai harapan.

Masalahnya, media sosial sering membuat batas antara standar dan ekspektasi menjadi kabur. Setiap hari kita disuguhi konten tentang "green flag", "couple goals", hingga kisah sukses di usia muda. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan hidup sendiri dengan potongan kehidupan orang lain yang belum tentu menunjukkan cerita secara utuh.

Di sisi lain, menurunkan standar hanya demi menyenangkan orang lain juga bukan solusi. Jika seseorang mengorbankan nilai-nilai penting hanya karena takut dianggap terlalu pemilih, hubungan atau keputusan yang diambil justru bisa berakhir dengan penyesalan.

Baca Juga: Study Date, Kencan atau Produktivitas Berkedok Romantis?

Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah standar yang dimiliki masih sehat?

Coba tanyakan tiga hal pada diri sendiri. Pertama, apakah standar itu berkaitan dengan nilai dan kebutuhan hidup, atau hanya mengikuti tren di media sosial? Kedua, apakah kamu juga berusaha menjadi pribadi yang sesuai dengan standar yang kamu harapkan dari orang lain? Ketiga, apakah standar tersebut masih memberi ruang bagi orang lain untuk bertumbuh sebagai manusia yang tidak sempurna?

Perlu diingat, tidak ada manusia yang sempurna. Memiliki standar tinggi bukan berarti mencari sosok tanpa kekurangan, melainkan mencari seseorang atau sesuatu yang selaras dengan nilai hidupmu. Sebaliknya, ekspektasi yang terlalu tinggi sering kali menuntut kesempurnaan dan mengabaikan kenyataan bahwa setiap orang memiliki proses, keterbatasan, dan ruang untuk berkembang. Perfeksionisme dan ekspektasi yang tidak realistis juga diketahui dapat meningkatkan stres serta rasa cemas ketika harapan sulit terpenuhi.

Jadi, jika suatu hari ada yang berkata, "Standarmu terlalu tinggi," mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukanlah seberapa tinggi standarmu, melainkan apakah standar itu masih realistis, sehat, dan sejalan dengan nilai yang kamu pegang. Karena pada akhirnya, memiliki standar bukan berarti menuntut kesempurnaan, tetapi menghargai diri sendiri tanpa kehilangan pijakan pada kenyataan.

Editor : Kabun Triyatno
batasan media sosial Standar pasangan Ekspektasi