Nostalgia 2010-an Makin Sering Muncul di Dunia Fashion dan Hiburan

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:59 WIB
Tren fashion dan budaya 2010-an kembali populer di 2026 lewat fenomena "2026 is the new 2016".
Tren fashion dan budaya 2010-an kembali populer di 2026 lewat fenomena "2026 is the new 2016".

RADARSOLO.COM – Ada masa ketika gaya berpakaian 2010-an dianggap ketinggalan zaman. Namun, satu dekade kemudian, berbagai elemen dari era tersebut kembali muncul dalam fashion dan budaya populer.

Pada 2026, nostalgia terhadap 2010-an bahkan berkembang menjadi fenomena tersendiri. Ungkapan “2026 is the new 2016” ramai digunakan untuk menggambarkan kembalinya gaya, foto, musik, hingga suasana internet dari sekitar satu dekade lalu. Fenomena tersebut juga mendapat perhatian dari dunia fashion.

Lantas, mengapa sesuatu yang sempat dianggap kuno kembali terlihat menarik?

Baca Juga: Sound TikTok Berganti Cepat, Kenapa Lagu Bisa Viral Hanya dalam Hitungan Hari?

Ketika Gaya Lama Terasa Baru Lagi

Fashion memang memiliki kecenderungan untuk berputar. Sesuatu yang pernah populer dapat kembali setelah mengalami perubahan bentuk dan dipadukan dengan tren baru.

Beberapa gaya khas 2010-an, seperti pakaian oversized, celana tertentu, aksesori mencolok, hingga estetika indie sleaze, mulai kembali mendapatkan perhatian. WWD juga mencatat bagaimana nostalgia dan pengaruh musik ikut membentuk tren fashion 2026.

Namun, gaya tersebut tidak selalu digunakan persis seperti satu dekade lalu. Generasi sekarang cenderung mengambil elemen tertentu, kemudian menggabungkannya dengan selera masa kini.

Baca Juga: Bukan Sekadar Banyak Penonton, TikTok Live Kini Makin Mengutamakan Kualitas Konten

Dengan kata lain, yang kembali bukan seluruh gaya 2010-an, melainkan versi barunya.

Bukan Hanya Soal Pakaian

Nostalgia 2010-an juga muncul dalam hiburan dan media sosial.

Foto dengan kualitas kamera ponsel lama, filter yang dulu populer, musik dari pertengahan dekade 2010-an, hingga unggahan foto lama kembali dibagikan. Bahkan, budaya internet dari masa tersebut ikut menjadi bahan nostalgia.

Hal ini terasa berbeda dengan nostalgia terhadap era yang lebih jauh. Bagi sebagian pengguna media sosial muda, 2010-an merupakan periode yang masih memiliki jejak digital dan kenangan personal.

Mereka tidak perlu mencari arsip di museum untuk menemukannya. Foto, unggahan, lagu, dan video lama masih tersimpan di internet.

Nostalgia Menjadi Bahan Kreatif

Kembalinya tren lama juga memberikan keuntungan bagi industri kreatif. Desainer, musisi, pembuat film, hingga kreator konten dapat mengambil referensi dari masa lalu dan mengemasnya kembali untuk audiens sekarang.

Dalam fashion, misalnya, pakaian lama dapat dipadukan dengan aksesori modern. Dalam hiburan, karya lama dapat kembali diperbincangkan melalui tren media sosial atau mendapatkan generasi penonton baru.

Nostalgia akhirnya bukan hanya kegiatan mengingat masa lalu, tetapi juga bahan untuk menciptakan sesuatu yang terasa akrab sekaligus baru.

Mengapa Justru 2010-an?

Salah satu alasannya adalah jarak waktunya. Sekitar sepuluh tahun cukup jauh untuk membuat sebuah gaya terasa lama, tetapi cukup dekat sehingga masih mudah dikenali oleh generasi yang pernah mengalaminya.

Bagi mereka yang tumbuh pada era tersebut, tren yang kembali muncul bisa membawa kenangan tertentu. Sementara bagi generasi yang lebih muda, gaya itu justru terlihat seperti sesuatu yang baru.

Itulah sebabnya nostalgia dapat bekerja lintas generasi.

Pada akhirnya, kembalinya tren 2010-an menunjukkan bahwa dunia fashion dan hiburan tidak selalu bergerak maju dengan meninggalkan masa lalu. Kadang-kadang, masa lalu justru menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan tren berikutnya.

Dan mungkin, setelah bosan dengan estetika 2010-an yang dulu dianggap norak, sekarang waktunya kita mengaku: ternyata beberapa di antaranya lumayan keren juga. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa fashion nostalgia gaya tren