Kenapa Cowok Muji Cowok Lain Terasa Aneh?

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 11:25 WIB
Ilustrasi Ketika Seorang Cowok Memuji Cowok Lain. (AI Generated)
Ilustrasi Ketika Seorang Cowok Memuji Cowok Lain. (AI Generated)

RADARSOLO.COM - “Bro, lo ganteng banget.”

Kalimat sederhana seperti itu mungkin terdengar biasa saja jika diucapkan seorang perempuan kepada temannya.

 Ketika seorang cowok mengatakannya kepada teman cowok lainnya, respons yang muncul bisa berbeda. Ada yang langsung tertawa, membalas dengan candaan, atau justru merasa sedikit canggung.

Padahal, sama-sama pujian. Lantas, kenapa pujian antarcowok, terutama yang menyangkut penampilan, sering terasa lebih aneh dibandingkan pujian antarcewek?

Baca Juga: Dari Buku Motivasi ke Kolom Komentar, Begini Perjalanan Kata "Manifesting"

Jawabannya tidak lepas dari cara masyarakat membentuk gambaran tentang maskulinitas. Sejak lama, laki-laki sering ditempatkan pada standar bahwa mereka harus terlihat kuat, mandiri, tegas, dan tidak terlalu menunjukkan emosi.

Ekspresi kehangatan atau kekaguman secara terbuka kepada sesama laki-laki pun dalam budaya tertentu dapat dianggap tidak sesuai dengan gambaran tersebut.

Baca Juga: Apa Itu “Lantam”? Ini Asal-usul, Arti, dan Alasan Tren Ini Viral di TikTok

Hal ini ikut membentuk kebiasaan dalam pertemanan laki-laki. Kedekatan antarcowok sering kali ditunjukkan melalui candaan, ejekan, atau saling meledek. Seorang teman mungkin tidak mengatakan, “Gue bangga sama lo,” tetapi justru berkata, “Tumben nggak gagal.” Pujian tetap ada, hanya dikemas dengan cara yang lebih tidak langsung.

Deborah Tannen dalam kajian sosiolinguistik pernah membahas perbedaan kecenderungan komunikasi laki-laki dan perempuan melalui konsep Genderlect Style.

Baca Juga: Sudah Kenyang, Kok Masih Muat Dessert? Ternyata Otak Kita Punya Jawabannya

Tannen memperkenalkan istilah Rapport Talk dan Report Talk. Secara sederhana, Rapport Talk lebih menekankan hubungan, kedekatan, dan solidaritas, sedangkan Report Talk lebih banyak berkaitan dengan informasi, status, kompetisi, dan pemecahan masalah.

Konsep tersebut memang tidak bisa digunakan untuk menggeneralisasi semua laki-laki dan perempuan karena cara berkomunikasi setiap orang dipengaruhi banyak faktor.

Akan tetapi, gagasan Tannen dapat membantu melihat mengapa pujian yang secara langsung membangun kedekatan atau mengomentari penampilan bisa terasa kurang lazim dalam sebagian pertemanan laki-laki.

Baca Juga: Apa Itu Drag Path? Tren TikTok yang Berawal dari Jejak Perjuangan dan Berkembang Menjadi Simbol Kenangan

Kata “ganteng” juga memiliki persoalan tersendiri. Dalam pemahaman tradisional, kata tersebut kerap digunakan untuk menggambarkan daya tarik fisik seseorang dan dapat muncul dalam konteks romantis.

Sebab itu, ketika seorang cowok mengatakan “ganteng” kepada cowok lain, sebagian orang bisa langsung merasa bahwa ucapan tersebut terlalu personal atau khawatir akan disalahartikan.

Padahal, mengakui ketampanan seseorang tidak otomatis berarti memiliki ketertarikan romantis. Seorang laki-laki bisa saja mengatakan aktor atau atlet lain ganteng karena mengakui penampilan, gaya, karisma, atau kemampuannya merawat diri.

Makna sebuah pujian tetap bergantung pada konteks, hubungan antara pembicara dan lawan bicara, serta cara pujian tersebut disampaikan.

Batas tersebut juga semakin cair di kalangan anak muda, terutama di media sosial. Coba lihat kolom komentar TikTok, Instagram, atau X. Kita bisa menemukan komentar seperti “ganteng banget, suhu”, “cakep juga lo, bro”, atau “ganteng banget sepuh”.

Dalam konteks seperti ini, kata “ganteng” tidak selalu digunakan untuk menunjukkan ketertarikan. Sering kali, kata tersebut menjadi bentuk candaan, apresiasi, atau pujian yang sengaja dibuat berlebihan.

Budaya meme dan ironi di internet ikut membuat perubahan tersebut semakin mudah terjadi. Kata yang secara langsung mungkin terasa terlalu serius dapat digunakan secara berlebihan justru untuk menghasilkan efek lucu.

Ketika seseorang menulis “ganteng banget suhu” kepada temannya, pujian tersebut bisa dipahami sebagai bagian dari humor sekaligus bentuk validasi.

Cara anak muda membangun pertemanan juga semakin terbuka terhadap ekspresi dukungan. Istilah bromance, misalnya, digunakan untuk menggambarkan persahabatan dekat antarlaki-laki yang tidak memiliki unsur romantis.

Dalam budaya populer dan media sosial, hubungan semacam ini semakin sering ditampilkan melalui dukungan, kedekatan emosional, dan ekspresi kekaguman yang lebih terbuka.

Baca Juga: Mengenal Propinquity Effect, Kenapa Kita Bisa Dekat dengan Orang yang Sering Ditemui?

Artinya, kedekatan dengan teman laki-laki tidak selalu harus ditunjukkan melalui ejekan atau kompetisi. Pujian dan dukungan juga bisa menjadi bagian dari pertemanan.

Perubahan cara berkomunikasi ini membuat standar maskulinitas tradisional perlahan menjadi lebih cair. Laki-laki tidak harus selalu menjaga jarak emosional dengan teman sesama jenis.

Mengatakan “keren”, “ganteng”, atau “gue bangga sama lo” juga bisa menjadi bentuk apresiasi sederhana tanpa harus memiliki makna romantis.

Faktor usia, lingkungan pertemanan, budaya, dan kebiasaan berkomunikasi ikut menentukan bagaimana seseorang menerima pujian dari sesama laki-laki. Bagi sebagian orang, “Bro, lo ganteng” mungkin sudah terdengar biasa.

Bagi yang lain, kalimat tersebut masih cukup untuk membuat suasana tongkrongan mendadak hening selama tiga detik.

 

Editor : Kabun Triyatno
cowok pujian maskulinitas rapport talk report talk