RADARSOLO.COM – Bayangkan ada teman dari luar negeri bertanya, "What's pecel?"
Jawabannya apa?
"Peanut salad?"
Sekilas terdengar benar. Namun, semakin dipikirkan, rasanya masih kurang pas.
Baca Juga: Ini Dia Resep Sambal Bawang dan Tahu Telur Ceplok, Sederhana dan Menggugah Selera
Hal yang sama juga terjadi pada makanan Indonesia lainnya. Lalapan sering diterjemahkan sebagai salad, lodeh disebut vegetable soup, sementara rujak kerap ditulis fruit salad.
Padahal, ketiga makanan itu punya cita rasa, cara penyajian, hingga latar budaya yang berbeda dengan makanan yang menjadi padanannya dalam bahasa Inggris.
Ternyata, kesulitannya bukan sekadar soal menerjemahkan kata, tetapi juga menerjemahkan budaya.
Baca Juga: Kimpul Viral di TikTok, Umbi Lokal Ini Disulap Jadi Seblak hingga Arancini
Tidak Semua Kata Punya Padanan yang Pas
Dalam dunia penerjemahan, ada istilah cultural equivalence atau padanan budaya. Artinya, penerjemah tidak hanya memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain, tetapi juga berusaha menyampaikan konsep yang ada di balik kata tersebut.
Masalahnya, tidak semua budaya memiliki konsep yang sama.
Contohnya lalapan. Banyak orang menerjemahkannya menjadi fresh vegetables atau salad. Padahal, salad dalam budaya Barat biasanya disajikan dengan dressing sebagai hidangan utama atau pembuka.
Baca Juga: Phone Stack Challenge, Tren Menumpuk HP Saat Nongkrong agar Obrolan Lebih Fokus
Sementara lalapan adalah sayuran segar yang menjadi pelengkap makanan seperti ayam goreng, ikan bakar, atau sambal.
Begitu pula dengan pecel. Menyebutnya peanut salad memang membantu orang asing mendapat gambaran awal. Namun, pecel bukan sekadar sayuran yang diberi saus kacang. Hidangan khas Jawa ini memiliki bumbu dengan komposisi rempah tertentu yang menjadi identitasnya.
Mirip, tetapi Tidak Sama
Contoh lainnya adalah lodeh. Banyak menu restoran internasional menerjemahkannya menjadi vegetable soup. Padahal, lodeh menggunakan santan dan racikan bumbu khas Nusantara yang membuat rasanya jauh berbeda dari sup sayur pada umumnya.
Hal serupa terjadi pada rujak. Sekilas memang sama-sama berisi potongan buah seperti fruit salad. Namun, rujak menggunakan bumbu gula merah, cabai, terasi, atau kacang yang menghasilkan perpaduan rasa manis, pedas, asam, dan gurih. Konsep ini tidak benar-benar ditemukan dalam fruit salad ala Barat.
Karena itulah, meskipun ada kata yang terlihat "setara", maknanya belum tentu benar-benar sama.
Kadang Lebih Baik Tidak Diterjemahkan
Dalam praktik penerjemahan modern, nama makanan khas justru sering dipertahankan dalam bahasa aslinya. Alih-alih mencari satu kata pengganti, penerjemah biasanya menambahkan penjelasan singkat.
Misalnya: Pecel, a traditional Javanese vegetable dish served with peanut sauce.
Atau: Lodeh, vegetables cooked in coconut milk.
Cara seperti ini dinilai lebih tepat karena pembaca tetap mengenal nama asli makanannya, sekaligus memahami seperti apa hidangan tersebut.
Strategi serupa juga dilakukan banyak negara lain. Kata seperti sushi, kimchi, paella, atau croissant.
Bahasa dan Budaya Tidak Bisa Dipisahkan
Kesulitan menerjemahkan nama makanan menunjukkan bahwa bahasa selalu berjalan berdampingan dengan budaya. Satu kata sering kali membawa sejarah, kebiasaan, hingga cara hidup masyarakat yang menciptakannya.
Jadi, ketika suatu hari ada teman asing bertanya, "What is pecel?", mungkin jawaban terbaik bukan mencari satu kata bahasa Inggris yang dianggap paling mirip. Justru nama pecel, rujak, lodeh, atau lalapan layak tetap dipertahankan, lalu dijelaskan maknanya. Sebab, yang sedang diperkenalkan bukan hanya makanan, tetapi juga sepotong budaya Indonesia.
Editor : Kabun Triyatno