Anak Sulung Sering Dituntut Jadi Contoh, Benarkah Bikin Mereka Lebih Perfeksionis?

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 08:17 WIB
Anak sulung dikenal sebagai sosok yang bertanggung jawab, mandiri, perfeksionis, atau lebih suka mengambil kendali. (AI Generated)
Anak sulung dikenal sebagai sosok yang bertanggung jawab, mandiri, perfeksionis, atau lebih suka mengambil kendali. (AI Generated)

RADARSOLO.COM - “Kamu kan anak pertama, harus bisa jadi contoh buat adik.”

Kalimat seperti ini mungkin sudah tidak asing bagi anak sulung. Sejak memiliki adik, anak pertama kerap mendapat tuntutan untuk bersikap lebih dewasa, mandiri, bahkan ikut membantu orang tua menjaga adik.

Tidak sedikit pula anak sulung yang kemudian dikenal sebagai sosok yang bertanggung jawab, mandiri, perfeksionis, atau lebih suka mengambil kendali. Hal tersebut bahkan sering disebut dalam budaya populer sebagai oldest child syndrome atau sindrom anak sulung.

Namun, apakah benar urutan kelahiran otomatis membuat seseorang memiliki karakter seperti itu?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.

Baca Juga: Benarkah "First" Selalu Punya Tempat Tersendiri?

Dalam psikologi, gagasan mengenai pengaruh urutan kelahiran salah satunya berasal dari Alfred Adler. Psikiater Austria tersebut mengembangkan teori mengenai posisi anak dalam keluarga dan bagaimana perubahan dinamika keluarga dapat memengaruhi perkembangan psikologis seseorang.

Anak pertama, misalnya, pada awalnya mendapatkan perhatian penuh dari orang tua ketika belum memiliki adik. Ketika adik lahir, posisi dan perhatian tersebut kemudian berubah. Dalam pandangan Adler, perubahan tersebut dapat memengaruhi cara anak beradaptasi dengan lingkungan keluarganya.

Dari sinilah muncul anggapan bahwa anak sulung cenderung memiliki rasa tanggung jawab lebih besar atau berorientasi pada pencapaian.

Dalam kehidupan sehari-hari, pola tersebut juga dapat terbentuk melalui hal-hal sederhana. Anak pertama mungkin lebih sering mendengar nasihat untuk memberikan contoh yang baik kepada adiknya. Mereka juga dapat dipercaya menjaga adik, membantu pekerjaan rumah, atau mengambil keputusan tertentu ketika orang tua sedang tidak berada di dekat mereka.

Baca Juga: Mengenal Lucky Girl Syndrome, Tren yang Disebut Bisa Mengubah Cara Pandang Hidup

Jika berlangsung terus-menerus, pengalaman tersebut dapat membuat anak terbiasa bertanggung jawab dan mengambil peran sebagai pihak yang diandalkan.

Namun, kondisi tersebut tidak selalu berarti anak sulung pasti menjadi pemimpin atau perfeksionis.

Penelitian modern justru menunjukkan bahwa pengaruh urutan kelahiran terhadap kepribadian relatif kecil. Studi besar yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 2015, misalnya, menganalisis data lebih dari 20.000 orang dari Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman.

Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa urutan kelahiran tidak memiliki pengaruh besar terhadap sebagian besar karakter kepribadian yang diuji. Salah satu perbedaan yang ditemukan adalah anak sulung cenderung memiliki skor intelektual sedikit lebih tinggi, meskipun perbedaannya kecil.

Baca Juga: Mengenal Life Path, Benarkah Angka Tanggal Lahir Bisa Mengungkap Kepribadian?

Artinya, menjadi anak pertama bukan berarti seseorang otomatis lebih pintar, lebih bertanggung jawab, atau lebih sukses dibandingkan adik-adiknya.

Lingkungan keluarga justru menjadi faktor yang tidak kalah penting.

Pola asuh orang tua, kondisi ekonomi keluarga, jarak usia antar-anak, jumlah saudara, hingga bagaimana orang tua membagi tanggung jawab dapat memengaruhi pengalaman masing-masing anak.

Hal tersebut juga menjelaskan mengapa tidak semua anak sulung memiliki karakter yang sama. Ada yang memang tumbuh menjadi sosok mandiri dan suka memimpin, tetapi ada pula yang justru santai, tidak terlalu ambisius, atau tidak merasa memiliki beban sebagai anak pertama.

Baca Juga: Kenapa Ada Orang yang Suka Bau Hujan, Buku, atau Kopi? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Di sisi lain, tuntutan untuk selalu menjadi contoh juga dapat memberikan tekanan kepada sebagian anak sulung.

Ketika anak terbiasa dianggap sebagai sosok yang harus lebih dewasa, mereka mungkin merasa harus selalu melakukan sesuatu dengan benar. Kesalahan kecil pun dapat dianggap sebagai kegagalan untuk memenuhi harapan orang tua.

Dalam kondisi tertentu, pola tersebut dapat berkaitan dengan kecenderungan perfeksionisme atau keinginan untuk selalu mendapatkan penerimaan dari lingkungan.

Akan tetapi, hal tersebut tidak bisa langsung disebut sebagai oldest child syndrome atau dianggap sebagai gangguan psikologis. Istilah tersebut lebih banyak digunakan dalam pembahasan populer untuk menggambarkan pola pengalaman anak sulung, bukan diagnosis resmi dalam ilmu psikologi.

Jika seorang anak pertama tumbuh menjadi pribadi yang perfeksionis, penyebabnya tidak cukup dijelaskan hanya dengan kalimat “karena dia anak sulung”.

Bisa jadi ada pola asuh, tuntutan keluarga, pengalaman masa kecil, atau lingkungan sosial yang turut membentuk kebiasaannya. (annas rohmanda purbaningrum)

 

Editor : Kabun Triyatno
annas rohmanda purbaningrum sulung perfeksionis oldest child syndrome psikologis