RADARSOLO.COM - Merasa secangkir kopi terasa "lebih mahal" bukan karena rasanya, melainkan karena suasana kafenya? Atau rela membeli tiket konser jutaan rupiah demi momen yang hanya berlangsung beberapa jam?
Bukan karena masyarakat semakin gemar menghabiskan uang tetapi karena cara orang memandang sebuah produk mulai berubah. Yang dicari bukan lagi sekadar barang atau jasa, melainkan pengalaman yang menyertainya.
Konsep tersebut dikenal sebagai experience economy atau ekonomi pengalaman. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh B. Joseph Pine II dan James H. Gilmore pada 1998. Mereka menjelaskan bahwa setelah ekonomi agraris, industri, dan jasa, dunia memasuki fase baru ketika pengalaman menjadi nilai utama yang ditawarkan kepada konsumen.
Baca Juga: Saldo Masih Banyak, Kok Tetap Merasa Miskin? Kenali Money Dysmorphia
Dalam konsep ini, sebuah bisnis tidak hanya menjual produk tetapi juga menciptakan kenangan. Secangkir kopi misalnya, bukan hanya soal rasa tetapi juga desain interior, alunan musik, pelayanan, hingga suasana yang membuat pelanggan betah berlama-lama. Hal serupa juga terlihat pada konser musik, pameran seni interaktif, taman hiburan, wisata tematik, hingga kelas membuat keramik atau melukis.
Sebab itu, banyak pelaku usaha kini berlomba menghadirkan sesuatu yang berbeda. Mereka tidak hanya memikirkan kualitas produk, tetapi juga bagaimana pelanggan merasakan pengalaman yang berkesan dan ingin kembali lagi.
Hal ini juga terlihat dari semakin banyaknya tempat yang dirancang agar menarik untuk dikunjungi sekaligus dibagikan di media sosial. Restoran menghadirkan konsep unik, museum membuat instalasi interaktif, sementara destinasi wisata menawarkan aktivitas yang tidak sekadar bisa dilihat, tetapi juga dirasakan secara langsung.
Baca Juga: Menunda Wisuda Bukan Berarti Menunda Kelulusan, Kenali Istilah Graduation Deferral
Dari sisi konsumen, pengalaman dinilai memiliki nilai emosional yang lebih kuat. Sejumlah penelitian yang dipimpin psikolog Thomas Gilovich dari Cornell University menunjukkan bahwa setelah kebutuhan dasar terpenuhi, pengeluaran untuk pengalaman cenderung memberikan kepuasan yang lebih bertahan lama dibanding pembelian barang. Salah satu alasannya, pengalaman menjadi bagian dari identitas seseorang dan lebih sering diceritakan kepada orang lain daripada barang yang dimiliki.
Walaupun demikian, tren ini juga memiliki sisi lain yang perlu diperhatikan. Di era media sosial, pengalaman sering kali menjadi bagian dari gaya hidup yang dipamerkan. Tidak sedikit orang merasa perlu datang ke konser, mencoba tempat viral, atau mengikuti acara tertentu karena takut tertinggal tren atau fear of missing out (FOMO).
Akibatnya, keputusan untuk membeli sebuah pengalaman terkadang tidak lagi didorong oleh kebutuhan atau keinginan pribadi, melainkan tekanan sosial. Ada pula kecenderungan konsumen rela membayar lebih mahal untuk produk yang sebenarnya biasa saja karena nilai tambah berupa suasana, cerita, atau eksklusivitas yang ditawarkan.
Baca Juga: Underconsumption Core, Tren yang Mengajak Kita Berhenti Belanja Berlebihan
Bagi pelaku usaha, experience economy menjadi peluang untuk menciptakan hubungan yang lebih erat dengan pelanggan. Namun bagi konsumen, tren ini juga menjadi pengingat agar tetap bijak dalam menentukan prioritas. Pengalaman memang bisa meninggalkan kenangan yang berharga, tetapi tidak semua pengalaman harus diikuti hanya karena sedang ramai dibicarakan. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno