Hari Malas Sedunia, Kenapa Kita Sesekali Butuh Tidak Melakukan Apa-Apa?

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 16:29 WIB
Lazy Day Diperingati Setiap Tanggal 10 Agustus. (AI Generated)
Lazy Day Diperingati Setiap Tanggal 10 Agustus. (AI Generated)

RADARSOLO.COM - Pernah merasa ingin menghabiskan satu hari tanpa melakukan apa-apa? Tidak ingin membuka laptop, membalas pesan, pergi ke mana-mana, atau bahkan sekadar memikirkan pekerjaan yang belum selesai?

Jika pernah, kamu tidak sendirian. Setiap 10 Agustus, ada peringatan yang dikenal sebagai Lazy Day atau Hari Malas. Momen ini bisa menjadi alasan untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan memberikan waktu bagi tubuh maupun pikiran untuk beristirahat.

Di tengah kebiasaan untuk selalu produktif, tidak melakukan apa-apa sering kali justru dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Rebahan terlalu lama dianggap malas, tidur siang dianggap membuang waktu, dan mengambil jeda terkadang membuat seseorang merasa bersalah.

Baca Juga: Mengenal Propinquity Effect, Kenapa Kita Bisa Dekat dengan Orang yang Sering Ditemui?

Padahal, tubuh tidak bisa terus-menerus dipaksa untuk bekerja tanpa istirahat.

Istirahat merupakan bagian dari proses pemulihan. Setelah menjalani aktivitas yang menguras tenaga maupun pikiran, seseorang membutuhkan waktu untuk mengembalikan energi sebelum kembali melakukan kegiatan lainnya.

Tidak melakukan apa-apa selama beberapa waktu juga tidak selalu berarti sedang bermalas-malasan. Ada kalanya seseorang memang membutuhkan waktu untuk sekadar duduk, tidur, mendengarkan musik, menonton film, atau menikmati suasana tanpa memiliki target tertentu.

Hal tersebut menjadi semakin relevan di tengah kehidupan yang serba cepat. Notifikasi ponsel, pekerjaan, tugas kuliah, aktivitas sosial, hingga berbagai informasi dari media sosial membuat seseorang seolah selalu memiliki sesuatu yang harus dikerjakan.

Baca Juga: Apa Itu Doomscrolling? Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Menguras Kesehatan Mental

Akibatnya, waktu istirahat pun terkadang masih dipenuhi aktivitas. Saat tubuh sedang berbaring, tangan tetap sibuk menggulir media sosial. Ketika memiliki waktu luang, seseorang justru mencari kegiatan lain karena merasa harus tetap produktif.

Padahal, istirahat tidak selalu harus menghasilkan sesuatu.

Sesekali menghabiskan waktu tanpa target dapat menjadi kesempatan untuk mengambil jarak dari rutinitas. Seseorang bisa menggunakan waktu tersebut untuk tidur lebih lama, menikmati makanan favorit, membaca buku, mendengarkan musik, atau sekadar menatap langit-langit kamar tanpa memikirkan pekerjaan.

Akan tetapi, bukan berarti seluruh bentuk kemalasan harus dianggap sebagai sesuatu yang baik. Jika keinginan untuk tidak melakukan apa-apa berlangsung terus-menerus hingga mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, kondisinya tentu berbeda dengan sekadar mengambil waktu untuk beristirahat.

Baca Juga: Baru Lihat Orang Menguap, Kok Jadi Ikut? Ternyata Ini Penjelasan Ilmiahnya

Hari Malas dapat dimaknai bukan sebagai ajakan untuk terus bermalas-malasan, melainkan sebagai pengingat bahwa manusia juga membutuhkan jeda.

Tidak semua waktu harus diisi dengan pencapaian. Ada kalanya kita hanya perlu berhenti sebentar, menarik napas, dan membiarkan diri menikmati waktu tanpa tuntutan untuk selalu produktif.

Jadi, kalau hari ini ingin rebahan sedikit lebih lama, mungkin tidak perlu merasa terlalu bersalah. Setelah berhari-hari mengejar berbagai kesibukan, sesekali tidak melakukan apa-apa juga bisa menjadi bagian dari menjaga diri. (annas rohmanda purbaningrum)

Editor : Kabun Triyatno
annas rohmanda purbaningrum lazy day hari malas istirahat 10 Agustus 2025