RADARSOLO.COM – Kalau beberapa tahun lalu menu dengan rasa matcha, boba, atau salted caramel mendominasi kafe, belakangan satu nama semakin sering muncul di berbagai dessert, yaitu pistachio. Mulai dari croissant, gelato, cheesecake, cookies, hingga latte, banyak pelaku usaha kuliner menghadirkan varian rasa yang satu ini.
Tak hanya di luar negeri, tren tersebut juga mulai terlihat di berbagai kafe dan toko roti di Indonesia. Warna hijaunya yang khas membuat pistachio mudah dikenali, sementara cita rasanya yang gurih dan lembut membuatnya cocok dipadukan dengan aneka hidangan manis.
Lantas, apa yang membuat pistachio begitu istimewa hingga kini menjadi salah satu bahan yang paling banyak diburu?
Baca Juga: Kenalan dengan Micro Joy, Kebahagiaan Kecil yang Sering Kita Lewatkan
Bukan Kacang Biasa
Meski sering disebut sebagai kacang, pistachio berasal dari pohon Pistacia vera yang telah dibudidayakan sejak ribuan tahun lalu di kawasan Asia Barat dan Timur Tengah. Hingga kini, wilayah seperti Iran, Turki, dan Amerika Serikat menjadi beberapa produsen pistachio terbesar di dunia.
Berbeda dengan kacang tanah yang memiliki rasa lebih netral, pistachio menawarkan perpaduan rasa gurih, sedikit manis, dengan aroma khas yang lembut. Karakter inilah yang membuatnya mudah dipadukan dengan cokelat, susu, krim, maupun adonan pastry.
Tak heran jika banyak chef dan pelaku usaha kuliner menjadikannya sebagai bahan premium untuk berbagai kreasi makanan penutup.
Baca Juga: Underconsumption Core, Tren yang Mengajak Kita Berhenti Belanja Berlebihan
Rasa dan Warna yang Menarik Perhatian
Selain rasanya, pistachio juga memiliki keunggulan dari segi tampilan. Warna hijau alaminya memberi kesan segar dan mewah tanpa perlu tambahan pewarna buatan.
Di era media sosial, tampilan makanan menjadi salah satu daya tarik utama. Dessert berwarna hijau lembut dengan taburan pistachio cincang kerap tampil mencolok di foto maupun video pendek, sehingga mudah menarik perhatian pengguna media sosial.
Fenomena ini ikut mempercepat popularitas pistachio. Ketika satu menu viral, tidak butuh waktu lama bagi kafe atau toko roti lain untuk menghadirkan versi serupa agar tetap mengikuti selera pasar.
Mengapa Harganya Lebih Mahal?
Di balik popularitasnya, pistachio juga dikenal sebagai salah satu jenis kacang dengan harga yang relatif tinggi dibandingkan kacang lainnya.
Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pohon pistachio membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum mulai menghasilkan panen. Selain itu, panennya bersifat musiman sehingga pasokan tidak selalu tersedia sepanjang tahun dalam jumlah yang sama.
Proses pengolahan setelah panen juga memerlukan perhatian khusus, mulai dari pengeringan, penyortiran, hingga pengupasan cangkang sebelum akhirnya dipasarkan.
Di Indonesia, pistachio umumnya masih didatangkan dari luar negeri. Harga kernel pistachio impor dapat mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram, sementara pasta pistachio yang banyak digunakan untuk membuat isian croissant atau gelato memiliki harga yang lebih tinggi lagi. Faktor impor dan tingginya permintaan membuat bahan ini tergolong premium di pasaran.
Tak Hanya Tren, tetapi Juga Bergizi
Selain populer di dunia kuliner, pistachio juga dikenal memiliki kandungan gizi yang baik. Kacang ini mengandung protein, serat, lemak tak jenuh, vitamin B6, kalium, serta berbagai antioksidan yang berperan dalam menjaga kesehatan tubuh.
Meski demikian, pistachio tetap sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah yang wajar, terutama ketika sudah diolah menjadi dessert yang umumnya mengandung tambahan gula, mentega, atau krim.
Pada akhirnya, popularitas pistachio bukan hanya dipengaruhi oleh tren media sosial. Perpaduan rasa yang khas, warna hijau yang menarik, serta citra sebagai bahan premium membuatnya semakin banyak digunakan dalam berbagai kreasi makanan dan minuman.
Tak heran jika kini, saat berkunjung ke kafe atau toko roti, nama pistachio semakin sering muncul di daftar menu. Dari sekadar taburan hingga menjadi bahan utama, kacang yang telah dikenal sejak ribuan tahun lalu ini berhasil menemukan tempat baru di tengah tren kuliner modern.
Editor : Kabun Triyatno