RADARSOLO.COM – Masih ingat saat hampir setiap sudut kota dipenuhi gerai boba? Antreannya panjang, media sosial penuh foto gelas plastik dengan mutiara hitam, dan rasanya hampir semua orang pernah mencobanya.
Beberapa tahun kemudian, tren bergeser. Muncul dalgona coffee, lalu cold brew, oat latte, dirty matcha, pistachio latte, hingga belakangan aneka kreasi berbahan ube atau ubi ungu yang ramai menghiasi linimasa media sosial.
Baca Juga: Kenapa Bahasa Indonesia Tidak Punya Tingkatan Bahasa Seperti Bahasa Jawa?
Menariknya, hampir setiap tahun selalu ada "minuman utama" yang jadi perbincangan. Sebagian bertahan lama, sebagian lagi perlahan menghilang dan digantikan tren baru.
Lalu, kenapa tren minuman bisa datang silih berganti begitu cepat?
Bukan Sekadar Enak, tetapi Harus Menarik Dilihat
Di era media sosial, rasa memang penting. Namun, itu bukan lagi satu-satunya alasan seseorang membeli minuman.
Warna hijau cerah pada matcha, ungu khas ube, lapisan susu dan espresso pada dirty matcha, atau busa tebal dalgona coffee membuat minuman terlihat menarik bahkan sebelum diminum.
Baca Juga: Bukan Cuma Musik Klasik, Ini yang Bikin Orkestra Menarik
Visual yang unik membuat orang terdorong mengambil foto atau merekam video, lalu membagikannya ke media sosial. Dari situlah sebuah menu mulai mendapat perhatian lebih luas.
Selalu Ada Hal Baru yang Dicari
Dalam dunia pemasaran, ada istilah novelty effect, yaitu kecenderungan seseorang tertarik pada sesuatu yang baru.
Ketika boba sudah terasa biasa, muncul matcha dengan berbagai variasi. Saat matcha mulai banyak dijual, hadir lagi pistachio latte, strawberry matcha, hingga minuman berbahan ube yang menawarkan pengalaman berbeda.
Baca Juga: Kamu Pemalu? Ekspresikan Saja Melalui Emoji
Bukan berarti minuman sebelumnya tidak lagi enak. Hanya saja, konsumen selalu penasaran dengan sesuatu yang belum pernah mereka coba.
Media Sosial Membuat Tren Menyebar Lebih Cepat
Kalau dulu tren kuliner menyebar dari mulut ke mulut, sekarang cukup satu video viral untuk membuat sebuah menu langsung dikenal banyak orang.
Ketika seorang kreator mengulas minuman baru dan videonya ditonton jutaan kali, pengguna lain mulai penasaran. Mereka datang ke kedai yang sama, membuat ulasan versi sendiri, lalu mengunggahnya kembali.
Siklus ini terus berulang hingga sebuah minuman terasa seperti "ada di mana-mana".
Padahal, yang bekerja bukan hanya rasa penasaran masyarakat, tetapi juga algoritma media sosial yang terus merekomendasikan konten serupa kepada pengguna yang pernah menontonnya.
Kenapa Coffee Shop Selalu Punya Menu Baru?
Pernah memperhatikan bahwa banyak kedai kopi rutin meluncurkan menu edisi terbatas?
Strategi ini bukan tanpa alasan.
Menu musiman membuat pelanggan merasa harus segera mencoba sebelum produk tersebut menghilang dari daftar menu. Perasaan takut ketinggalan atau fear of missing out (FOMO) inilah yang sering mendorong orang membeli lebih cepat.
Selain itu, menu baru juga memberi alasan bagi pelanggan lama untuk kembali datang. Daripada hanya memesan latte yang sama setiap minggu, mereka terdorong mencoba rasa yang sedang ramai dibicarakan.
Bagi pelaku usaha, inovasi menu juga menjadi cara untuk menjaga percakapan di media sosial tetap hidup.
Lalu Kenapa Kopi Hitam Jarang Viral?
Menariknya, kopi hitam klasik atau americano memang jarang menjadi tren besar di media sosial.
Bukan karena rasanya kalah enak, melainkan karena tampilannya cenderung sederhana dan tidak banyak berubah. Berbeda dengan minuman yang memiliki warna mencolok, lapisan yang kontras, atau nama yang unik, kopi hitam tidak menawarkan banyak elemen visual yang mengundang rasa penasaran.
Di media sosial, minuman yang cepat viral biasanya memiliki kombinasi yang lengkap: tampilannya menarik, namanya mudah diingat, punya cerita di baliknya, mudah difoto, dan tentu saja enak untuk dibagikan ke teman.
Editor : Kabun Triyatno