Bukan Sekadar Hidangan, Ini Makna Tumpeng yang Sering Hadir dalam Perayaan 17 Agustus

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:29 WIB
Tumpeng dalam perayaan 17 Agustus bukan sekadar hidangan, melainkan simbol tradisi syukuran, kebersamaan, dan bentuk rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia yang disajikan dalam bentuk kerucut khas.
Tumpeng dalam perayaan 17 Agustus bukan sekadar hidangan, melainkan simbol tradisi syukuran, kebersamaan, dan bentuk rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia yang disajikan dalam bentuk kerucut khas.

RADARSOLO.COM – Tumpeng menjadi salah satu hidangan yang kerap muncul dalam berbagai acara penting di Indonesia. Bentuknya yang menjulang dengan nasi berbentuk kerucut dan lauk-pauk yang mengelilinginya membuat makanan ini mudah dikenali.

Pada bulan Agustus, tumpeng juga sering hadir dalam kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan. Setelah upacara atau dalam acara warga, tumpeng dapat disajikan untuk kemudian dipotong dan dinikmati bersama.

Namun, keberadaan tumpeng dalam perayaan 17 Agustus bukan sekadar persoalan makanan. Hidangan ini memiliki kaitan dengan tradisi syukuran dan kebersamaan masyarakat, terutama dalam budaya Jawa.

Baca Juga: Kapan Kuliner Nusantara Bisa Punya Emoji Sendiri di Keyboard?

Berasal dari Tradisi Syukuran

Dalam tradisi masyarakat Jawa, tumpeng biasa digunakan dalam acara tertentu, terutama syukuran yang melibatkan keluarga, kerabat, atau tetangga.

Badan Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran menjelaskan tumpeng sebagai penyajian nasi beserta lauk-pauk dalam bentuk kerucut. Sajian tersebut digunakan dalam berbagai acara dan memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur.

Karena itulah, tumpeng tidak hanya dipandang sebagai makanan yang disiapkan untuk dinikmati. Dalam konteks tradisi, proses menyajikan dan makan bersama juga menjadi bagian dari kegiatan syukuran.

Baca Juga: Kimpul Viral di TikTok, Umbi Lokal Ini Disulap Jadi Seblak hingga Arancini

Mengapa Tumpeng Berbentuk Kerucut?

Bentuk kerucut menjadi salah satu bagian yang paling mudah dikenali dari tumpeng. Dalam sejumlah penjelasan mengenai filosofi tumpeng Jawa, bentuk tersebut dikaitkan dengan gunung.

BPSMP Sangiran menyebut bentuk kerucut pada tumpeng dapat dimaknai sebagai gambaran yang mengarah kepada Tuhan sebagai pusat ungkapan syukur. Bentuk menyerupai gunung juga dikaitkan dengan harapan mengenai keselamatan, kesuburan, dan kesejahteraan.

Makna tersebut juga muncul dalam kajian mengenai estetika tumpeng Jawa. Tumpeng tidak hanya dipandang dari bentuk dan rasa, tetapi juga berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan kehidupan sosial.

Lauk di Sekeliling Tumpeng

Nasi berbentuk kerucut bukan satu-satunya unsur dalam tumpeng. Berbagai lauk-pauk dan sayuran biasanya disusun mengelilinginya.

Jenis lauk dapat berbeda sesuai tradisi, daerah, kemampuan, maupun acara yang diselenggarakan. Karena itu, tidak ada satu susunan lauk yang harus digunakan untuk semua tumpeng.

Dalam tradisi tertentu, setiap pelengkap dapat memiliki makna tersendiri. Namun, makna tersebut tidak selalu berlaku secara universal. Filosofi lauk dalam tumpeng dapat berbeda berdasarkan jenis tumpeng dan tradisi masyarakat yang menjalankannya.

Hal ini penting karena tumpeng memiliki banyak bentuk dan digunakan untuk berbagai keperluan. Tumpeng untuk acara kelahiran, pernikahan, syukuran, atau perayaan tertentu tidak selalu memiliki susunan yang sama.

Baca Juga: Kimpul Naik Daun, Ini Umbi-Umbian Lokal Lain yang Tak Kalah Menarik

Mengapa Tumpeng Hadir Saat 17 Agustus?

Ketika tumpeng digunakan dalam perayaan kemerdekaan, makna syukur menjadi semakin relevan. Masyarakat dapat menggunakan tumpeng sebagai bagian dari kegiatan bersama untuk memperingati kemerdekaan sekaligus menikmati makanan secara bersama-sama.

Dalam sejumlah kegiatan perayaan 17 Agustus, tumpeng bahkan menjadi bagian dari lomba kreasi atau acara makan bersama. Resep dan bentuknya pun berkembang, mulai dari tumpeng nasi kuning hingga kreasi merah putih yang menyesuaikan tema kemerdekaan.

Warna merah putih pada nasi juga membuat tumpeng lebih mudah dikaitkan secara visual dengan suasana kemerdekaan. Namun, warna tersebut merupakan kreasi untuk menyambut perayaan, bukan bagian dari ketentuan baku mengenai tumpeng tradisional.

Pada akhirnya, tumpeng dalam perayaan 17 Agustus mempertemukan beberapa hal sekaligus: makanan, tradisi, rasa syukur, dan kebersamaan.

Jadi, ketika ujung nasi berbentuk kerucut dikelilingi lauk dan kemudian disantap bersama, yang hadir bukan hanya sebuah hidangan. Ada tradisi syukuran dan kebiasaan berkumpul yang ikut membuat tumpeng bertahan dalam berbagai perayaan masyarakat. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa makna tumpeng syukuran tradisi