RADARSOLO.COM – Ingin melihat bagaimana sebuah pakaian terlihat ketika dikenakan tanpa harus mencobanya secara langsung? Kini, jawabannya tidak selalu harus datang dari ruang ganti. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat orang dapat bereksperimen dengan berbagai gaya pakaian secara virtual hanya melalui foto.
Teknologi tersebut dikenal sebagai AI virtual try-on. Pengguna dapat memasukkan foto diri dan gambar pakaian, kemudian sistem AI menghasilkan visual yang memperlihatkan seolah-olah pakaian tersebut sedang dikenakan. Sejumlah layanan bahkan memungkinkan pengguna menggabungkan beberapa pakaian sekaligus untuk membentuk satu tampilan.
Fenomena ini membuat AI tidak hanya digunakan untuk menghasilkan gambar, tetapi juga menjadi alat untuk mengeksplorasi gaya dan mencari inspirasi berpakaian.
Baca Juga: Selain Merah Putih, Kenapa Bulan Agustus Selalu Identik dengan Umbul-Umbul?
Dari Membayangkan hingga Melihat Versi Digital
Sebelum teknologi ini berkembang, seseorang yang ingin mengetahui apakah sebuah pakaian cocok dengan gaya yang diinginkan harus mengandalkan foto model, membayangkan hasil akhirnya, atau mencobanya secara langsung.
AI menawarkan pengalaman yang berbeda. Pakaian dapat divisualisasikan pada foto pengguna sehingga gambaran mengenai keseluruhan penampilan menjadi lebih mudah dibayangkan.
Beberapa aplikasi yang tersedia saat ini memang menawarkan fitur untuk mengunggah foto pribadi, memilih pakaian, lalu menghasilkan tampilan virtual. Perkembangan fitur tersebut juga menunjukkan bahwa teknologi virtual try-on tidak lagi hanya menjadi konsep eksperimental, tetapi mulai digunakan dalam layanan fashion konsumen.
Baca Juga: Sering Lupa Kata dalam Bahasa Indonesia? Jangan Anggap Itu Sebuah Prestise
Tidak Selalu Harus Berujung Belanja
Menariknya, penggunaan AI outfit tidak selalu berkaitan dengan keinginan membeli pakaian baru.
Teknologi tersebut juga dapat digunakan untuk bermain-main dengan kombinasi gaya. Pengguna dapat membayangkan perpaduan pakaian yang sebelumnya belum pernah dicoba, mencari inspirasi untuk acara tertentu, atau melihat bagaimana sebuah tren fashion dapat diterjemahkan ke dalam gaya personal.
Sejumlah platform bahkan menawarkan fitur untuk menciptakan berbagai kombinasi pakaian dan membagikan hasilnya ke media sosial. Artinya, AI outfit juga mulai bersinggungan dengan budaya konten dan eksplorasi gaya di internet.
Hal ini membuat proses memilih pakaian terasa seperti aktivitas kreatif. Seseorang tidak hanya mencari barang untuk dibeli, tetapi juga dapat mencoba berbagai kemungkinan penampilan secara digital.
Industri Fashion Ikut Mengembangkan Teknologi
Perkembangan tersebut juga mulai diperhatikan oleh perusahaan fashion. Pada Februari 2026, ASOS memperkenalkan pendekatan virtual try-on yang memungkinkan pengguna melihat pakaian pada foto dirinya atau menggunakan model virtual yang dibuat agar menyerupai karakteristik pengguna. Fitur tersebut awalnya diterapkan pada sekitar 10.000 produk dalam aplikasi iOS ASOS.
Teknologi serupa juga dikembangkan oleh berbagai platform lain. Tujuannya beragam, mulai dari membantu konsumen membayangkan pakaian sebelum membeli hingga membuat pengalaman belanja online terasa lebih personal.
Bagi toko daring, kemampuan memperlihatkan pakaian secara virtual juga dapat membantu menjawab salah satu persoalan utama belanja online: konsumen tidak bisa melihat langsung bagaimana sebuah produk terlihat ketika dikenakan.
Baca Juga: Kimpul Viral di TikTok, Umbi Lokal Ini Disulap Jadi Seblak hingga Arancini
Tetap Ada Batasnya
Meski hasil AI semakin terlihat realistis, visual yang dihasilkan tetap merupakan simulasi. Hasil tersebut tidak selalu menggambarkan bagaimana pakaian sebenarnya ketika dikenakan karena faktor seperti bahan, potongan, pencahayaan, gerakan, dan ukuran pakaian tidak selalu dapat direpresentasikan secara sempurna.
Karena itu, virtual try-on lebih tepat digunakan sebagai alat bantu untuk mendapatkan gambaran, bukan sebagai jaminan bahwa hasil sebenarnya akan persis sama.
Selain itu, foto pribadi yang digunakan dalam layanan berbasis AI juga perlu diperhatikan. Setiap layanan memiliki kebijakan berbeda mengenai data dan foto yang diunggah, sehingga pengguna perlu memahami bagaimana informasi tersebut dikelola.
Pada akhirnya, kemunculan AI outfit menunjukkan perubahan cara orang bereksperimen dengan fashion. Jika sebelumnya mencoba gaya baru membutuhkan pakaian dan ruang ganti, kini sebagian prosesnya dapat dilakukan melalui layar.
AI tidak harus menggantikan pengalaman berpakaian secara langsung. Dalam konteks ini, teknologi justru menawarkan ruang bermain baru, tempat seseorang dapat mencoba berbagai kemungkinan gaya sebelum memutuskan mana yang benar-benar ingin dikenakan. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno