Kok Tiba-Tiba Semua Orang Membahas Hal yang Sama? Begini Cara Algoritma Membuat Sebuah Produk Viral

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 19:10 WIB
Algoritma media sosial seperti TikTok dan IG memanfaatkan interaksi pengguna untuk menampilkan konten serupa.
Algoritma media sosial seperti TikTok dan IG memanfaatkan interaksi pengguna untuk menampilkan konten serupa.

RADARSOLO.COM – Minggu lalu mungkin linimasa TikTok atau Instagram-mu dipenuhi video tentang boneka Labubu. Tak lama kemudian, FYP berganti menampilkan kreasi masakan dari kimpul. Sebelumnya lagi ada Dubai Chocolate, cromboloni, es lumut, hingga berbagai minuman viral yang seolah muncul di mana-mana.

Kalau melihat media sosial setiap hari, rasanya seperti seluruh Indonesia sedang membicarakan hal yang sama. Namun, benarkah demikian?

Jawabannya belum tentu. Apa yang kita lihat di media sosial sering kali merupakan hasil kerja algoritma yang dirancang untuk menampilkan konten yang paling mungkin menarik perhatian kita.

Baca Juga: Pecel, Rujak, hingga Lodeh, Kenapa Sulit Dicari Padanan Bahasa Inggrisnya?

Kenapa FYP Bisa Terlihat "Seragam"?

Platform seperti TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts menggunakan algoritma untuk menentukan konten apa yang muncul di layar pengguna. Sistem ini mempelajari berbagai sinyal, mulai dari video yang ditonton sampai habis, yang diberi tanda suka, dibagikan, dikomentari, atau bahkan yang hanya ditonton berulang kali.

Semakin besar interaksi terhadap sebuah konten, semakin besar pula peluang konten serupa didistribusikan kepada pengguna lain.

Itulah sebabnya, ketika satu video tentang kimpul mendapat jutaan penonton, tidak butuh waktu lama hingga muncul puluhan bahkan ratusan video lain dengan tema yang sama. Kreator lain ikut mencoba resepnya, memberikan ulasan, atau membuat versi mereka sendiri karena peluang masuk FYP juga semakin besar.

Baca Juga: Kok Emoji Tidak Bisa Bergerak? Padahal GIF dan Stiker Bisa

Semakin Sering Dilihat, Semakin Terasa Viral

Fenomena ini berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai filter bubble atau gelembung informasi.

Sederhananya, algoritma cenderung memperlihatkan konten yang sesuai dengan minat pengguna. Jika seseorang beberapa kali berhenti menonton video tentang makanan viral, sistem akan menganggap topik tersebut menarik baginya.

Akibatnya, FYP dipenuhi konten serupa.

Lama-kelamaan muncul kesan bahwa "semua orang" sedang membicarakan produk yang sama. Padahal, pengguna lain yang lebih sering menonton konten otomotif, sepak bola, atau kecantikan bisa saja memiliki FYP yang sama sekali berbeda.

Kenapa Kreator Ikut Membahas Hal yang Sama?

Ketika sebuah produk mulai viral, kreator konten biasanya ikut membahasnya bukan tanpa alasan.

Mereka mengetahui bahwa topik yang sedang ramai memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau penonton baru. Karena itu, muncul berbagai versi konten, mulai dari ulasan, reaksi, resep, perbandingan, hingga percobaan yang dibuat dengan gaya masing-masing.

Fenomena inilah yang pernah terjadi pada cromboloni, Dubai Chocolate, minuman matcha, Labubu, hingga belakangan kreasi olahan kimpul. Satu ide berkembang menjadi ratusan bahkan ribuan video dalam waktu singkat.

Semakin banyak orang membuat konten serupa, semakin kuat pula kesan bahwa produk tersebut sedang menjadi pembicaraan nasional.

Viral Belum Tentu Disukai Semua Orang

Perlu diingat, viral tidak selalu berarti semua orang menyukai atau bahkan mengetahui suatu produk. Dalam banyak kasus, viral hanya menunjukkan bahwa sebuah topik berhasil menarik perhatian dan menghasilkan interaksi tinggi dalam waktu tertentu.

Bisa jadi seseorang yang aktif di TikTok merasa seluruh dunia sedang membahas kimpul, sementara pengguna media sosial lain sama sekali belum pernah melihatnya.

Karena itu, apa yang muncul di FYP sebenarnya lebih mencerminkan perpaduan antara minat kita dan cara algoritma bekerja daripada gambaran utuh tentang apa yang sedang dibicarakan semua orang.

Editor : Kabun Triyatno
algoritma filter bubble media sosial konten platform