Guilt Tripping, Ketika Rasa Bersalah Dipakai untuk Memengaruhi Seseorang

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 07:45 WIB
Guilt tripping merupakan perilaku ketika seseorang berusaha membuat orang lain merasa bersalah agar mengikuti keinginan atau tuntutannya.  (AI Generated)
Guilt tripping merupakan perilaku ketika seseorang berusaha membuat orang lain merasa bersalah agar mengikuti keinginan atau tuntutannya. (AI Generated)

RADARSOLO.COM - Merasa bersalah karena tidak melakukan sesuatu yang orang lain inginkan? Misalnya, ketika menolak ajakan teman kemudian muncul kalimat, “Kalau kamu memang peduli, harusnya kamu mau.”

Kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana. Jika dilakukan berulang kali untuk membuat seseorang mengubah keputusan, perilaku tersebut dapat disebut sebagai guilt tripping.

Guilt tripping merupakan perilaku ketika seseorang berusaha membuat orang lain merasa bersalah agar mengikuti keinginan atau tuntutannya. Rasa bersalah yang muncul kemudian menjadi semacam tekanan emosional untuk memengaruhi keputusan seseorang.

Baca Juga: Bukan Berarti Bodoh, Ini Alasan Kamu Bisa Lupa Materi yang Sudah Dipelajari

Dalam kehidupan sehari-hari, guilt tripping bisa muncul dalam berbagai hubungan, mulai dari pertemanan, keluarga, pasangan, hingga lingkungan kerja. Bentuknya pun tidak selalu berupa perkataan kasar.

Contohnya, seorang teman mengajak pergi ketika kita sedang ingin beristirahat. Saat ditolak, ia berkata, “Ya sudah, berarti aku memang nggak penting buat kamu.” Kalimat tersebut tidak secara langsung memaksa, tetapi dapat membuat seseorang merasa bersalah karena telah menolak.

Contoh lainnya dapat terjadi dalam keluarga. Seseorang mungkin mengatakan, “Orang tua sudah melakukan banyak hal untuk kamu, masa sekarang dimintai bantuan saja tidak mau?” Kalimat tersebut bisa membuat seseorang merasa memiliki utang emosional sehingga akhirnya mengiyakan permintaan meskipun sebenarnya tidak mampu.

Baca Juga: Kenapa Kita Jarang Mengungkapkan Perasaan Secara Langsung? Bahasa Indonesia Punya Banyak "Bahasa Kalbu"

Guilt tripping juga dapat muncul dalam hubungan romantis. Misalnya, seseorang ingin memiliki waktu sendiri, tetapi pasangannya justru mengatakan, “Kalau kamu benar-benar sayang, kamu pasti mau menemani aku.”

Dalam kondisi seperti itu, persoalannya bukan sekadar permintaan untuk ditemani. Rasa bersalah digunakan untuk membuat seseorang merasa bahwa penolakan berarti tidak sayang, tidak peduli, atau tidak menghargai hubungan.

Walaupun begitu, tidak setiap perkataan yang membuat seseorang merasa bersalah otomatis merupakan guilt tripping. Dalam hubungan yang sehat, seseorang tetap dapat menyampaikan kekecewaan atau perasaannya tanpa menjadikan rasa bersalah sebagai alat untuk mengendalikan keputusan orang lain.

Perbedaannya dapat dilihat dari pola yang muncul. Guilt tripping cenderung membuat seseorang merasa bahwa dirinya adalah pihak yang buruk hanya karena menetapkan batas atau menolak sebuah permintaan.

Baca Juga: Lebih Pilih Rebahan daripada Healing? Mungkin Kamu Seorang Homebody

Jika terus terjadi, perilaku tersebut dapat membuat seseorang kesulitan mengatakan “tidak”. Ia mungkin mulai mengutamakan keinginan orang lain karena takut dianggap egois, tidak peduli, atau menjadi penyebab orang lain kecewa.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri. Ia melakukan sesuatu bukan karena benar-benar menginginkannya, melainkan karena takut menghadapi rasa bersalah atau reaksi emosional dari orang lain.

Lalu, bagaimana cara menghadapi guilt tripping?

Baca Juga: Merasa Tidak Pantas Meski Berprestasi? Ini Penyebab Impostor Syndrome yang Jarang Disadari

Langkah pertama adalah menyadari bahwa mengatakan “tidak” tidak otomatis membuat seseorang menjadi jahat atau tidak peduli. Setiap orang memiliki batas, kebutuhan, dan kemampuan yang berbeda.

Seseorang juga tidak harus memberikan penjelasan panjang setiap kali menolak sesuatu. Jawaban sederhana seperti, “Aku belum bisa membantu sekarang,” atau “Aku memahami kamu kecewa, tetapi keputusanku tetap sama,” dapat digunakan untuk menyampaikan batas dengan jelas.

Selain itu, penting untuk melihat pola hubungan. Jika seseorang berulang kali menggunakan rasa bersalah untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, persoalannya mungkin bukan lagi sekadar salah komunikasi. (annas rohmanda purbaningrum)

 

Editor : Kabun Triyatno
annas rohmanda purbaningrum guilt tripping merasa bersalah manipulasi psikologis