RADARSOLO.COM – "Manifesting lulus sidang."
"Manifesting dapat tiket konser."
"Manifesting gajian cepat."
Kalau aktif membuka TikTok, X, atau Instagram, kamu mungkin sering menemukan komentar seperti itu. Kata manifesting kini muncul di mana-mana, mulai dari unggahan tentang kuliah, pekerjaan, hingga kehidupan sehari-hari. Bahkan, tak sedikit orang menggunakannya hanya sebagai candaan.
Padahal, sebelum menjadi bagian dari bahasa internet, manifesting lebih dulu dikenal lewat buku-buku pengembangan diri dan pembahasan tentang law of attraction. Lalu, bagaimana kata ini bisa berubah menjadi kosakata yang akrab di kolom komentar media sosial?
Baca Juga: Sudah Kenyang, Kok Masih Muat Dessert? Ternyata Otak Kita Punya Jawabannya
Berawal dari Kata "Manifest"
Secara bahasa, manifesting berasal dari kata kerja bahasa Inggris manifest, yang berarti membuat sesuatu menjadi nyata, terlihat, atau terwujud. Dalam perkembangannya, kata ini banyak digunakan dalam buku motivasi dan pengembangan diri untuk menggambarkan proses memvisualisasikan tujuan, menjaga pola pikir positif, lalu mewujudkannya melalui tindakan.
Karena sering muncul dalam buku, podcast, hingga konten kreator yang membahas pengembangan diri, istilah manifesting pun mulai dikenal oleh lebih banyak orang, termasuk di Indonesia.
Dari Istilah Motivasi Menjadi Bahasa Internet
Perjalanan kata ini berubah ketika media sosial mulai menjadikannya bagian dari percakapan sehari-hari.
Baca Juga: Kok Tiba-Tiba Semua Orang Membahas Hal yang Sama? Begini Cara Algoritma Membuat Sebuah Produk Viral
Di TikTok, X, maupun Instagram, orang-orang menggunakan manifesting sebagai cara sederhana untuk mengungkapkan harapan atau keinginan.
"Manifesting nilai A semester ini."
"Manifesting liburan ke Jepang."
Menariknya, banyak pengguna media sosial tidak lagi memakai kata tersebut dalam konteks pengembangan diri. Sebaliknya, manifesting berubah menjadi ungkapan yang lebih ringan, spontan, bahkan sering kali disampaikan dengan nada bercanda.
Maknanya Ikut Bergeser
Dalam kajian linguistik, perubahan seperti ini bukanlah hal baru. Ketika sebuah kata digunakan oleh semakin banyak orang dalam konteks yang berbeda, maknanya juga dapat berkembang.
Awalnya, manifesting merujuk pada proses yang berkaitan dengan visualisasi tujuan dan usaha untuk mencapainya. Kini, di media sosial, kata tersebut lebih sering dipahami sebagai ungkapan yang mirip dengan "semoga", "amin", atau "mudah-mudahan".
Perubahan makna inilah yang membuat sebuah kata tetap hidup dan terus digunakan.
Bahasa Selalu Mengikuti Zamannya
Fenomena manifesting menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya melahirkan kosakata baru, tetapi juga mengubah cara orang memahami sebuah kata.
Jika dulu manifesting lebih dekat dengan dunia motivasi, kini kata itu telah menjadi bagian dari bahasa digital yang digunakan jutaan orang setiap hari. Maknanya pun terasa lebih fleksibel, menyesuaikan konteks dan kebiasaan pengguna media sosial.
Bukan tidak mungkin, beberapa tahun lagi akan muncul kata lain yang mengalami perjalanan serupa. Sebab, bahasa tidak pernah benar-benar diam. Ia terus bergerak mengikuti perkembangan budaya, teknologi, dan cara masyarakat berkomunikasi.
Jadi, lain kali ketika melihat komentar "manifesting weekend tiga hari" atau "manifesting semua urusan lancar", mungkin itu bukan sekadar mengikuti tren. Bisa jadi, kita sedang menyaksikan bagaimana sebuah kata perlahan berubah makna dan menemukan tempat baru dalam bahasa sehari-hari.
Editor : Kabun Triyatno