RADARSOLO.COM - Pernah merasa ingin langsung pulang dan menyendiri setelah seharian bertemu banyak orang? Bahkan setelah acara selesai, rasanya tidak ingin berbicara dengan siapa pun, membalas pesan, atau sekadar membuka media sosial.
Di kalangan anak muda, kondisi tersebut sering disebut sebagai social battery yang habis. Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan energi seseorang dalam menjalani interaksi sosial. Ketika merasa “baterainya habis”, seseorang bisa membutuhkan waktu untuk menyendiri sebelum kembali beraktivitas seperti biasa.
Bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang membutuhkan perhatian, energi, serta kemampuan untuk terus merespons lingkungan. Setelah menjalani aktivitas sosial yang padat, seseorang dapat merasa lelah dan membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Baca Juga: Tak Harus Mahal, Ini Pilihan Layanan Konseling Kesehatan Mental yang Bisa Diakses Masyarakat
Perlu diingat, social battery bukan istilah medis atau diagnosis psikologis. Oleh karena itu, seseorang yang sering membutuhkan waktu sendiri setelah bersosialisasi tidak otomatis berarti mengalami masalah kesehatan mental.
Kebutuhan untuk menyendiri juga tidak selalu berkaitan dengan seseorang yang mengidentifikasi dirinya sebagai introvert. Orang yang ekstrovert pun dapat merasa lelah setelah menjalani interaksi sosial yang panjang. Situasi, jenis kegiatan, jumlah orang yang ditemui, serta kondisi emosional seseorang dapat memengaruhi seberapa melelahkan sebuah interaksi.
Misalnya, bertemu beberapa teman dekat mungkin terasa menyenangkan dan tidak terlalu menguras energi. Sebaliknya, menghadiri acara besar dengan banyak orang yang tidak dikenal bisa terasa jauh lebih melelahkan.
Baca Juga: Kerja Sambil Pindah Kota, Mengenal Tren Nomad Domestik di Kalangan Anak Muda
Rasa ingin menyendiri setelah bersosialisasi pada dasarnya bukan sesuatu yang perlu langsung dikhawatirkan. Selama seseorang masih dapat menjalankan aktivitas sehari-hari, tetap memiliki hubungan sosial, dan dapat kembali berinteraksi setelah mendapatkan waktu untuk beristirahat, kondisi tersebut umumnya masih berada dalam batas yang wajar.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika keinginan untuk menghindari interaksi sosial mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang terus-menerus menghindari teman, keluarga, kuliah, pekerjaan, atau aktivitas yang sebelumnya dapat dijalani tanpa masalah.
Kondisi juga patut diperhatikan apabila seseorang sebenarnya ingin berinteraksi dengan orang lain, tetapi merasa sangat takut, cemas, atau tertekan setiap kali harus melakukannya. Dalam situasi seperti ini, persoalannya mungkin bukan sekadar membutuhkan waktu untuk mengisi kembali “baterai sosial”.
Baca Juga: Kangen Seseorang sampai Kebawa Mimpi, Kenapa Bisa Terjadi?
Perubahan yang berlangsung terus-menerus juga dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang mengalami tekanan psikologis. Terlebih jika kelelahan sosial muncul bersamaan dengan perubahan suasana hati, gangguan tidur, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, atau kesulitan menjalankan rutinitas sehari-hari.
Penting untuk tidak buru-buru menyimpulkan kondisi diri hanya berdasarkan istilah yang populer di media sosial. Mengatakan “social battery-ku habis” bisa menjadi cara sederhana untuk menjelaskan bahwa seseorang sedang membutuhkan waktu istirahat, tetapi istilah tersebut tidak dapat digunakan untuk menentukan kondisi kesehatan mental seseorang.
Memberikan waktu untuk diri sendiri setelah bersosialisasi pun bukan berarti seseorang antisosial. Menikmati waktu sendirian dapat menjadi bagian dari cara seseorang beristirahat dan mengatur kembali energinya.
Yang terpenting adalah mengetahui batas diri. Jika setelah beristirahat seseorang dapat kembali menjalani aktivitas dan berinteraksi dengan orang lain, tidak ada alasan untuk merasa bersalah karena membutuhkan waktu sendiri.
Namun, jika keinginan untuk menyendiri semakin kuat, berlangsung lama, atau mulai membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menjalani kehidupan sehari-hari, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno