Kenapa Kita Jarang Mengungkapkan Perasaan Secara Langsung? Bahasa Indonesia Punya Banyak "Bahasa Kalbu"

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 11:13 WIB
Sulit blakblakan soal perasaan? Bahasa Indonesia punya "bahasa kalbu" lewat idiom dan metafora.
Sulit blakblakan soal perasaan? Bahasa Indonesia punya "bahasa kalbu" lewat idiom dan metafora.

RADARSOLO.COM – Ketika seseorang berkata, "Dia itu satu frekuensi denganku," hampir semua orang langsung memahami maksudnya. Padahal, tidak ada gelombang radio yang sedang dibicarakan.

Begitu pula saat mendengar ungkapan seperti buah hati, cuci mata, muka dua, atau besar kepala. Maknanya tidak dapat dipahami hanya dari arti setiap kata penyusunnya. Ungkapan-ungkapan tersebut merupakan bagian dari bahasa kiasan yang sudah lama hidup dalam bahasa Indonesia dan digunakan untuk menyampaikan perasaan, penilaian, maupun pengalaman secara lebih halus dan ekspresif.

Menariknya, kebiasaan menggunakan bahasa kiasan bukan sekadar memperindah kalimat. Dalam banyak situasi, bahasa kiasan justru membantu kita mengungkapkan emosi yang terasa sulit jika disampaikan secara terus terang.

Baca Juga: Emoji Juga Punya Tren, Lho! Kok Ada yang Mendadak Dipakai Semua Orang?

Saat Perasaan Terlalu Rumit untuk Dijelaskan

Bayangkan seseorang berkata, "Aku merasa sangat cocok berbicara denganmu karena cara berpikir kita mirip."

Kalimat itu jelas. Namun, banyak orang kini lebih memilih mengatakan, "Kita satu frekuensi."

Ungkapan tersebut tidak berbicara tentang frekuensi radio, melainkan menjadi metafora untuk menggambarkan kecocokan dalam cara berpikir, berkomunikasi, atau memandang sesuatu. Hanya dengan dua kata, makna yang ingin disampaikan terasa lebih ringkas sekaligus lebih emosional.

Baca Juga: Kok Emoji yang Sama Bisa Beda Arti di Negara Lain? Ternyata Budaya Ikut Berpengaruh

Hal serupa juga terjadi pada ungkapan buah hati. Alih-alih hanya mengatakan "anak", banyak orang menggunakan istilah tersebut untuk menunjukkan bahwa anak merupakan sosok yang sangat dicintai dan berharga dalam hidup mereka.

Bahasa Kiasan Membuat Pesan Lebih Halus

Bahasa Indonesia juga mengenal banyak idiom yang digunakan untuk menyampaikan penilaian tanpa harus mengatakannya secara gamblang.

Misalnya, seseorang yang tidak jujur sering disebut bermuka dua, bukan sekadar "pembohong". Orang yang sombong digambarkan sebagai besar kepala, sedangkan seseorang yang berjalan-jalan untuk menikmati pemandangan atau suasana sering mengatakan sedang cuci mata.

Inilah yang membuat idiom menjadi salah satu kekayaan bahasa. Beberapa kata sederhana dapat menghadirkan makna yang jauh lebih luas daripada arti leksikalnya.

Bahasa Berkembang Mengikuti Zaman

Menariknya, bahasa kiasan tidak hanya berasal dari ungkapan lama. Seiring berkembangnya media sosial, masyarakat juga terus menciptakan metafora baru.

Istilah seperti satu frekuensi, red flag, green flag, atau butterfly untuk menggambarkan rasa gugup ketika jatuh cinta semakin sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda.

Bahasa Bukan Sekadar Alat Berbicara

Dalam kajian linguistik, idiom dan metafora menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya alat untuk menyampaikan informasi, tetapi juga cara manusia memahami dunia dan mengekspresikan perasaan.

Tidak semua emosi mudah dijelaskan secara langsung. Karena itu, manusia sering memilih jalan yang lebih halus melalui bahasa kiasan. Daripada berkata, "Aku sangat nyaman berbicara denganmu," seseorang mungkin memilih mengatakan, "Kita satu frekuensi." Daripada hanya menyebut "anak", seseorang mengatakan "buah hati".

Mungkin itulah yang membuat bahasa Indonesia terasa begitu hangat. Di balik ungkapan-ungkapan yang terdengar sederhana, tersimpan cara masyarakat menyampaikan kasih sayang, kekaguman, sindiran, hingga kedekatan emosional tanpa harus selalu mengatakannya secara terus terang.

Editor : Kabun Triyatno
ungkapan metafora kiasan idiom bahasa