RADARSOLO.COM – Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia identik dengan berbagai kegiatan meriah. Selain upacara dan perlombaan seperti panjat pinang, sejumlah daerah di Indonesia memiliki tradisi khas untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI.
Tradisi tersebut tidak selalu berupa perlombaan yang sanma. Ada yang dilakukan dengan membawa obor, menggelar pawai hasil bumi, hingga menghadirkan permainan rakyat yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Dilansir dari laman Kementerian Pariwisata, berikut sejumlah tradisi unik yang mewarnai perayaan 17 Agustus di berbagai daerah Indonesia.
Baca Juga: Kenapa Warga Selalu Mengecat Gapura Jelang 17 Agustus? Ternyata Ada Maknanya
Tirakatan di Jawa
Masyarakat di sejumlah daerah Jawa mengenal tradisi tirakatan yang biasanya digelar pada malam 16 Agustus, menjelang peringatan Hari Kemerdekaan.
Acara ini umumnya diisi dengan doa bersama, mengenang jasa para pahlawan, mengheningkan cipta, hingga makan bersama warga. Selain menjadi bagian dari peringatan kemerdekaan, tirakatan juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul dan mempererat hubungan antartetangga.
Tradisi ini masih dapat ditemui dalam berbagai bentuk di lingkungan masyarakat, terutama di tingkat kampung atau desa.
Baca Juga: Panjat Pinang dan Hadiah di Puncak, Apa Makna di Balik Tradisi Ini?
Pawai Jampana di Bandung
Bandung memiliki tradisi Pawai Jampana yang menghadirkan tandu berukuran besar berisi berbagai hasil bumi, makanan, hingga hasil kerajinan masyarakat.
Tandu tersebut kemudian dibawa beramai-ramai dalam sebuah pawai. Setelah itu, hasil bumi yang dibawa dapat diperebutkan oleh warga, sedangkan makanan yang tersedia disantap bersama.
Tradisi ini tidak hanya menjadi hiburan dalam perayaan kemerdekaan, tetapi juga menampilkan hasil masyarakat setempat dalam sebuah kegiatan yang melibatkan banyak orang.
Lari Obor Estafet di Semarang
Berbeda dari pawai, masyarakat di Semarang memiliki tradisi lari obor estafet. Kegiatan ini dilakukan dengan membawa obor secara bergantian dalam perlombaan lari.
Tradisi tersebut disebut telah berlangsung selama sekitar tiga dekade di Kelurahan Papandayan, Kecamatan Gajahmungkur. Obor dalam kegiatan ini dikaitkan dengan simbol semangat perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan.
Karena itu, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi perlombaan, tetapi juga menjadi cara masyarakat mengenang semangat perjuangan.
Pacu Kude di Aceh
Aceh memiliki Pacu Kude, yaitu tradisi pacuan kuda yang telah berkembang sejak masa kolonial. Permainan rakyat tersebut kemudian diambil alih pemerintah setempat pada 1956 setelah Indonesia merdeka.
Sejak saat itu, Pacu Kude dipandang sebagai salah satu simbol perjuangan masyarakat Aceh. Tradisi ini kemudian terus diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan.
Kuda yang digunakan dalam pacuan juga memiliki karakteristik tersendiri. Detik mencatat kuda Pacu Kude berasal dari persilangan kuda Australia dan kuda Gayo.
Telok Abang di Palembang
Sementara itu, Palembang memiliki tradisi yang lebih dekat dengan dunia anak-anak. Memasuki bulan Agustus, penjual Telok Abang biasanya mulai bermunculan di berbagai tempat.
Telok Abang merupakan mainan berbahan gabus yang dibentuk menyerupai kapal, pesawat, atau kereta. Mainan tersebut dihiasi kertas warna-warni dan dilengkapi telur rebus yang telah dicat merah.
Kehadiran Telok Abang setiap Agustus membuatnya tidak hanya menjadi mainan, tetapi juga bagian dari suasana khas perayaan kemerdekaan di Palembang.
Beragam tradisi tersebut menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan di Indonesia tidak memiliki satu bentuk yang seragam. Setiap daerah dapat menghadirkan cara masing-masing untuk merayakan, berkumpul, sekaligus mempertahankan kebiasaan yang telah berkembang di masyarakat.
Dari tumpeng hingga pawai, dari obor hingga permainan rakyat, suasana 17 Agustus akhirnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk merayakan kemerdekaan dengan ciri khas daerah masing-masing. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno