RADARSOLO.COM – Belakangan ini media sosial semakin sering dipenuhi video yang tampak begitu nyata. Mulai dari tokoh publik yang seolah menyampaikan pernyataan tertentu, rekaman kejadian dramatis, hingga cuplikan yang tampak seperti diambil langsung di lokasi. Sekilas, video-video tersebut terlihat meyakinkan.
Namun, tidak semuanya benar-benar direkam oleh kamera. Sebagian merupakan hasil teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) yang kini mampu menghasilkan video dengan kualitas semakin realistis. Kemampuan teknologi ini juga menuntut masyarakat untuk lebih cermat dalam menyaring informasi, terutama ketika menemukan video yang viral di media sosial.
Baca Juga: HUT RI ke-80 atau HUT ke-80 RI? Jangan Sampai Salah, Ini Penulisan yang Benar Sesuai Ejaan
Mengapa Video AI Semakin Sulit Dikenali?
Teknologi AI generatif berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kini, berbagai platform mampu menghasilkan video dengan gerakan wajah, pencahayaan, hingga suara yang tampak alami.
Jika sebelumnya video AI mudah dikenali karena gerakannya kaku atau wajahnya terlihat tidak proporsional, kini kualitasnya semakin baik. Bahkan, sebagian video AI sekilas hampir tidak bisa dibedakan dari rekaman asli jika hanya dilihat dalam beberapa detik.
Karena itulah, penting untuk tidak langsung mempercayai sebuah video hanya karena tampilannya terlihat meyakinkan.
Baca Juga: Selain Merah Putih, Kenapa Bulan Agustus Selalu Identik dengan Umbul-Umbul?
Perhatikan Detail Gerakan
Salah satu cara paling sederhana untuk mengenali video AI adalah dengan memperhatikan detail gerakan.
Misalnya, sinkronisasi antara bibir dan suara. Pada beberapa video AI, gerakan bibir terkadang masih tampak kurang selaras dengan kata-kata yang diucapkan, terutama ketika video diputar lebih lambat.
Selain itu, gerakan tangan dan jari juga patut diamati. Meski teknologinya terus berkembang, AI masih sesekali menghasilkan bentuk jari yang tidak konsisten atau gerakan tangan yang terlihat kurang alami.
Ekspresi wajah juga bisa menjadi petunjuk. Mata yang berkedip terlalu jarang, senyum yang tampak kaku, atau perubahan ekspresi yang terasa tidak wajar dapat menjadi indikasi bahwa video tersebut merupakan hasil rekayasa AI.
Jangan Abaikan Latar Belakang
Bukan hanya objek utama, latar belakang juga sering menyimpan petunjuk.
Perhatikan apakah ada tulisan yang berubah bentuk, benda yang tiba-tiba muncul atau menghilang, atau bayangan yang tidak sesuai dengan arah cahaya. Detail-detail kecil seperti ini terkadang luput dari perhatian pembuat video AI.
Suara juga perlu dicermati. Beberapa video AI masih menghasilkan intonasi yang terdengar terlalu datar, jeda napas yang tidak alami, atau pelafalan yang kurang konsisten pada kata-kata tertentu.
Cek Sumber Sebelum Membagikan
Selain mengamati isi video, langkah paling penting adalah memeriksa sumbernya.
Apabila sebuah video hanya beredar melalui unggahan akun anonim atau pesan berantai tanpa keterangan yang jelas, sebaiknya jangan langsung mempercayainya.
Masyarakat dapat membandingkan informasi tersebut dengan pemberitaan dari media kredibel atau mencari apakah ada rekaman serupa dari sudut pandang lain. Jika video benar-benar menggambarkan sebuah peristiwa besar, umumnya akan ada lebih dari satu sumber yang melaporkannya.
Baca Juga: Bukan Cuma Buat Kunci, Gantungan Kunci Kini Jadi Aksesori Favorit Gen Z
Kebiasaan sederhana seperti mengecek sumber sebelum menekan tombol "bagikan" menjadi salah satu cara efektif untuk mengurangi penyebaran informasi yang keliru.
AI Tetap Membawa Banyak Manfaat
Meski sering dikaitkan dengan deepfake atau informasi palsu, AI bukanlah teknologi yang sepenuhnya negatif. Saat digunakan secara bertanggung jawab, AI membantu proses produksi film, pembuatan animasi, materi pembelajaran, hingga berbagai karya kreatif yang sebelumnya membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Karena itu, tantangan di era digital bukan sekadar mengenali mana video asli dan mana yang dibuat AI. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan berpikir kritis sebelum mempercayai maupun menyebarkan informasi.
Semakin canggih teknologi berkembang, semakin penting pula kemampuan literasi digital masyarakat. Sebab, di tengah derasnya arus informasi, sikap tidak mudah percaya dan selalu memeriksa sumber menjadi salah satu cara terbaik agar tidak mudah terkecoh oleh video yang tampak nyata, tetapi belum tentu benar. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno