Notifikasi Tak Henti-Henti Bisa Bikin Lelah Mental, Kenali Digital Burnout

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 16:26 WIB
Digital burnout adalah kelelahan fisik dan mental akibat paparan teknologi terus-menerus. Budaya always on dan rentetan notifikasi membuat otak selalu siaga, memicu stres hingga mengganggu kesehatan mental.
Digital burnout adalah kelelahan fisik dan mental akibat paparan teknologi terus-menerus. Budaya always on dan rentetan notifikasi membuat otak selalu siaga, memicu stres hingga mengganggu kesehatan mental.

RADARSOLO.COM – Pernah merasa lelah padahal seharian tidak melakukan pekerjaan berat? Rasanya sulit fokus, kepala terasa penuh, dan baru mendengar bunyi notifikasi saja sudah membuat stres.

Jika kondisi seperti ini sering dialami, bisa jadi penyebabnya bukan semata-mata beban pekerjaan, melainkan digital burnout.

Digital burnout adalah kondisi kelelahan fisik maupun mental akibat paparan teknologi digital yang berlangsung terus-menerus.

Baca Juga: Fatin Rayakan Usia 30 Tahun dengan Lagu Baru “Tidur Siang”

Tidak hanya dialami pekerja kantoran, kondisi ini juga dapat dirasakan pelajar, mahasiswa, hingga siapa saja yang hampir sepanjang hari berinteraksi dengan layar gawai, komputer, maupun berbagai aplikasi digital.

Berbeda dengan burnout yang identik dengan tekanan pekerjaan, digital burnout lebih berkaitan dengan budaya selalu terhubung (always on). Notifikasi pesan instan, email, media sosial, grup kerja, hingga aplikasi belanja dapat membuat otak terus berada dalam kondisi siaga.

Akibatnya, seseorang sulit benar-benar beristirahat meskipun jam kerja telah selesai.

Baca Juga: Sering Dipakai di Sekolah dan Kampus, Istilah Pendidikan Ini Ternyata Berasal dari Bahasa Belanda

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai hubungan antara teknologi digital dan kesehatan mental bersifat kompleks. Teknologi dapat memberikan manfaat, tetapi penggunaan yang berlebihan, terutama tanpa batas yang jelas, juga berpotensi meningkatkan tekanan psikologis pada sebagian orang.

WHO bahkan mendorong berbagai negara untuk memperkuat upaya menjaga kesejahteraan digital, khususnya bagi generasi muda yang tumbuh bersama teknologi.

Sejumlah penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa digital burnout semakin banyak menjadi perhatian.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Scientific Reports pada 2025 menemukan bahwa digital burnout memiliki keterkaitan dengan berbagai aspek kesejahteraan psikologis, seperti kualitas tidur, ketahanan diri, hingga gejala depresi.

Penelitian tersebut menegaskan bahwa kelelahan digital bukan sekadar rasa bosan melihat layar, melainkan kondisi yang dapat memengaruhi kesehatan mental apabila berlangsung terus-menerus.

Gejala digital burnout dapat muncul dalam berbagai bentuk. Mulai dari sulit berkonsentrasi, cepat lelah, mudah tersinggung, merasa kewalahan saat melihat banyak notifikasi, hingga kehilangan motivasi untuk membuka perangkat digital meskipun pekerjaan belum selesai.

Tidak sedikit pula yang merasa "lelah secara mental" hanya karena harus berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain sepanjang hari.

Ironisnya, semakin lelah seseorang, semakin besar pula keinginan untuk terus membuka ponsel. Kebiasaan menggulir media sosial tanpa tujuan, mengecek notifikasi berulang kali, atau membuka aplikasi hanya karena merasa bosan justru membuat otak semakin sulit beristirahat. Siklus inilah yang kemudian memperpanjang rasa lelah.

Meski demikian, bukan berarti masyarakat harus menjauhi teknologi sepenuhnya. Para ahli justru menyarankan penggunaan teknologi secara lebih sadar dan seimbang. Langkah sederhana seperti mematikan notifikasi yang tidak penting, menetapkan waktu bebas gawai, menghindari membuka email kantor di luar jam kerja, hingga memberi jeda beberapa menit dari layar setiap beberapa jam dapat membantu mengurangi kelelahan digital.

Di era ketika hampir seluruh aktivitas dilakukan secara digital, menjaga hubungan yang sehat dengan teknologi menjadi semakin penting. Gawai dan internet memang mempermudah pekerjaan serta komunikasi, tetapi tubuh dan pikiran juga membutuhkan waktu untuk benar-benar beristirahat dari derasnya arus informasi.

Jika rasa lelah terus muncul meski pekerjaan tidak terlalu berat, mungkin sudah saatnya bukan hanya mengevaluasi beban kerja, tetapi juga cara kita berinteraksi dengan dunia digital setiap hari.

Editor : Kabun Triyatno
burnout notifikasi mental digital informasi