Di Tengah Tren Permainan Modern, Lomba 17 Agustus Masih Bertahan

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 15:33 WIB
Lansia mengikuti lomba Hari Kemerdekaan di Solo. (Arief Budiman/Radar Solo)
Lansia mengikuti lomba Hari Kemerdekaan di Solo. (Arief Budiman/Radar Solo)
 
RADARSOLO.COM – Di era ketika hiburan didominasi gim daring, media sosial, hingga teknologi virtual, ada satu tradisi yang hampir selalu kembali setiap bulan Agustus. Balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, hingga bakiak masih menjadi perlombaan yang ramai digelar di kampung, sekolah, perkantoran, bahkan kompleks perumahan.

Menariknya, sebagian besar lomba tersebut sudah dikenal masyarakat Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Meski zaman berubah dan pilihan hiburan semakin beragam, permainan sederhana itu tetap bertahan dan menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari perayaan Hari Kemerdekaan.

Lantas, apa yang membuat lomba-lomba 17 Agustus tetap digemari hingga sekarang?

Baca Juga: Tips Browsing Aman, Jangan Sampai Sekali Klik Bikin Rugi

Lebih dari Sekadar Mencari Pemenang

Berbeda dengan kompetisi olahraga yang berfokus pada prestasi, lomba 17 Agustus lebih mengutamakan kebersamaan. Siapa pun bisa ikut, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Balap karung misalnya. Permainan ini hanya membutuhkan karung bekas dan lintasan sederhana, tetapi hampir selalu berhasil mengundang tawa. Begitu pula dengan makan kerupuk yang menguji kesabaran peserta tanpa harus menggunakan tangan.

Kesederhanaan itulah yang membuat permainan-permainan ini mudah diadakan di berbagai daerah tanpa memerlukan biaya besar.

Baca Juga: Bukan Sekadar Musik Joget, Ini Rahasia Lagu Timur Mudah Viral di Media Sosial

Ada Nilai Kebersamaan di Baliknya

Selain menghibur, banyak lomba Agustusan juga mengandung nilai kerja sama.

Tarik tambang misalnya, tidak bisa dimenangkan hanya karena satu orang paling kuat. Seluruh anggota tim harus bergerak dengan ritme yang sama agar mampu menarik lawan.

Begitu pula dengan lomba bakiak atau terompah panjang. Para peserta harus menyamakan langkah dan menjaga kekompakan agar tidak terjatuh sebelum mencapai garis akhir.

Sementara itu, panjat pinang mengajarkan pentingnya saling membantu. Tidak ada peserta yang bisa mencapai puncak seorang diri. Dibutuhkan strategi, komunikasi, dan kerja sama agar hadiah di atas batang pinang berhasil diraih.

Nilai-nilai inilah yang membuat banyak masyarakat masih mempertahankan tradisi tersebut sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan.

Tradisi yang Terus Beradaptasi

Meski permainan klasik tetap dipertahankan, bukan berarti lomba 17 Agustus tidak mengalami perubahan.

Kini banyak panitia menambahkan permainan baru, mulai dari estafet air, estafet balon, lomba memasak, hingga berbagai tantangan kreatif yang terinspirasi dari media sosial. Namun, di tengah berbagai inovasi itu, balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, dan panjat pinang hampir selalu tetap masuk dalam daftar perlombaan.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak sekadar mempertahankan bentuk permainannya, tetapi juga menjaga tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Menjadi Ruang Berkumpul

Bagi banyak orang, lomba Agustusan bukan hanya soal hadiah. Momen ini menjadi kesempatan untuk berkumpul dengan tetangga, teman, maupun keluarga.

Di tengah rutinitas yang semakin sibuk, perlombaan sederhana mampu menciptakan ruang untuk saling menyapa, bekerja sama, dan tertawa bersama. Tak heran jika banyak orang mengingat masa kecil mereka melalui suara peluit lomba, sorak-sorai penonton, atau antrean mengambil nomor peserta.

Barangkali inilah alasan mengapa lomba 17 Agustus masih bertahan di tengah perubahan zaman. Bukan semata karena permainannya, melainkan karena ada rasa kebersamaan yang terus diwariskan setiap tahun.

Ketika teknologi terus berkembang dan hiburan semakin beragam, tradisi sederhana seperti balap karung atau tarik tambang justru mengingatkan bahwa keseruan tidak selalu membutuhkan gawai atau perangkat canggih. Terkadang, kebersamaan, semangat bermain, dan tawa bersama warga sekitar sudah cukup untuk membuat perayaan kemerdekaan terasa istimewa.

Editor : Kabun Triyatno
17 agustus lomba hiburan teknologi tradisi