RADARSOLO.COM – Ketika memiliki uang lebih, pilihan untuk menggunakannya tidak selalu berakhir pada barang baru. Sebagian orang justru memilih membeli tiket konser, mencoba restoran yang sedang ramai, pergi berlibur, mengikuti kelas atau workshop, hingga menghabiskan akhir pekan dengan staycation.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi tidak selalu berkaitan dengan kepemilikan barang. Pengalaman juga semakin dianggap sebagai sesuatu yang layak dibeli.
Perubahan tersebut sering dikaitkan dengan konsep experience economy atau ekonomi pengalaman. Dalam konsep ini, konsumen tidak hanya mempertimbangkan produk atau jasa yang dibeli, tetapi juga pengalaman yang diperoleh selama menggunakannya.
Baca Juga: Agustus Banyak Promo, Begini Cara Brand Memanfaatkan Momen Kemerdekaan
Pengalaman Menjadi Bagian dari Konsumsi
Membeli tiket konser, misalnya, tidak membuat seseorang membawa pulang benda seperti ketika membeli pakaian atau aksesori. Namun, uang yang dikeluarkan memberikan kesempatan untuk menikmati pertunjukan, bertemu orang lain, dan menjadi bagian dari suasana yang hanya terjadi pada waktu tertentu.
Hal serupa berlaku pada perjalanan. Seseorang mungkin menghabiskan lebih banyak uang untuk pergi ke kota atau negara lain dibandingkan membeli barang tertentu. Namun, perjalanan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda, mulai dari mengunjungi tempat baru, mencoba makanan khas, hingga melakukan aktivitas yang tidak bisa dilakukan setiap hari.
Karena itu, nilai sebuah pengeluaran tidak selalu diukur dari barang apa yang berhasil dimiliki, tetapi juga dari pengalaman apa yang diperoleh.
Baca Juga: Selain Merah Putih, Kenapa Bulan Agustus Selalu Identik dengan Umbul-Umbul?
Media Sosial Ikut Mendorong Tren
Media sosial turut membuat pengalaman semakin terlihat sebagai bagian dari gaya hidup. Foto konser, video perjalanan, rekomendasi restoran, hingga dokumentasi mengikuti workshop dapat muncul di linimasa dan menjadi inspirasi bagi pengguna lain.
Pengalaman kemudian tidak hanya dinikmati secara langsung, tetapi juga dapat dibagikan melalui konten.
Namun, hal tersebut tidak selalu berarti seseorang melakukan aktivitas hanya untuk dipamerkan. Media sosial juga menjadi tempat untuk mencari referensi sebelum memilih pengalaman yang ingin dilakukan.
Seseorang dapat melihat ulasan konser sebelum membeli tiket, mencari rekomendasi tempat wisata, atau menonton video mengenai restoran sebelum memutuskan berkunjung. Konten digital akhirnya membantu konsumen menentukan pengalaman yang dianggap sesuai dengan minat dan anggaran.
Bukan Berarti Barang Tidak Lagi Diminati
Meningkatnya perhatian terhadap pengalaman bukan berarti masyarakat berhenti membeli barang. Barang tetap dibutuhkan dan memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Perbedaannya terletak pada cara seseorang menentukan prioritas pengeluaran. Ketika memiliki anggaran terbatas, misalnya, seseorang mungkin lebih memilih menggunakan uang untuk aktivitas yang sudah lama diinginkan daripada membeli barang baru yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Pilihan tersebut juga berkaitan dengan tren konsumsi yang semakin mempertimbangkan nilai dari sebuah pengeluaran. Barang yang tahan lama, memiliki fungsi jelas, atau benar-benar dibutuhkan tetap dapat dianggap lebih berharga dibandingkan sesuatu yang hanya dibeli karena sedang populer.
Baca Juga: Kapan Kuliner Nusantara Bisa Punya Emoji Sendiri di Keyboard?
Dengan demikian, pengalaman dan barang sebenarnya tidak perlu ditempatkan sebagai dua pilihan yang saling bertentangan.
Pengalaman Juga Punya Pertimbangan
Meski pengalaman tidak berbentuk barang yang dapat disimpan di lemari, bukan berarti setiap pengalaman otomatis menjadi pilihan yang lebih baik.
Konser, perjalanan, maupun kulineran tetap membutuhkan biaya. Jika dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan, pengalaman yang menyenangkan justru dapat berubah menjadi beban setelahnya.
Karena itu, prinsip memilih berdasarkan kebutuhan dan kemampuan tetap berlaku.
Pada akhirnya, perubahan ini menunjukkan bahwa cara orang memandang konsumsi semakin beragam. Belanja tidak selalu berarti membawa pulang barang. Tiket konser, perjalanan, makan bersama teman, atau mengikuti aktivitas baru juga dapat menjadi bentuk konsumsi ketika yang dicari bukan kepemilikan, melainkan pengalaman. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno