RADARSOLO.COM - Predikat cumlaude menjadi salah satu pencapaian yang banyak diincar mahasiswa selama menjalani perkuliahan. Mendapatkan IPK tinggi hingga memenuhi syarat kelulusan dengan predikat tersebut sering dianggap sebagai bukti keberhasilan dalam menjalani pendidikan.
Tidak sedikit mahasiswa yang sejak awal kuliah sudah memasang target untuk lulus dengan predikat cumlaude. Berbagai cara dilakukan, mulai dari menjaga nilai setiap semester, aktif mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas tepat waktu, hingga memilih kegiatan di luar kelas dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap akademik.
Bagi sebagian mahasiswa, target tersebut dapat menjadi motivasi untuk lebih disiplin. Adanya tujuan yang jelas membuat mereka memiliki dorongan untuk mempertahankan nilai dan menyelesaikan perkuliahan dengan hasil maksimal.
Baca Juga: Menunda Wisuda Bukan Berarti Menunda Kelulusan, Kenali Istilah Graduation Deferral
Namun, mengejar predikat cumlaude juga dapat menghadirkan tekanan tersendiri. Nilai yang turun sedikit saja terkadang dianggap sebagai kegagalan, terutama bagi mahasiswa yang sudah menetapkan standar akademik sangat tinggi untuk dirinya sendiri.
Tekanan tersebut juga dapat muncul ketika mahasiswa mulai membandingkan pencapaiannya dengan teman. Ketika melihat teman mendapatkan IPK lebih tinggi, beasiswa, atau bahkan lulus lebih cepat, sebagian mahasiswa dapat merasa tertinggal meskipun sebenarnya telah memiliki pencapaian yang baik.
Kondisi ini semakin mudah terjadi ketika pencapaian akademik dibagikan di media sosial. Unggahan mengenai IPK tinggi, predikat cumlaude, hingga foto wisuda dapat menciptakan gambaran bahwa keberhasilan mahasiswa selalu identik dengan prestasi akademik.
Baca Juga: Patungan hingga Beli Bunga di Pasar, Begini Cara Mahasiswa UNS Menyiasati 'Kondangan Akademik'
Padahal, pengalaman mahasiswa selama kuliah tidak selalu sama. Ada yang mampu mempertahankan IPK tinggi sekaligus aktif dalam organisasi, mengikuti perlombaan, magang, atau bekerja paruh waktu. Ada pula yang harus memilih fokus pada akademik karena memiliki keterbatasan waktu dan kondisi tertentu.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan selama kuliah tidak dapat dilihat hanya dari satu indikator. Kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, mengatur waktu, membangun relasi, serta pengalaman menghadapi berbagai persoalan juga dapat menjadi bekal penting setelah lulus.
Terlebih, kehidupan setelah kuliah tidak hanya membutuhkan kemampuan memperoleh nilai tinggi. Dunia kerja juga menuntut kemampuan menerapkan pengetahuan, menyelesaikan masalah, beradaptasi, dan bekerja bersama orang lain.
Predikat cumlaude sebaiknya dipandang sebagai salah satu bentuk pencapaian akademik, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang mahasiswa.
Bagi mahasiswa yang memang memiliki target cumlaude, mengejar prestasi tersebut tentu bukan sesuatu yang salah. Target akademik dapat menjadi motivasi selama tidak membuat seseorang mengabaikan kondisi diri atau menganggap pencapaian orang lain sebagai standar yang harus selalu diikuti. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno