“2026 Is the New 2016”, Kenapa Warganet Kembali Merindukan Era Media Sosial Lama?

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:15 WIB
Tren "2026 Is the New 2016" ramai di media sosial, mencerminkan kerinduan warganet akan suasana internet satu dekade lalu yang dianggap lebih sederhana, spontan, dan tidak terlalu dipoles oleh algoritma.
Tren "2026 Is the New 2016" ramai di media sosial, mencerminkan kerinduan warganet akan suasana internet satu dekade lalu yang dianggap lebih sederhana, spontan, dan tidak terlalu dipoles oleh algoritma.

RADARSOLO.COM – Sepuluh tahun setelah 2016 berlalu, tahun tersebut justru kembali ramai dibicarakan di media sosial. Warganet menggunakan istilah “2026 Is the New 2016” untuk menggambarkan kembalinya berbagai tren, gaya visual, musik, hingga suasana internet yang identik dengan satu dekade lalu.

Tren tersebut membuat berbagai konten bernuansa 2016 kembali memenuhi media sosial. Foto lama, filter kamera, gaya berpakaian, lagu populer, hingga meme yang pernah viral kembali digunakan. Sejumlah pengguna bahkan membagikan foto mereka pada 2016 dan membandingkannya dengan kondisi pada 2026.

Fenomena ini bukan sekadar mengunggah foto lama. Ada keinginan untuk menghadirkan kembali gaya dan suasana internet yang dianggap berbeda dari media sosial saat ini. Tren tersebut mulai menyebar sejak akhir 2025 dan semakin ramai setelah memasuki 2026.

Baca Juga: Kenapa Warga Selalu Mengecat Gapura Jelang 17 Agustus? Ternyata Ada Maknanya

Kembali ke Gaya Internet 2016

Bagi pengguna yang mengingat era tersebut, media sosial 2016 memiliki ciri visual yang cukup khas. Foto dengan kualitas kamera ponsel yang belum terlalu tinggi, filter warna yang kuat, hingga penggunaan filter Snapchat seperti telinga anjing dan mahkota bunga menjadi bagian dari gaya internet saat itu.

Konten yang dibuat juga cenderung lebih spontan. Pengguna membagikan foto bersama teman, kegiatan sehari-hari, atau momen yang tidak selalu terlihat sempurna.

Hal tersebut berbeda dengan banyak konten media sosial saat ini yang sering dibuat melalui proses pengambilan gambar, penyuntingan, hingga pemilihan konsep sebelum diunggah.

Karena itu, dalam tren “2026 Is the New 2016”, pengguna tidak hanya menghidupkan kembali tampilan lama, tetapi juga mencoba menghadirkan kesan internet yang lebih sederhana dan tidak terlalu dipoles.

Baca Juga: Resep Tumpeng Merah Putih 17 Agustus, Sajian Unik untuk Merayakan Hari Kemerdekaan

Bukan Cuma Foto, Tren Lama Ikut Kembali

Nostalgia tersebut juga terlihat dari berbagai budaya populer yang kembali disebut. Tantangan seperti Bottle Flip dan Mannequin Challenge, meme lama, hingga permainan seperti Pokémon Go ikut muncul dalam berbagai konten throwback.

Pengguna media sosial dapat membuat video yang membandingkan kehidupan 2016 dan 2026, mengunggah kembali foto lama, atau menggunakan gaya penyuntingan yang menyerupai konten satu dekade lalu.

Ada pula konten yang sekadar menggunakan kalimat “2026 feels like 2016” untuk menunjukkan bahwa suatu momen pada tahun ini terasa seperti mengulang suasana lama.

Mengapa 2016 yang Dipilih?

Tahun 2016 memiliki posisi khusus dalam budaya internet. Saat itu, berbagai platform media sosial sudah berkembang luas, tetapi bentuk konten dan algoritma belum seperti sekarang.

Bagi sebagian pengguna, periode tersebut dikenang sebagai masa ketika media sosial terasa lebih personal. Foto tidak selalu dibuat untuk mengejar performa, sementara tren internet dapat menyebar melalui meme, video pendek, dan tantangan yang dilakukan bersama-sama.

Nostalgia tersebut juga muncul di tengah perubahan besar dunia digital. Media sosial saat ini semakin dipengaruhi algoritma, konten yang diproduksi secara massal, dan teknologi kecerdasan buatan. Sejumlah pengamat melihat tren kembali ke 2016 sebagai bentuk keinginan menghadirkan kembali internet yang terasa lebih sederhana dan spontan.

Tidak Semua Orang Ingin Kembali ke 2016

Meski ramai, tren ini tentu tidak berarti semua orang benar-benar ingin kembali hidup di tahun 2016.

Sebagian pengguna justru menganggap nostalgia tersebut sebagai lelucon internet. Bahkan, ada pula yang mengingatkan bahwa 2016 bukan tahun tanpa masalah. Tren nostalgia cenderung mengambil bagian yang menyenangkan dari masa lalu dan meninggalkan berbagai persoalan yang pernah terjadi pada periode tersebut.

Dengan demikian, “2026 Is the New 2016” lebih tepat dipahami sebagai perayaan terhadap estetika dan budaya internet satu dekade lalu, bukan keinginan untuk benar-benar mengulang seluruh kehidupan pada 2016.

Sepuluh tahun kemudian, foto buram, filter lama, meme klasik, dan gaya media sosial yang lebih spontan kembali mendapatkan tempat. Mungkin bukan karena 2016 benar-benar lebih baik, tetapi karena di tengah cepatnya perubahan internet, sesuatu yang pernah terasa sederhana tiba-tiba terlihat menarik untuk dihidupkan kembali. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa 2016 media sosial konten tren