Jarang Chat tapi Tetap Dekat, Kenali Low Maintenance Friendship

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 07:47 WIB
Low maintenance friendship merujuk pada hubungan pertemanan yang tidak membutuhkan komunikasi atau pertemuan secara intens untuk tetap terasa dekat.
Low maintenance friendship merujuk pada hubungan pertemanan yang tidak membutuhkan komunikasi atau pertemuan secara intens untuk tetap terasa dekat.

RADARSOLO.COM - Punya teman yang sudah berhari-hari, bahkan berbulan-bulan tidak diajak berbincang, tetapi ketika bertemu kembali rasanya tetap dekat? Tidak ada rasa canggung, obrolan langsung mengalir, bahkan bisa kembali bercanda seperti dulu.

Jika pernah mengalaminya, bisa jadi kamu sedang menjalani low maintenance friendship.

Istilah tersebut merujuk pada hubungan pertemanan yang tidak membutuhkan komunikasi atau pertemuan secara intens untuk tetap terasa dekat. Masing-masing orang dapat menjalani kesibukan dan kehidupan pribadinya tanpa harus terus-menerus memberikan kabar.

Baca Juga: Punya Someone to Talk Itu Penting, Nggak Harus Pacar Kok!

Tidak ada tuntutan untuk selalu membalas pesan dengan cepat atau bertemu setiap minggu dalam pertemanan seperti ini. Teman tidak langsung dianggap berubah hanya karena beberapa waktu tidak menghubungi.

Hal tersebut bukan berarti hubungan tidak memiliki perhatian. Justru, ada rasa percaya yang membuat masing-masing pihak memahami bahwa kesibukan bukan berarti kehilangan kepedulian.

Salah satu ciri yang paling mudah dikenali adalah komunikasi yang tidak terlalu sering. Pesan mungkin hanya dikirim sesekali, bahkan percakapan dapat berhenti selama beberapa waktu. Namun, ketika kembali berkomunikasi, hubungan tetap terasa nyaman.

Baca Juga: Mengenal Platonic Soulmate, Sahabat yang Rasanya Sudah Seperti Keluarga

Low maintenance friendship juga biasanya tidak membuat seseorang mudah tersinggung ketika pesan lama dibalas. Ada pemahaman bahwa setiap orang memiliki kegiatan dan prioritas masing-masing.

Kedekatan pun tidak hanya diukur dari frekuensi komunikasi. Teman yang jarang menghubungi bisa saja tetap menjadi orang pertama yang dicari ketika sedang menghadapi masalah. Begitu pula sebaliknya, mereka dapat saling hadir ketika salah satu membutuhkan dukungan.

Hal menarik lainnya adalah rasa nyaman ketika kembali bertemu. Setelah lama tidak bertatap muka, percakapan tidak harus dimulai dari awal. Cerita-cerita lama masih bisa menjadi bahan bercanda, sementara obrolan baru tetap dapat mengalir tanpa banyak basa-basi.

Baca Juga: Bukan Ghosting atau Situationship, Gen Z Kini Kenalan dengan Tren Kencan Wildflowering

Kondisi tersebut menjadi semakin relevan ketika seseorang memasuki usia dewasa. Kesibukan kuliah, pekerjaan, keluarga, hingga kehidupan pribadi membuat waktu untuk bertemu teman semakin terbatas.

Pertemanan yang sehat pun tidak selalu harus dipaksakan agar kembali seperti ketika masih sekolah. Ada kalanya hubungan justru dapat bertahan karena kedua pihak memahami perubahan kehidupan masing-masing.

Walaupun begitu, low maintenance friendship bukan berarti hubungan boleh dibiarkan tanpa usaha sama sekali. Tetap ada bentuk perhatian yang perlu diberikan, terutama ketika teman sedang membutuhkan dukungan.

Mengucapkan selamat ketika teman mendapatkan pencapaian, menanyakan kabar setelah mengetahui ada masalah, atau menyempatkan bertemu ketika memiliki waktu luang tetap menjadi cara sederhana untuk menjaga hubungan. (annas rohmanda purbaningrum)

 

Editor : Kabun Triyatno
annas rohmanda purbaningrum low maintenance friendship pertemanan komunikasi