Underconsumption Core, Tren yang Mengajak Kita Berhenti Belanja Berlebihan

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 08:17 WIB
Bukan anti belanja, tren underconsumption core mengajak kita pakai barang sampai habis & beli sesuai kebutuhan. Solusi tepat hadapi shopping fatigue!
Bukan anti belanja, tren underconsumption core mengajak kita pakai barang sampai habis & beli sesuai kebutuhan. Solusi tepat hadapi shopping fatigue!

RADARSOLO.COM – Selama beberapa tahun terakhir, media sosial dipenuhi video shopping haul, rak skincare yang penuh, hingga tren membeli barang demi mengikuti estetika tertentu. Tidak sedikit orang merasa terdorong membeli sesuatu hanya karena sedang viral atau muncul terus-menerus di linimasa.

Namun belakangan, muncul tren baru yang justru mengajak orang melakukan kebalikannya. Namanya underconsumption core.

Tren yang ramai di TikTok ini mengajak pengguna untuk membeli lebih sedikit, menggunakan barang sampai benar-benar habis, serta mengurangi kebiasaan konsumtif yang selama ini dianggap sebagai gaya hidup normal.

Baca Juga: Kapan Kuliner Nusantara Bisa Punya Emoji Sendiri di Keyboard?

Alih-alih memamerkan belanjaan baru, banyak kreator kini justru menunjukkan lipstik yang dipakai hingga dasar kemasan, sepatu yang sudah bertahun-tahun masih digunakan, atau pakaian lama yang dipadukan kembali agar terlihat berbeda.

Beli karena Butuh, Bukan karena Bosan

Salah satu prinsip utama underconsumption core adalah membeli barang berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar keinginan sesaat.

Banyak orang mengaku pernah membeli pakaian, tas, atau aksesori hanya karena sedang diskon, melihat rekomendasi kreator favorit, atau takut ketinggalan tren. Padahal, barang tersebut belum tentu benar-benar dibutuhkan.

Lewat tren ini, pengguna media sosial mulai mempertanyakan kembali kebiasaan tersebut. Mereka mencoba menunda pembelian, membuat daftar kebutuhan, hingga bertanya pada diri sendiri apakah barang itu memang diperlukan atau hanya memberikan kesenangan sesaat.

Baca Juga: Kok Emoji Tidak Bisa Bergerak? Padahal GIF dan Stiker Bisa

Menghabiskan Barang Sebelum Membeli yang Baru

Di media sosial, tren ini juga melahirkan tantangan seperti Project Pan, yaitu menggunakan produk kosmetik atau perawatan hingga benar-benar habis sebelum membeli penggantinya.

Konsep yang sama juga diterapkan pada barang lain, mulai dari pakaian, alat tulis, hingga perlengkapan rumah tangga.

Alih-alih mengejar koleksi terbaru, banyak orang justru merasa puas ketika berhasil memaksimalkan fungsi barang yang sudah mereka miliki.

Bagi sebagian orang, kebiasaan ini juga membantu mengurangi pengeluaran yang sering kali tidak disadari.

Memperbaiki, Bukan Langsung Mengganti

Underconsumption core juga mendorong orang untuk lebih kreatif memanfaatkan barang yang sudah ada.

Pakaian yang robek dijahit kembali, furnitur lama dicat ulang, atau baju yang jarang dipakai dipadukan dengan gaya berbeda agar terasa seperti baru. Sebagian memilih membeli barang bekas berkualitas melalui toko thrift daripada membeli produk baru.

Baca Juga: Punya Standar Tinggi Itu Salah? Ini Bedanya Standar dan Ekspektasi Berlebihan

Prinsipnya sederhana, yaitu memperpanjang usia pakai suatu barang selama masih bisa digunakan dengan baik.

Kenapa Tren Ini Muncul?

Ada beberapa alasan yang membuat underconsumption core mendapat perhatian.

Dari sisi ekonomi, biaya hidup yang terus meningkat membuat banyak orang mulai lebih berhati-hati mengatur pengeluaran. Harga kebutuhan sehari-hari yang naik, biaya tempat tinggal, hingga tekanan ekonomi membuat kebiasaan belanja impulsif terasa semakin membebani.

Di sisi lain, kesadaran terhadap isu lingkungan juga semakin meningkat. Industri fesyen cepat (fast fashion) dan siklus produksi barang yang sangat singkat menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Menggunakan barang lebih lama dipandang sebagai salah satu langkah sederhana untuk mengurangi dampak tersebut.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah munculnya shopping fatigue, yaitu rasa lelah karena terus-menerus dibombardir rekomendasi produk oleh algoritma media sosial. Setiap membuka aplikasi, pengguna disuguhi video "barang yang wajib dibeli", "racun TikTok", atau "produk yang lagi viral". Lama-kelamaan, sebagian orang justru memilih mengambil jarak dari budaya konsumsi yang serba cepat itu.

Bukan Berarti Anti Belanja

Meski namanya underconsumption, tren ini bukan berarti melarang orang berbelanja atau menikmati produk baru.

Inti dari gerakan ini adalah mengajak masyarakat lebih sadar terhadap keputusan membeli. Membeli barang baru tetap boleh dilakukan, tetapi didasarkan pada kebutuhan dan manfaat jangka panjang, bukan semata-mata karena sedang viral atau takut ketinggalan tren.

Di tengah derasnya promosi dan algoritma yang terus mendorong konsumsi, underconsumption core menjadi pengingat bahwa terkadang, barang terbaik bukanlah yang baru dibeli, melainkan yang sudah ada dan masih bisa dimanfaatkan dengan baik.

Editor : Kabun Triyatno
underconsumption tiktok media sosial pengeluaran kebutuhan