RADARSOLO.COM - Pernah merasa uang di rekening masih cukup tetapi tetap dihantui rasa takut kehabisan? Atau mungkin kamu sering membuka aplikasi mobile banking hanya untuk memastikan saldo masih aman, padahal belum ada kebutuhan mendesak? Jika iya, bisa jadi kamu sedang mengalami money dysmorphia.
Money dysmorphia merupakan kondisi ketika seseorang memiliki persepsi yang tidak realistis terhadap kondisi keuangannya. Istilah ini diadaptasi dari body dysmorphia, yaitu gangguan yang membuat seseorang memiliki pandangan keliru terhadap bentuk tubuhnya. Bedanya, money dysmorphia berkaitan dengan cara seseorang memandang kondisi finansialnya.
Orang yang mengalami money dysmorphia sering kali merasa dirinya miskin, kekurangan uang, atau tertinggal secara finansial, meski pada kenyataannya tabungan masih aman dan kebutuhan sehari-hari masih dapat terpenuhi.
Baca Juga: Menunda Wisuda Bukan Berarti Menunda Kelulusan, Kenali Istilah Graduation Deferral
Di kalangan Generasi Z, fenomena ini mulai banyak dibicarakan. Salah satu penyebab utamanya adalah media sosial yang dipenuhi konten tentang gaya hidup mewah, liburan ke luar negeri, koleksi barang bermerek, hingga cerita sukses finansial di usia muda. Tanpa disadari, banyak orang mulai membandingkan kondisi keuangannya dengan kehidupan yang mereka lihat di layar ponsel.
Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya. Banyak orang hanya membagikan sisi terbaik dalam hidup mereka, sementara perjuangan atau kesulitan finansial tidak ikut diperlihatkan.
Selain media sosial, derasnya informasi mengenai inflasi, kenaikan harga kebutuhan pokok, sulitnya membeli rumah, hingga kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) juga membuat banyak anak muda merasa masa depan keuangan mereka semakin tidak pasti. Akibatnya, rasa cemas terhadap uang muncul meski kondisi finansial sebenarnya masih terkendali.
Money dysmorphia juga bisa muncul karena seseorang tidak benar-benar mengetahui kondisi keuangannya sendiri. Banyak orang merasa uangnya selalu kurang hanya berdasarkan perasaan, tanpa pernah mencatat pemasukan, pengeluaran, maupun jumlah tabungan yang dimiliki. Ketika tidak memiliki gambaran yang jelas, rasa khawatir pun lebih mudah muncul.
Ada beberapa tanda yang patut diwaspadai. Misalnya, terus-menerus takut uang akan habis meski memiliki dana darurat, terlalu sering mengecek saldo rekening, merasa bersalah setiap kali membeli sesuatu untuk diri sendiri, hingga selalu merasa pencapaian finansialnya jauh tertinggal dibandingkan teman sebaya.
Jika dibiarkan, money dysmorphia bukan hanya berdampak pada kondisi mental, tetapi juga dapat memengaruhi kebiasaan mengelola uang. Sebagian orang menjadi sangat pelit hingga enggan mengeluarkan uang untuk kebutuhan penting seperti kesehatan atau pendidikan. Sebaliknya, ada pula yang justru melakukan doom spending, yaitu menghabiskan uang secara impulsif karena merasa tidak akan pernah bisa mencapai kondisi finansial yang diinginkan.
Baca Juga: “Cowok Bingung” Lagi Ramai di Media Sosial, Sebenarnya Seperti Apa?
Kondisi ini juga dapat memicu stres berkepanjangan, gangguan kecemasan, hingga menurunkan kualitas hidup karena seseorang terus merasa tidak aman terhadap kondisi keuangannya.
Untuk mengatasinya, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah melihat kondisi keuangan secara objektif. Mulailah dengan mencatat pemasukan, pengeluaran, tabungan, dan target keuangan sehingga keputusan tidak lagi didasarkan pada rasa takut semata.
Mengurangi paparan konten media sosial yang memicu rasa minder juga dapat membantu. Tidak ada salahnya berhenti mengikuti akun yang membuatmu terus membandingkan pencapaian finansial dengan orang lain.
Yang tidak kalah penting, setiap orang perlu memiliki definisi sendiri tentang arti "cukup". Standar keberhasilan finansial setiap orang berbeda-beda dan tidak harus mengikuti apa yang sedang ramai di internet. Fokus pada kebutuhan, kemampuan, dan tujuan pribadi jauh lebih sehat daripada terus mengejar standar hidup yang belum tentu sesuai dengan kondisi diri sendiri.
Editor : Kabun Triyatno