Sudah Kenyang, Kok Masih Muat Dessert? Ternyata Otak Kita Punya Jawabannya

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 08:15 WIB
Fenomena dessert stomach terjadi akibat sensory-specific satiety, yaitu saat otak bosan dengan rasa gurih lalu tergiur rasa manis. Sistem reward otak pun kembali aktif meski perut sebenarnya sudah kenyang.
Fenomena dessert stomach terjadi akibat sensory-specific satiety, yaitu saat otak bosan dengan rasa gurih lalu tergiur rasa manis. Sistem reward otak pun kembali aktif meski perut sebenarnya sudah kenyang.

RADARSOLO.COM – Pernah mengalami situasi seperti ini? Setelah menghabiskan seporsi nasi, lauk, dan minuman, rasanya perut sudah benar-benar penuh. Tetapi begitu melihat etalase berisi es krim, cheesecake, tiramisu, atau sepotong brownies, tiba-tiba muncul kalimat, "Dessert masih muat, kok."

Kalau pernah, tenang saja. Kamu tidak sendirian.

Fenomena ini ternyata bukan sekadar alasan untuk memanjakan diri. Para peneliti telah lama menemukan bahwa keinginan menikmati makanan penutup setelah makan besar berkaitan dengan cara kerja otak dalam merespons makanan.

Baca Juga: Legendaris Sejak 1977, Sego Tumpang Congor Mbok Semi Boyolali Tawarkan Sensasi Makan di Pawon

Ada Istilahnya, Namanya Dessert Stomach

Meski bukan istilah medis resmi, banyak orang menyebut fenomena ini sebagai dessert stomach, yaitu kondisi ketika seseorang merasa masih memiliki "ruang khusus" untuk makanan manis meskipun sudah kenyang.

Dalam dunia sains, fenomena tersebut berkaitan dengan konsep sensory-specific satiety. Artinya, rasa puas yang kita rasakan setelah makan ternyata lebih spesifik terhadap jenis makanan yang baru saja dikonsumsi.

Baca Juga: Ini Dia Resep Sambal Bawang dan Tahu Telur Ceplok, Sederhana dan Menggugah Selera

Misalnya, setelah menyantap nasi, ayam, dan sayur, otak mulai merasa bosan dengan rasa gurih yang terus-menerus diterima. Namun ketika muncul makanan dengan rasa berbeda, seperti manis, segar, atau sedikit asam, otak kembali tertarik untuk mencicipinya.

Itulah sebabnya melihat dessert setelah makan sering kali tetap menggugah selera.

Kenyang di Perut, tetapi Otak Masih Tertarik

Rasa kenyang ternyata tidak hanya ditentukan oleh kondisi lambung. Otak juga memiliki peran besar dalam mengatur nafsu makan.

Baca Juga: Bangkit dari Keterbatasan, Usaha Kue Tantiningsih Kini Mampu Topang Ekonomi Keluarga Berkat Sinergi Holding UMi

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketika melihat makanan yang dianggap menarik, terutama makanan manis, bagian otak yang berhubungan dengan sistem penghargaan (reward system) dapat kembali aktif. Aktivitas ini memunculkan rasa ingin makan, meskipun kebutuhan energi tubuh sebenarnya sudah terpenuhi.

Dengan kata lain, keinginan menikmati dessert bukan selalu karena tubuh masih lapar, melainkan karena otak melihat adanya pengalaman rasa yang baru.

Kenapa Dessert Biasanya Manis?

Sebagian besar makanan penutup memang didominasi rasa manis. Hal ini bukan kebetulan.

Rasa manis sejak lama diasosiasikan dengan sumber energi cepat sehingga secara alami lebih mudah menarik perhatian otak. Selain itu, tekstur lembut, aroma yang harum, hingga tampilan dessert yang menggoda juga ikut meningkatkan keinginan untuk mencicipinya.

Tidak heran jika banyak restoran menyajikan menu penutup dengan presentasi yang menarik. Selain memanjakan mata, tampilannya juga mampu membangkitkan selera meski pelanggan baru saja selesai makan.

Media Sosial Juga Punya Peran

Di era media sosial, godaan dessert menjadi semakin besar.

Video potongan kue yang meleleh, es krim yang dituang saus cokelat, atau cheesecake dengan tekstur lembut sering kali memenuhi linimasa. Tanpa sadar, konten seperti ini dapat memicu keinginan untuk ikut mencobanya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa nafsu makan tidak hanya dipengaruhi rasa lapar, tetapi juga oleh apa yang kita lihat setiap hari.

Tetap Nikmati dengan Bijak

Memiliki keinginan menyantap dessert setelah makan bukan berarti ada yang salah dengan tubuh kita. Itu merupakan bagian dari cara otak merespons variasi rasa dan pengalaman makan.

Meski begitu, bukan berarti setiap keinginan harus selalu dipenuhi. Jika terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi gula dalam porsi besar, asupan kalori harian tentu bisa meningkat tanpa disadari.

Sesekali menikmati dessert setelah makan tentu tidak masalah. Justru, memahami alasan ilmiah di balik kebiasaan ini dapat membantu kita lebih bijak dalam memilih porsi dan frekuensinya.

Jadi, lain kali ketika berkata, "Perut buat dessert masih ada," mungkin itu bukan sekadar candaan. Bisa jadi, otakmu memang sedang memberi sinyal bahwa ia masih penasaran dengan rasa yang berbeda.

Editor : Kabun Triyatno
makanan penutup rasa manis reward dessert