RADARSOLO.COM – Tren baru bisa muncul hampir setiap hari di media sosial. Hari ini orang ramai membeli barang tertentu, besok muncul rekomendasi tempat makan yang sedang populer, lalu berganti lagi dengan gaya berpakaian, olahraga, atau kebiasaan baru yang disebut-sebut sebagai gaya hidup ideal.
Di tengah arus tersebut, muncul pembicaraan mengenai conscious living atau gaya hidup dengan lebih sadar. Konsep ini mengajak seseorang untuk tidak langsung mengikuti sesuatu hanya karena sedang populer, tetapi mempertimbangkan terlebih dahulu apakah hal tersebut memang sesuai dengan kebutuhan, nilai, dan keinginan pribadi.
Istilah conscious living kembali dibahas seiring semakin mudahnya seseorang terpapar tren melalui media sosial. Dilansir dari ANTARA, konsep tersebut berkaitan dengan kesadaran terhadap pilihan dan alasan di balik tindakan yang dilakukan, termasuk ketika seseorang membeli barang atau mengikuti aktivitas tertentu.
Baca Juga: Tak Harus Mahal, Ini Pilihan Layanan Konseling Kesehatan Mental yang Bisa Diakses Masyarakat
Bukan Berarti Harus Anti-Tren
Conscious living bukan berarti seseorang harus menolak semua tren. Mengikuti tren tetap diperbolehkan selama memang disukai, bermanfaat, dan sesuai dengan kondisi masing-masing.
Misalnya, seseorang membeli botol minum yang sedang populer karena memang membutuhkan wadah minum baru. Keputusan tersebut berbeda jika seseorang membelinya hanya karena melihat hampir semua orang di media sosial menggunakan barang yang sama.
Hal serupa berlaku untuk aktivitas. Seseorang dapat mulai berlari karena memang ingin berolahraga, bukan semata-mata karena teman atau kreator favoritnya sedang menjalani kebiasaan tersebut.
Dengan demikian, yang menjadi perhatian bukan apa yang dilakukan, melainkan alasan di balik pilihan tersebut.
Baca Juga: Kapan Kuliner Nusantara Bisa Punya Emoji Sendiri di Keyboard?
Media Sosial Membuat Tren Mudah Diikuti
Media sosial membuat berbagai tren berpindah dari satu orang ke orang lain dalam waktu singkat. Algoritma terus menampilkan produk, aktivitas, tempat, maupun gaya hidup yang sedang ramai sehingga sesuatu yang awalnya tidak terpikirkan dapat tiba-tiba terasa seperti kebutuhan.
Situasi tersebut juga dapat berkaitan dengan fear of missing out atau FOMO, yaitu kekhawatiran tertinggal dari sesuatu yang sedang dilakukan orang lain.
Ketika melihat banyak orang membeli barang yang sama atau mencoba aktivitas tertentu, seseorang bisa merasa perlu melakukan hal serupa agar tidak merasa tertinggal. Padahal, apa yang terlihat populer di media sosial belum tentu sesuai dengan kebutuhan setiap orang.
Conscious living kemudian menawarkan jeda sebelum mengambil keputusan.
Berhenti Sebentar Sebelum Membeli
Salah satu penerapan paling sederhana adalah memberikan waktu sebelum membeli sesuatu yang sedang viral.
Alih-alih langsung menekan tombol pembayaran, seseorang dapat bertanya, “Apakah barang ini memang saya butuhkan?” atau “Apakah saya akan benar-benar menggunakannya?”
Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk membuat seseorang merasa bersalah ketika ingin membeli sesuatu. Tujuannya adalah memastikan keputusan tersebut berasal dari kebutuhan atau keinginan pribadi, bukan sekadar dorongan karena melihat tren.
Kebiasaan serupa juga dapat diterapkan pada penggunaan media sosial. Tidak semua aktivitas harus diikuti dan tidak semua pengalaman harus dibagikan.
Makan bersama keluarga, berjalan-jalan, membaca buku, atau menghabiskan waktu dengan teman tetap dapat dinikmati meskipun tidak diabadikan menjadi konten.
Tidak Harus Mengubah Hidup Secara Drastis
Conscious living juga tidak mengharuskan seseorang mengubah seluruh gaya hidup secara tiba-tiba. Konsep tersebut justru dapat dimulai dari keputusan sederhana sehari-hari.
Mulai dari memilih barang yang benar-benar digunakan, menentukan aktivitas berdasarkan prioritas, hingga berani mengatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
Pada akhirnya, hidup secara sadar bukan tentang menjadi berbeda dari orang lain atau selalu menolak sesuatu yang sedang populer. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno