RADARSOLO.COM - Bayangkan pagi hari membuka laptop bukan di kamar atau kantor, melainkan di sebuah kafe dengan pemandangan kota yang berbeda. Setelah pekerjaan selesai, sore harinya bisa dipakai untuk jalan-jalan, mencoba kuliner lokal, atau sekadar menikmati suasana tempat baru.
Bagi sebagian anak muda yang bekerja secara remote, hal seperti ini bukan lagi sekadar angan-angan. Muncul gaya hidup yang dikenal sebagai nomad domestik, yaitu kebiasaan bekerja sambil berpindah-pindah tempat tetapi masih berada di dalam negeri.
Kalau selama ini istilah digital nomad lebih sering dikaitkan dengan orang yang bekerja sambil keliling berbagai negara, nomad domestik memiliki lingkup yang lebih dekat. Seseorang bisa tetap bekerja dari Indonesia tetapi sesekali berpindah kota untuk mencari suasana baru.
Baca Juga: Suka Gaya Fesyen Minimalis hingga Trendy? Ini 6 Brand Lokal yang Bisa Jadi Pilihan
Misalnya, pekerja yang tinggal di Solo memilih menghabiskan beberapa hari bekerja dari Yogyakarta. Setelah pekerjaan selesai, waktu luang bisa digunakan untuk menikmati suasana kota, mencoba makanan yang belum pernah dicoba, atau sekadar mencari tempat nongkrong baru.
Besoknya, bukan tidak mungkin kembali bekerja dari kota asal. Tidak perlu pindah rumah, tidak perlu mengundurkan diri dari pekerjaan, cukup membawa laptop dan memastikan koneksi internet tetap aman.
Gaya hidup seperti ini semakin menarik karena pekerjaan tidak selalu harus dilakukan dari satu tempat. Selama tugas bisa diselesaikan secara daring, lokasi kerja menjadi lebih fleksibel.
Bahkan, bagi sebagian orang, mengganti tempat kerja sesekali bisa menjadi cara sederhana untuk mengusir rasa bosan. Rutinitas yang sama setiap hari terkadang membuat pekerjaan terasa monoton. Berpindah tempat memberikan suasana baru tanpa harus benar-benar meninggalkan pekerjaan.
Baca Juga: Hari Malas Sedunia, Kenapa Kita Sesekali Butuh Tidak Melakukan Apa-Apa?
Nomad domestik juga menawarkan kesempatan untuk menikmati sebuah kota dengan cara yang berbeda. Kalau biasanya datang ke suatu daerah hanya untuk liburan selama akhir pekan, kali ini seseorang bisa tinggal lebih lama karena tetap memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan.
Pagi sampai sore digunakan untuk bekerja, sedangkan waktu setelahnya bisa dipakai untuk mengeksplorasi daerah sekitar. Jadi, tidak perlu menunggu cuti panjang hanya untuk menikmati kota lain.
Meski terdengar menyenangkan, bukan berarti tinggal dan bekerja berpindah-pindah tempat selalu mudah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, mulai dari koneksi internet, tempat yang nyaman untuk bekerja, hingga biaya transportasi dan penginapan.
Belum lagi godaan untuk malah jalan-jalan ketika pekerjaan sedang menumpuk. Karena itu, kemampuan mengatur waktu menjadi bagian penting dalam menjalani gaya hidup ini.
Jangan sampai niat awalnya mencari suasana baru untuk meningkatkan produktivitas, tetapi pekerjaan justru terbengkalai karena terlalu sibuk menikmati tempat baru. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno