Loud Budgeting, Tren Gen Z yang Tak Lagi Gengsi Bilang “Nggak Dulu”

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:00 WIB
Loud Badgeting menggambarkan kebiasaan seseorang yang berani terbuka mengenai batasan keuangannya dan menolak pengeluaran yang tidak sesuai dengan prioritas.
Loud badgeting menggambarkan kebiasaan seseorang yang berani terbuka mengenai batasan keuangannya dan menolak pengeluaran yang tidak sesuai dengan prioritas.

RADARSOLO.COM - Pernah diajak nongkrong di kafe, makan di restoran, atau ikut konser, tetapi sebenarnya sedang ingin menghemat uang? Kalau biasanya orang mencari alasan agar tidak terlihat sedang berhemat, kini ada tren yang justru mendorong seseorang untuk mengatakannya secara terus terang.

Tren tersebut dikenal sebagai loud budgeting. Istilah ini menggambarkan kebiasaan seseorang yang berani terbuka mengenai batasan keuangannya dan menolak pengeluaran yang tidak sesuai dengan prioritas.

Loud budgeting sempat ramai di media sosial setelah dipopulerkan komedian Lukas Battle melalui TikTok. Tren ini muncul sebagai semacam perlawanan terhadap budaya konsumtif dan gaya hidup mewah yang membuat seseorang merasa harus mengeluarkan banyak uang demi terlihat mampu.

Baca Juga: “2026 Is the New 2016”, Kenapa Warganet Kembali Merindukan Era Media Sosial Lama?

Menariknya, loud budgeting bukan berarti seseorang tidak memiliki uang. Justru, seseorang bisa saja memiliki cukup uang untuk membeli atau mengikuti sesuatu, tetapi memilih menyimpannya karena memiliki tujuan finansial lain.

Misalnya, ketika teman mengajak makan di restoran yang cukup mahal, seseorang bisa saja mengatakan, “Aku skip dulu ya, bulan ini lagi fokus nabung.” Kalimat sederhana tersebut menjadi bagian dari loud budgeting karena tidak lagi berusaha menutupi alasan sebenarnya.

Tren ini juga berkaitan dengan fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang banyak dialami anak muda. Keinginan untuk selalu ikut tren, nongkrong di tempat populer, membeli barang terbaru, atau menghadiri berbagai acara terkadang membuat pengeluaran sulit dikendalikan.

Dengan loud budgeting, keputusan untuk tidak ikut justru dianggap sebagai bentuk keberanian. Seseorang tidak perlu merasa malu hanya karena memilih menjaga kondisi keuangannya.

Baca Juga: Kenapa Tiba-Tiba Ingin Punya Pacar di Malam Hari? Bisa Jadi Ada Hubungannya dengan Attachment Anxiety

Selain membantu mengendalikan pengeluaran, keterbukaan mengenai kondisi finansial juga dapat membuat seseorang lebih mudah menetapkan batasan dalam pergaulan. Daripada terus mengikuti gaya hidup teman dan menyesal ketika melihat saldo rekening, seseorang bisa menentukan pengeluaran berdasarkan kemampuan dan tujuan pribadinya.

Contohnya, ketika mendapat ajakan liburan, seseorang bisa mengatakan, “Aku belum bisa ikut karena sedang nabung buat beli laptop.” Penolakan tersebut tidak perlu disertai alasan yang dibuat-buat.

Akan tetapi, loud budgeting bukan berarti harus menceritakan seluruh kondisi keuangan kepada orang lain. Intinya adalah berani mengatakan tidak terhadap pengeluaran yang memang tidak menjadi prioritas tanpa merasa perlu membuktikan bahwa diri sendiri mampu secara finansial.

Baca Juga: “Cowok Bingung” Lagi Ramai di Media Sosial, Sebenarnya Seperti Apa?

Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, penolakan juga bisa disertai alternatif. Ketika teman mengajak nongkrong di kafe mahal, misalnya, bisa menawarkan untuk bertemu di tempat yang lebih murah atau sekadar membeli minuman lalu mengobrol di taman.

Dengan begitu, yang ditolak bukan pertemanannya, melainkan pengeluarannya. (annas rohmanda purbaningrum)

Editor : Kabun Triyatno
annas rohmanda purbaningrum loud badgeting tren fomo keuangan