RADARSOLO.COM – Pernah menyimpan resep karena terlihat enak, tetapi tidak pernah memasaknya? Atau memasukkan puluhan tempat wisata ke daftar simpan, padahal belum ada rencana bepergian ke sana?
Kebiasaan tersebut cukup akrab bagi pengguna media sosial. Satu konten menarik dapat langsung disimpan untuk dilihat kembali suatu saat nanti. Masalahnya, “suatu saat” tersebut terkadang tidak pernah benar-benar datang.
Di TikTok, Instagram, maupun Pinterest, fitur simpan atau bookmark membuat pengguna dapat mengumpulkan berbagai konten dalam satu tempat. Mulai dari rekomendasi makanan, ide pakaian, tempat wisata, resep, olahraga, hingga berbagai tips kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: “August Theory” Viral di TikTok, Benarkah Agustus Jadi Bulan Balikan dengan Mantan?
Bukan Berarti Kontennya Tidak Berguna
Menyimpan konten tidak selalu berarti seseorang benar-benar berniat melakukannya dalam waktu dekat. Ada kalanya pengguna hanya ingin menghindari kehilangan informasi yang dianggap menarik.
Misalnya, ketika melihat video resep makanan yang ingin dicoba, seseorang mungkin belum memiliki bahan atau waktu untuk memasaknya. Menyimpan video menjadi cara sederhana agar konten tersebut dapat ditemukan kembali ketika dibutuhkan.
Hal serupa terjadi ketika menemukan rekomendasi tempat makan. Pengguna mungkin belum memiliki rencana berkunjung, tetapi tetap menyimpannya karena siapa tahu suatu hari membutuhkan referensi.
Baca Juga: Agustus Tiba, “august” Taylor Swift Kembali Menghantui Media Sosial
“Nanti Aku Coba” yang Menumpuk
Persoalannya muncul ketika jumlah konten yang disimpan semakin banyak.
Satu video resep berubah menjadi lima. Rekomendasi tempat wisata bertambah menjadi puluhan. Ide olahraga ikut masuk, disusul inspirasi dekorasi kamar, rekomendasi buku, hingga berbagai tips produktivitas.
Semakin sering menemukan konten menarik, semakin panjang pula daftar simpanan.
Algoritma Ikut Membuatnya Bertambah
Media sosial juga membuat kebiasaan tersebut semakin mudah terjadi. Konten baru muncul terus-menerus melalui halaman rekomendasi sehingga pengguna tidak pernah benar-benar kehabisan sesuatu untuk disimpan.
Ketika satu video menarik muncul, pengguna dapat langsung menekan tombol simpan tanpa perlu mengambil keputusan lebih jauh. Akibatnya, pengguna dapat menyimpan jauh lebih banyak konten daripada yang mampu mereka konsumsi atau praktikkan.
Daftar simpanan pun akhirnya menjadi kumpulan berbagai versi diri yang ingin dicoba: ingin memasak seperti ini, berpakaian seperti itu, mengunjungi tempat tersebut, membaca buku tertentu, atau mencoba rutinitas baru.
Dari “Harus Dilakukan” Menjadi “Siapa Tahu”
Menariknya, konten yang disimpan juga tidak selalu harus diwujudkan.
Seseorang bisa menyimpan video perjalanan tanpa pernah benar-benar pergi. Resep yang terlihat lezat dapat tetap berada di daftar simpanan meski tidak pernah dimasak. Begitu pula dengan berbagai inspirasi pakaian yang akhirnya hanya menjadi referensi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa fungsi save tidak selalu berkaitan dengan tindakan. Kadang-kadang, pengguna hanya ingin memiliki akses kembali terhadap sesuatu yang pernah menarik perhatian.
Jadi, kalau daftar simpanan sudah berisi puluhan resep, ratusan video, atau berbagai rekomendasi yang belum pernah dilakukan, tidak perlu merasa aneh.
Bisa jadi, tombol save memang bukan janji bahwa sesuatu akan dilakukan. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno