RADARSOLO.COM - Kamu bertanya-tanya kenapa bisa tiba-tiba dekat dengan seseorang hanya karena sering bertemu? Awalnya mungkin cuma teman sekelas, teman satu organisasi, tetangga, atau rekan kerja. Akan tetapi, karena hampir setiap hari bertemu, lama-lama jadi sering ngobrol dan akhirnya berteman.
Fenomena tersebut ternyata memiliki istilah dalam psikologi, yaitu propinquity effect. Sederhananya, propinquity effect adalah kecenderungan seseorang untuk lebih mudah membangun hubungan dengan orang yang sering berada di dekat atau sering ditemuinya.
Hal ini sebenarnya cukup mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang yang awalnya tidak mengenal teman sebangkunya di kelas tetapi karena setiap hari duduk bersebelahan, mereka mulai saling menyapa, bertukar cerita, hingga akhirnya menjadi teman.
Baca Juga: Mengenal Halo Effect, Alasan Kita Mudah Terpikat pada Pandangan Pertama
Begitu pula di lingkungan kerja. Orang yang awalnya hanya sebatas rekan satu ruangan bisa menjadi lebih dekat karena sering bertemu dan berinteraksi dalam berbagai situasi.
Frekuensi pertemuan membuat seseorang memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengenal orang lain. Dari obrolan singkat, kebiasaan kecil, sampai pengalaman yang dilakukan bersama, perlahan muncul rasa familiar.
Rasa familiar tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kita bisa merasa lebih nyaman dengan orang yang sering ditemui. Seseorang yang awalnya terasa asing lama-kelamaan menjadi sosok yang keberadaannya terasa biasa dalam kehidupan sehari-hari.
Sering bertemu tentu bukan satu-satunya faktor yang menentukan sebuah pertemanan. Hubungan tetap membutuhkan interaksi, kecocokan, rasa nyaman, serta pengalaman bersama. Dua orang yang sering bertemu pun belum tentu menjadi teman dekat jika tidak memiliki kesempatan atau keinginan untuk berinteraksi.
Baca Juga: Mengenal Platonic Soulmate, Sahabat yang Rasanya Sudah Seperti Keluarga
Menariknya, propinquity effect juga dapat terjadi dalam lingkungan digital. Media sosial membuat seseorang bisa "sering bertemu" secara virtual melalui unggahan, komentar, grup percakapan, atau komunitas tertentu. Frekuensi interaksi tersebut dapat membuat seseorang terasa lebih familiar meskipun belum pernah bertemu secara langsung.
Itulah sebabnya teman yang awalnya hanya dikenal karena berada di lingkungan yang sama bisa perlahan menjadi bagian penting dalam kehidupan kita.
Editor : Kabun Triyatno