RADARSOLO.COM - Pernah melihat foto suasana tahun 1980-an atau 1990-an, lalu tiba-tiba merasa rindu? Padahal, bisa jadi kamu bahkan belum lahir ketika foto tersebut diambil.
Perasaan seperti ingin kembali ke suatu masa yang sebenarnya tidak pernah dialami sendiri dikenal dengan istilah "anemoia". Istilah ini menggambarkan rasa rindu atau nostalgia terhadap masa lalu yang bukan bagian dari pengalaman pribadi seseorang.
Berbeda dengan nostalgia, anemoia tidak berasal dari kenangan yang pernah dialami. Jika seseorang merasa rindu masa sekolah karena mengingat teman, suasana kelas, atau kegiatan yang pernah dijalani, perasaan tersebut merupakan nostalgia. Sementara itu, orang yang lahir pada era 2000-an tetapi merasa rindu dengan kehidupan tahun 1980-an atau 1990-an dapat mengalami apa yang disebut anemoia.
Baca Juga: Punya Banyak Mimpi, tapi Selalu Menunda? Ternyata Ada Istilahnya
Istilah anemoia diperkenalkan oleh penulis John Koenig melalui proyek The Dictionary of Obscure Sorrows. Proyek tersebut berisi kumpulan istilah yang diciptakan untuk menggambarkan berbagai perasaan manusia yang sulit dijelaskan dengan kata-kata yang sudah ada.
Anemoia kemudian menjadi istilah yang cukup populer di internet, terutama ketika masyarakat semakin mudah mengakses dokumentasi dari berbagai periode sejarah.
Perasaan tersebut bisa muncul ketika seseorang melihat foto lama, menonton film klasik, mendengarkan lagu dari masa tertentu, atau melihat dokumentasi kehidupan masyarakat pada zaman yang berbeda.
Misalnya, seseorang yang lahir pada tahun 2000-an melihat video suasana kota pada dekade 1980-an. Jalanan yang belum dipenuhi kendaraan seperti sekarang, toko-toko dengan desain lama, orang-orang yang beraktivitas tanpa telepon pintar, serta musik yang terdengar dari radio bisa menciptakan kesan bahwa kehidupan pada masa itu terasa lebih sederhana.
Baca Juga: Yakin Ingatannya Benar? Yuk Kenali Apa Itu Mandela Effect
Padahal, orang tersebut tidak pernah benar-benar hidup di dalam situasi tersebut.
Hal yang sama dapat terjadi ketika seseorang menonton film dengan latar tahun 1990-an. Pakaian, kendaraan, rumah, musik, hingga cara orang berkomunikasi dapat membuat masa lalu terasa begitu dekat. Dari situ muncul keinginan untuk merasakan kehidupan pada zaman tersebut.
Salah satu alasan perasaan ini muncul adalah karena manusia memiliki kemampuan untuk membayangkan pengalaman yang tidak pernah dialaminya. Ketika melihat dokumentasi masa lalu, seseorang dapat membangun gambaran mengenai bagaimana rasanya hidup pada masa tersebut.
Media juga memiliki peran besar. Foto dengan warna sepia, suara rekaman lama, musik retro, film klasik, hingga video bergaya vintage di media sosial dapat membuat masa lalu terlihat semakin menarik.
Namun, gambaran tersebut belum tentu menggambarkan kehidupan masa lalu secara utuh.
Ketika melihat foto lama, misalnya, seseorang mungkin hanya melihat pakaian yang dianggap menarik, suasana jalan yang tenang, atau hubungan sosial yang terlihat lebih dekat. Sementara itu, berbagai persoalan pada zaman tersebut seperti keterbatasan teknologi, akses kesehatan, kondisi ekonomi, atau situasi politik tidak selalu terlihat dalam dokumentasi yang dikonsumsi.
Baca Juga: Lebih Pilih Rebahan daripada Healing? Mungkin Kamu Seorang Homebody
Anemoia juga berkaitan dengan romantisasi masa lalu. Masa lalu dapat terlihat lebih indah karena seseorang hanya melihat bagian-bagian tertentu yang menarik baginya.
Fenomena ini semakin mudah ditemukan di era media sosial. Konten mengenai kehidupan tahun 1980-an, 1990-an, bahkan periode yang lebih jauh dapat muncul dalam hitungan detik melalui berbagai platform. Pengguna yang tidak pernah mengalami masa tersebut pun dapat mengenal musik, gaya berpakaian, tempat, dan kebiasaan masyarakat pada zamannya.
Bagi sebagian orang, ketertarikan terhadap masa lalu juga dapat menjadi bentuk pelarian sejenak dari kehidupan modern yang terasa cepat. Keinginan untuk membayangkan kehidupan tanpa notifikasi, media sosial, atau tuntutan untuk selalu terhubung dapat membuat masa lalu terlihat lebih tenang. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno