RADARSOLO.COM - Pernah dekat dengan seseorang yang sikapnya sudah seperti pacar, tetapi ketika ditanya soal hubungan justru jawabannya, “Jalanin aja dulu”? Atau mungkin dia rajin menghubungi, perhatian, sering mengajak bertemu, tetapi tiba-tiba berubah cuek ketika hubungan mulai terasa serius?
Di media sosial, laki-laki dengan sikap seperti ini belakangan kerap disebut sebagai “cowok bingung”. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memberikan perhatian dan membangun kedekatan tetapi tidak kunjung memberikan kejelasan mengenai arah hubungan.
Istilah “cowok bingung” dipahami sebagai bahasa gaul yang digunakan anak muda untuk menggambarkan pengalaman mereka dalam hubungan yang terasa abu-abu.
Baca Juga: Apa Itu “Manchild”? Kenapa Ada Orang Dewasa yang Sulit Bersikap Dewasa?
Salah satu cirinya adalah sikap yang tidak konsisten. Hari ini dia bisa sangat perhatian, rajin mengirim pesan, menanyakan kabar, bahkan bersikap layaknya seorang pasangan. Akan tetapi, beberapa hari kemudian sikapnya bisa berubah menjadi lebih dingin tanpa penjelasan yang jelas.
Ketidakjelasan juga biasanya muncul ketika hubungan mulai dibicarakan secara serius. Saat ditanya “kita sebenarnya apa?”, jawabannya bisa berupa “jalanin dulu”, “aku belum tahu”, “aku belum siap”, atau “kenapa harus diberi label?”
Masalahnya, di sisi lain dia tetap ingin mempertahankan kedekatan tersebut.
“Cowok bingung” sering dikaitkan dengan hubungan tanpa status. Dia ingin tetap mendapatkan perhatian, tempat bercerita, teman jalan, atau kedekatan emosional seperti pasangan, tetapi belum tentu ingin memikul tanggung jawab dan komitmen yang menyertainya.
Baca Juga: Dari TTM hingga Situasionship, Begini Evolusi Istilah Hubungan yang Dipakai Anak Muda
Tidak semua sikap seperti ini berarti seseorang sengaja mempermainkan perasaan orang lain. Ada juga orang yang memang belum yakin dengan perasaannya, takut berkomitmen, atau merasa belum siap menjalani hubungan serius.
Sebagian orang mungkin khawatir kehilangan kebebasan ketika masuk ke dalam hubungan. Ada pula yang merasa belum siap secara mental, emosional, atau finansial untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Dalam kondisi seperti ini, seseorang bisa memilih mempertahankan kedekatan sambil terus mencari kepastian dari dirinya sendiri.
Ada pula kemungkinan bahwa perhatian tersebut memang memberikan rasa nyaman dan validasi. Mendapatkan seseorang yang selalu siap mengobrol, memberikan perhatian, atau mengagumi dirinya tentu menyenangkan. Masalah muncul ketika kenyamanan tersebut dipertahankan tanpa adanya kejelasan mengenai apa yang sebenarnya diinginkan kedua pihak.
Istilah ini kemudian semakin mudah digunakan karena banyak orang merasa relate dengan pengalaman yang sama. Media sosial memberikan ruang bagi pengguna untuk menceritakan kisah hubungan mereka, membandingkan pengalaman, sekaligus memberikan label terhadap perilaku yang sebelumnya sulit dijelaskan.
Jika seseorang terus memberikan perhatian tetapi menghindari pembicaraan mengenai arah hubungan, komunikasi yang jelas menjadi hal penting. Daripada terus menebak-nebak maksudnya, lebih baik menyampaikan apa yang sebenarnya diinginkan dari hubungan tersebut.
Misalnya, seseorang bisa mengatakan, “Aku nyaman sama kamu, tapi aku mencari hubungan yang punya arah jelas. Kamu sebenarnya ingin hubungan ini dibawa ke mana?”
Jawabannya kemudian bisa menjadi bahan pertimbangan. Bukan hanya kata-katanya, tetapi juga tindakan yang dilakukan setelah pembicaraan tersebut.
Editor : Kabun Triyatno